Wakil Ketua DPRD DKI Ingatkan, Tak Boleh Lagi Ada Guru Rasial di Jakarta

Kompas.com - 05/11/2020, 13:20 WIB
Anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRD DKI Jakarta Farazandi Fidinansyah dan Zita Anjani di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (9/9/2019). KOMPAS.COM/NURSITA SARIAnggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRD DKI Jakarta Farazandi Fidinansyah dan Zita Anjani di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (9/9/2019).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani mengingatkan agar tidak ada lagi guru bertindak SARA di sekolah negeri di DKI Jakarta.

Hal ini untuk mengomentari adanya oknum guru SMA di Jakarta yang bertindak rasial kepada siswanya.

"Saya juga beri imbauan untuk semua guru, khususnya di sekolah negeri," ujar Zita dalam pesan singkat, Kamis (5/10/2020).

Zita mengatakan, sekolah negeri berbeda dengan sekolah khusus agama. Sekolah negeri harus mengajarkan kebinekaan dan bukan malah menyudutkan satu agama tertentu ataupun mengajarkan satu agama tertentu saja.

Baca juga: Wagub DKI Minta Disdik Beri Sanksi Oknum Guru SMAN 58 yang Bertindak Rasial

"Jangan sampai salah kaprah, sekolah negeri itu basisnya Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Bukan sekolah berbasis agama tertentu," tutur Zita.

Itulah sebabnya, lanjut Zita, setiap guru harus mengerti dan menempatkan posisi mereka bukan untuk mengajak dengan nada rasial.

Zita mengatakan, guru dengan inisial TS tersebut sudah dibina dan TS sudah mengaku salah atas perbuatannya tersebut.

"Saya juga sudah tekankan kepada Kadisdik perlu penguatan atau teachers education lebih lagi untuk semua guru khususnya di DKI," ujar dia.

Adapun sebelumnya, oknum guru berinisial TS yang merupakan guru pendidikan agama dan budi pekerti SMAN 58 Jakarta menyebarkan pesan singkat yang bernada rasial.

TS meminta agar siswa anggota ekstrakurikuler rohis berjumlah 44 orang untuk tidak memilih pasangan calon yang ketua OSIS yang beragama non-Islam.

Baca juga: Oknum Guru SMAN di Jaktim yang Bertindak Rasial Dilaporkan ke Polisi

"Assalamualaikum...hati2 memilih ketua OSIS Paslon 1 dan 2 Calon non Islam... jd ttp walau bagaimana kita mayoritas hrs punya ketua yang se Aqidah dgn kita."

"Mohon doa dan dukungannya utk Paslon 3."

"Awas Rohis jgn ada yg jd pengkhianat ya," demikian pesan dalam grup tersebut.

TS akhirnya diperiksa oleh Dinas Pendidikan pada 23 Oktober lalu, dia mengaku tindakannya tersebut salah dan sudah meminta maaf.

Hasil pemeriksaan kini diserahkan ke Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan masih menunggu sanksi apa yang akan diberikan kepada TS.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anies Sebut Penampilan Nidji di JIS Tak Sumbang, PSI Merasa Itu Bukan Sindiran buat Giring

Anies Sebut Penampilan Nidji di JIS Tak Sumbang, PSI Merasa Itu Bukan Sindiran buat Giring

Megapolitan
Polisi Tangkap 3 Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI AD di Jakarta Utara

Polisi Tangkap 3 Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI AD di Jakarta Utara

Megapolitan
Pemkot Minta Palyja Petakan Masalah Krisis Air di Jakarta Utara

Pemkot Minta Palyja Petakan Masalah Krisis Air di Jakarta Utara

Megapolitan
Warga Bangun Tembok hingga Tutup Jalan di Pondok Bambu, Sekcam: Masyarakat Kecewa

Warga Bangun Tembok hingga Tutup Jalan di Pondok Bambu, Sekcam: Masyarakat Kecewa

Megapolitan
PTM 100 Persen Masuk Minggu ke-3, Disdik Kota Tangerang Klaim Masih Aman

PTM 100 Persen Masuk Minggu ke-3, Disdik Kota Tangerang Klaim Masih Aman

Megapolitan
Diajak Nongkrong, Siswi SMP di Bogor Dicabuli 3 Pemuda secara Bergiliran

Diajak Nongkrong, Siswi SMP di Bogor Dicabuli 3 Pemuda secara Bergiliran

Megapolitan
Kasus Rentenir Tewas Dibacok, Bermula Pelaku Belum Bisa Bayar Utang Rp 350.000 dan Korban Emosi

Kasus Rentenir Tewas Dibacok, Bermula Pelaku Belum Bisa Bayar Utang Rp 350.000 dan Korban Emosi

Megapolitan
Kesal Ucapannya Dipotong Jaksa, Munarman: Saya Ini Terancam Hukuman Mati

Kesal Ucapannya Dipotong Jaksa, Munarman: Saya Ini Terancam Hukuman Mati

Megapolitan
Polisi Kantongi Identitas Penjual Narkotika ke Fico Fachriza

Polisi Kantongi Identitas Penjual Narkotika ke Fico Fachriza

Megapolitan
Panti Pijat yang Fasilitasi Prostitusi di Depok Bakal Ditutup

Panti Pijat yang Fasilitasi Prostitusi di Depok Bakal Ditutup

Megapolitan
Monyet Masuk ke Perumahan Mewah di Ancol, Seorang ART Dicakar hingga Berdarah

Monyet Masuk ke Perumahan Mewah di Ancol, Seorang ART Dicakar hingga Berdarah

Megapolitan
Sempat Tutup karena Kasus Covid-19, 3 Sekolah Ini Kembali Gelar PTM 100 Persen

Sempat Tutup karena Kasus Covid-19, 3 Sekolah Ini Kembali Gelar PTM 100 Persen

Megapolitan
Munarman Pertanyakan Maklumat FPI yang Buat Dirinya Dituduh Teroris dan Dipenjara

Munarman Pertanyakan Maklumat FPI yang Buat Dirinya Dituduh Teroris dan Dipenjara

Megapolitan
Jalan di Bawah Stasiun MRT Blok A Berlubang, Warga Sebut Sering Terjadi Kecelakaan

Jalan di Bawah Stasiun MRT Blok A Berlubang, Warga Sebut Sering Terjadi Kecelakaan

Megapolitan
Polisi Cari Tersangka Lain Kasus Pengeroyokan Anggota TNI AD di Jakarta Utara

Polisi Cari Tersangka Lain Kasus Pengeroyokan Anggota TNI AD di Jakarta Utara

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.