Kompas.com - 15/10/2020, 15:46 WIB
Petugas kepolisian mendata peserta aksi sebelum dipulangkan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Polda Metro Jaya memulangkan ratusan peserta aksi yang diamankan dalam aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja. ANTARA FOTO/APRILLIO AKBARPetugas kepolisian mendata peserta aksi sebelum dipulangkan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Polda Metro Jaya memulangkan ratusan peserta aksi yang diamankan dalam aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja.

JAKARTA,KOMPAS.com - Polda Metro Jaya menahan seorang pria yang kedapatan membawa katapel saat mengikuti demo tolak Undang-Undang Cipta Kerja di Jakarta pada Selasa (13/10/2020).

"Ada satu (pedemo) yang kita lakukan penahanan. Mungkin teman-teman sudah tahu satu ada (pedemo) yang bawa ketapel kemarin," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus kepada wartawan di Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Yusri menjelaskan, pria asal Pandegglang, Banten itu termasuk dalam 1.377 orang yang diamankan saat kericuhan unjuk rasa terjadi.

Baca juga: Polda Metro: 10 Pedemo yang Ditangkap Positif Covid-19

Sebagian besar di antara mereka sudah dipulangkan setelah didata kepolisian.

"Dengan syarat kita mendata mereka semua. Kemudian wajib diambil orangtua atau keluarga terdekat serta buat pernyataan tidak mengulangi lagi," katanya.

Sebanyak 1.377 orang diamankan kepolisian yang berada di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

Di antara mereka, polisi mendapati katapel hingga senjata tajam berupa golok yang disembunyikan dari massa tersebut.

"Mereka berani melakukan kerusuhan. Kami razia di dalam tasnya, ada yang bawa katapel dan batu. Bahkan yang diamankan oleh Polres Jakpus ada yang membawa golok," kata Yusri, Rabu kemarin.

Baca juga: Polisi Temukan Katapel hingga Golok dari Pedemo yang Diamankan

Dari hasil pemeriksaan, mereka yang diamankan mengaku mengikuti unjuk rasa karena adanya undangan di media sosial dan diajak teman.

Kini, polisi masih mendalami siapa orang yang mengundang mereka untuk melakukan aksi unjuk rasa hingga terlibat kericuhan.

"Ini yang akan kita selidiki semuanya. Jangan jadikan korban anak-anak kita ini. Anak-anak SMP, SMA yang diajak untuk melakukan (demo)," ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

MRT Jakarta: Banyak Cagar Budaya Jadi Tantangan Pembangunan Fase 2A

MRT Jakarta: Banyak Cagar Budaya Jadi Tantangan Pembangunan Fase 2A

Megapolitan
Penyerangan Geng Motor di Jagakarsa, Bawa Belasan Celurit hingga Seorang Terluka

Penyerangan Geng Motor di Jagakarsa, Bawa Belasan Celurit hingga Seorang Terluka

Megapolitan
Satu Rumah di Tambora Terbakar, Diduga karena Korsleting Kabel Mesin Jahit

Satu Rumah di Tambora Terbakar, Diduga karena Korsleting Kabel Mesin Jahit

Megapolitan
Ketentuan dan Jam Operasional Usaha Pariwisata Selama Ramadhan 2021 di Jakarta

Ketentuan dan Jam Operasional Usaha Pariwisata Selama Ramadhan 2021 di Jakarta

Megapolitan
Dugaan Korupsi Dana Hibah KONI Tangsel, Kejari Kantongi Sejumlah Nama yang Rugikan Negara Rp 1 Miliar Lebih

Dugaan Korupsi Dana Hibah KONI Tangsel, Kejari Kantongi Sejumlah Nama yang Rugikan Negara Rp 1 Miliar Lebih

Megapolitan
Ambulans Kimia Farma Terobos Lampu Merah Sebelum Kecelakaan, Sedang Tak Bawa Pasien

Ambulans Kimia Farma Terobos Lampu Merah Sebelum Kecelakaan, Sedang Tak Bawa Pasien

Megapolitan
Masa Jabatan Tinggal Setahun, Anies Diminta Tuntaskan Program Rumah DP Rp 0

Masa Jabatan Tinggal Setahun, Anies Diminta Tuntaskan Program Rumah DP Rp 0

Megapolitan
Tarik Ulur Revitalisasi Tugu Pamulang, Pemprov Banten Tak Punya Anggaran dan Minta Pembongkaran

Tarik Ulur Revitalisasi Tugu Pamulang, Pemprov Banten Tak Punya Anggaran dan Minta Pembongkaran

Megapolitan
UPDATE 15 April: Tambah 20 Kasus di Kota Tangerang, 221 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE 15 April: Tambah 20 Kasus di Kota Tangerang, 221 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
Tenaga Kesehatan Khawatir Akan Terjadi Kenaikan Kasus Covid-19 Usai Lebaran

Tenaga Kesehatan Khawatir Akan Terjadi Kenaikan Kasus Covid-19 Usai Lebaran

Megapolitan
Pengemudi Fortuner Koboi dan Pemotor Berdamai, Kasus Kepemilikan Senjata Tetap Diproses

Pengemudi Fortuner Koboi dan Pemotor Berdamai, Kasus Kepemilikan Senjata Tetap Diproses

Megapolitan
Sempat Tak Bisa Diakses, Aplikasi Perpanjangan SIM Online Kini Sudah Bisa Digunakan

Sempat Tak Bisa Diakses, Aplikasi Perpanjangan SIM Online Kini Sudah Bisa Digunakan

Megapolitan
Aksi Petugas Derek Liar Paksa Sopir Truk di Tol yang Berujung Penangkapan

Aksi Petugas Derek Liar Paksa Sopir Truk di Tol yang Berujung Penangkapan

Megapolitan
Jembatan yang Jadi Akses Pemuda Tawuran di Johar Baru...

Jembatan yang Jadi Akses Pemuda Tawuran di Johar Baru...

Megapolitan
Aparat dan Kementerian Turun Tangan, Babak Baru Dugaan Korupsi Damkar yang Diungkap Sandi

Aparat dan Kementerian Turun Tangan, Babak Baru Dugaan Korupsi Damkar yang Diungkap Sandi

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X