Kompas.com - 17/11/2020, 07:01 WIB
Ardi (23), seorang manusia silver yang ditemui di kawasan Gelora, Jakarta Pusat, Senin (16/11/2020). KOMPAS.com/IhsanuddinArdi (23), seorang manusia silver yang ditemui di kawasan Gelora, Jakarta Pusat, Senin (16/11/2020).
Penulis Ihsanuddin
|

"Ya mau bagaimana lagi, namanya kehidupan," ujarnya

Selain risiko terkena penyakit kulit, ada risiko lainnya yang mengincar para manusia silver, yakni razia Satpol PP. Ardi pun mengaku pernah sekali terjaring razia. Ia dibawa ke kantor Dinas Sosial dan mendapat hukuman.

"Waktu itu disuruh senam tentara, push up, guling-guling, ya capek juga," kata warga Kota Bambu, Palmerah ini.

Meski pernah terjaring razia, Ardi tak kapok menjadi manusia silver. Pekerjaan ini tetap ia lakoni karena kebutuhan hidup. Apalagi, Ardi juga sudah beristri dan mempunyai anak balita yang harus dikafkahi.

"Ya kembali lagi namanya hidup," ujarnya.

Sempat terpikir jadi pencuri

Ardi sendiri menyadari bahwa yang ia lakukan melanggar aturan. Namun, ia berprinsip lebih baik bekerja seperti ini ketimbang mendapatkan uang dari mencuri atau pekerjaan haram lainnya.

"Hati saya sempat berbisik. Maling aja (dihukum) setahun dua bulan. Pembebasan bersyarat jadi 8 bulan. Jadi manusia silver katanya 8 bulan juga. Mending maling sekalian. Tapi ya saya masih milih yang halal," kata dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ardi pun berpesan ke pemerintah untuk tidak terlalu keras dengan para manusia silver yang mengais rezeki di jalan-jalan ibu kota. Selama para manusia silver mencari uang dengan tertib, ia menilai harusnya tidak menjadi masalah.

Ia pun menyayangkan pernyataan dari Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat yang mengimbau warga tidak memberi ke manusia silver. Namun, ia meyakini masih banyak warga yang tetap mau membantu dan menyisihkan rezekinya.

"Ya namanya balik lagi, manusia itu punya hati nurani. Kebaikan itu enggak bisa diatur sama orang," ujar dia.

Meski sudah hampir 8 bulan menjadi manusia silver, namun ia tak bercita-cita untuk melakoni pekerjaan ini selama-lamanya. Jika pandemi sudah usai, Ardi ingin berjualan di pasar malam lagi.

Apalagi, penghasilannya di pasar malam lebih besar dibandingkan menjadi manusia silver.

"Kalau dagang itu sehari bisa dapat Rp 120.000, bersih," katanya.

Berjualan di pasar malam juga tentunya tidak beresiko menimbulkan kulit gatal atau pun terjaring razia satpol PP. Oleh karena itu, Ardi berharap pandemi segera berlalu dan kehidupannya bisa normal kembali.

Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Disdik DKI: Survei Kemendikbud Terkait Klaster Belajar Tatap Muka Keliru

Disdik DKI: Survei Kemendikbud Terkait Klaster Belajar Tatap Muka Keliru

Megapolitan
Saluran Air Mulai Dibangun 27 September, Jalan I Gusti Ngurah Rai Klender Akan Ditutup

Saluran Air Mulai Dibangun 27 September, Jalan I Gusti Ngurah Rai Klender Akan Ditutup

Megapolitan
Pemkot Depok Targetkan 1,6 Juta Warga Sudah Vaksin Covid-19 pada Desember 2021

Pemkot Depok Targetkan 1,6 Juta Warga Sudah Vaksin Covid-19 pada Desember 2021

Megapolitan
Disdik Banten Klaim Tak Ada Klaster Covid-19 akibat PTM di SMA di Kota Tangerang

Disdik Banten Klaim Tak Ada Klaster Covid-19 akibat PTM di SMA di Kota Tangerang

Megapolitan
Mayat yang Ditemukan di Patoembak Depok Adalah Anggota TNI, Diduga Korban Pembunuhan

Mayat yang Ditemukan di Patoembak Depok Adalah Anggota TNI, Diduga Korban Pembunuhan

Megapolitan
Antisipasi Musim Hujan, Pemkot Depok Fokus Pangkas Pohon Tinggi dan Minta Warga Tak 'Nyampah' di Kali

Antisipasi Musim Hujan, Pemkot Depok Fokus Pangkas Pohon Tinggi dan Minta Warga Tak "Nyampah" di Kali

Megapolitan
Depok Satu-satunya Wilayah Jabodetabek Tak Punya BPBD, padahal Rentan Bencana

Depok Satu-satunya Wilayah Jabodetabek Tak Punya BPBD, padahal Rentan Bencana

Megapolitan
Atasi Banjir di Klender, Saluran Air Sepanjang 878 Meter Akan Dibangun di Jalan I Gusti Ngurah Rai

Atasi Banjir di Klender, Saluran Air Sepanjang 878 Meter Akan Dibangun di Jalan I Gusti Ngurah Rai

Megapolitan
Hari Ini, Polisi Periksa Ahli Pidana Jelang Gelar Perkara Kasus Kebakaran Lapas Tangerang

Hari Ini, Polisi Periksa Ahli Pidana Jelang Gelar Perkara Kasus Kebakaran Lapas Tangerang

Megapolitan
Cegah Banjir, Pemkot Jakut Bangun 3 Waduk sebagai Kolam Retensi

Cegah Banjir, Pemkot Jakut Bangun 3 Waduk sebagai Kolam Retensi

Megapolitan
Anies Minta Banjir di Jakarta Harus Surut dalam 6 Jam, Ini Penjelasan Wagub

Anies Minta Banjir di Jakarta Harus Surut dalam 6 Jam, Ini Penjelasan Wagub

Megapolitan
Anies Instruksikan Seluruh Wali Kota Antisipasi Banjir pada Musim Hujan

Anies Instruksikan Seluruh Wali Kota Antisipasi Banjir pada Musim Hujan

Megapolitan
Simpang Siur Data Klaster Covid-19 Belajar Tatap Muka di Jakarta

Simpang Siur Data Klaster Covid-19 Belajar Tatap Muka di Jakarta

Megapolitan
Tidak Semua Bansos Dihentikan di Jakarta, Ini Program yang Masih Berlanjut

Tidak Semua Bansos Dihentikan di Jakarta, Ini Program yang Masih Berlanjut

Megapolitan
Sebanyak 7.560 Nakes di Tangsel Belum Dapat Vaksinasi Booster

Sebanyak 7.560 Nakes di Tangsel Belum Dapat Vaksinasi Booster

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.