Kompas.com - 03/11/2020, 19:08 WIB
|


BEKASI, KOMPAS.com - Libur panjang akhir Oktober pekan lalu dinilai menjadi penyebab utama penyebaran Covid-19 di kota Bekasi.

Bahkan, predikat zona merah yang sempat melekat di Kota Depok, kini justru bergeser ke Bekasi. Predikat tersebut menjadikan Bekasi sebagai satu-satunya zona merah di Jawa Barat.

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono mengaku tak heran Bekasi akan mendadak jadi zona merah Covid-19 selesai libur panjang.

"Iya sudah pasti lah. Di Bekasi kan juga banyak tempat wisata, tempat kuliner," kata dia saat dikonfirmasi, Rabu (3/11/2020).

Baca juga: Gugus Tugas: 8 Kelurahan di Depok Masuk Zona Merah Covid-19

Penyebaran Covid-19 terjadi karena meningkatnya mobilitas warga. Di satu sisi, mayoritas warga justru cenderung mengendurkan kepatuhan pada protokol kesehatan.

"Biasanya warga kalau dalam kondisi berwisata mulai abai (protokol kesehatan). Apalagi kalau mereka pergi ke suatu wilayah yang tak begitu ketat protokol Kesehatannya," kata Pandu.

Belum lagi warga yang berekreasi lalu pulang ke wilayah Bekasi. Penyebaran virus corona tipe 2 yang dibawa dari luar Bekasi pun sangat mungkin terjadi.

Menurut Pandu, yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah mengimbau warga yang sudah terpapar untuk segera isolasi mandiri.

Setelah itu, proses tracing dilakukan guna mendeteksi penyebaran virus dari warga ke warga.

"Nah ini kalau sudah diidentifikasi dan langsung di lakukan tracing dan di isolasi maka kita akan memutus rantai penularan," kata Pandu.

Dengan demikian, mata rantai penyebaran Covid-19 niscaya akan terputus jika penanganan oleh pemerintah dilakukan dengan cepat.

Bekasi jadi zona merah

Terkait zona merah yang disematkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil kepada Bekasi, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengaky tak mau ambil pusing.

Menurut dia, warga tak perlu takut dalam beraktivitas di tengah kondisi zona merah asalkan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Status zona merah diharapkan tak menghambat warga melakukan rutinitas kegiatan ekonomi.

"Jadi kalau hanya takut pada zona merah nanti ekonomi tidak berjalan," kata Rahmat.

Baca juga: UPDATE 1 November: Tambah 109 Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi, Totalnya Kini 4.610

Wali kota yang akrab disapa Pepen tak begitu khawatir dengan status zona merah karena menurut dia Bekasi sudah memiliki fasilitas kesehatan yang memadai, antara lain fasilitas swab test yang disediakan di tiga RSUD tipe D, yakni RSUD Bantar Gebang, Jati Sampurna dan Pondok Gede.

Selain itu, fasilitas di lab kesehatan juga diklaim Pepen sudah ditambahkan demi menekan angka penyebaran virus.

"Fasilitas kita sediakan untuk memenuhi pengendalian (jumlah pasien Covid-19), Bukan ketakutan tapi pengendalian," kata pria yang akrab disapa Pepen ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.