"Capek sebenernya, barangnya suka dibawain (sama Satpol PP). Tapi mau gimana lagi, kalau kita bisa selametin, kita selametin (kardus)," tutur dia.
Meski sering terkena razia, Ani enggan alih profesi atau memindahkan barang dagangannya ke lokasi lain.
Dia berujar, lokasi yang ditempati sekarang merupakan area strategis. Sebab banyak perkantoran yang membutuhkan kardus, baik baru maupun bekas dengan harga miring untuk menyimpan atau mengirim barang.
Selain itu, area ini juga dekat dengan perusahaan-perusahaan pengiriman barang.
Ani menuturkan, barang yang ia jual bukan sekadar kardus bekas. Meski berjualan di pinggir jalan, dia memastikan bahwa kardus-kardus itu dalam kondisi prima.
Tak hanya itu, dia juga menjual kardus baru kepada pelanggan.
Profesi ini ia lakoni dengan senang hati. Setiap hari, Ani rata-rata mampu menjual hingga 150 kardus, baik bekas maupun baru.
Harga tiap kardusnya pun beragam, mulai dari Rp 15.000 untuk kardus bekas rokok hingga Rp 40.000 untuk kardus bekas kulkas.
Baca juga: Cerita Ki Tarka, Bertahan di Tengah Pandemi dengan Terjemahkan Naskah Kuno
Bukan hanya Ani yang menggantungkan rezeki dari penjualan kardus bekas. Rizal, yang juga pedagang kardus, pun berharap mendapatkan untung dari dagangannya.
Pemuda 31 tahun tersebut mengaku berjualan kardus lantaran orangtuanya menggeluti profesi serupa.
"Saya bantu doang sih sebenarnya. Awalnya dari orangtua saya dulu, sudah berjualan kira-kira sudah 20 tahunan," kata Rizal.
Menurut dia, untung dari berjualan kardus bisa dibilang cukup besar. Dalam satu hari Rizal bisa menjual hingga 300 buah kardus dengaan harga bervariasi. yakni antara Rp 12.000-Rp 45.000.
Omzetnya bisa mencapai Rp 1 juta per hari. Setiap kardus dagangannya, ia hanya mengambil untung sekitar Rp 3.000.
Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.
Syarat & Ketentuan