Utak-atik Rute LRT Jakarta, Dianggap Langgar Perpres hingga Dikritik Untungkan Swasta

Kompas.com - 26/11/2020, 07:47 WIB
Petugas memeriksa suhu tubuh calon penumpang LRT (Light Rail Transit) di Stasiun LRT Velodrome, Jakarta, Selasa (3/3/2020). Pemeriksaan suhu tubuh penumpang tersebut merupakan upaya untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAPetugas memeriksa suhu tubuh calon penumpang LRT (Light Rail Transit) di Stasiun LRT Velodrome, Jakarta, Selasa (3/3/2020). Pemeriksaan suhu tubuh penumpang tersebut merupakan upaya untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Masalah pembangunan rute kereta ringan atau light rail transit (LRT) di DKI Jakarta menemui babak baru terkait dengan usulan perubahan rencana pembangunan tahap dua rute.

Konflik mengenai utak-atik rute LRT ini sebenarnya sudah lama terjadi. Bahkan sejak 2017, ketika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang saat itu berpasangan dengan Wakil Gubernur Sandiaga Uno baru terpilih.

Pada 2017 silam, tepatnya Jumat (9/12/2017) rute Velodrome-Dukuh Atas yang merupakan planing pembangunan fase 2B sempat diubah. Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Satya Heragandhi saat itu memberikan penjelasan rute fase 2B tersebut akan diperpanjang hingga Tanah Abang.

Baca juga: Alasan Pemprov DKI Gandeng Swasta Bangun LRT Jakarta: Kurang Dana

Perpanjangan rute tersebut tidak lain merupakan masukan dari Anies-Sandi karena menilai bisa memberikan dampak ekonomi untuk Blok G Tanah Abang yang rencananya akan menjadi stasiun akhir.

"Di Tanah Abang ada enggak daerah yang masih belum termaksimalkan? Blok G kan. Sekarang bayangin kalau Blok G enggak laku, di situ dijadikan stasiun LRT. Idenya begitu," kata Satya.

Satya bahkan sempat mengatakan melakukan proses rancang ulang untuk menambahkan jalur LRT dari semula selesai di Dukuh Atas akan dilanjutkan ke Tanah Abang.

Rute Velodrome-Manggarai menghilang, digantikan Velodrome-Klender

Alih-alih diwujudkan sampai ke Tanah Abang, rute Velodrome-Manggarai justru tiba-tiba menghilang dari usulan pembangunan fase 2B.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan hilangnya rute Velodrome-Manggarai karena rute transportasi perkeretaapian nasional yang menggunakan Stasiun Manggarai sebagai stasiun hub.

Baca juga: Perubahan Rute LRT Usulan Anies Baswedan Disebut Tak Sesuai Perpres

Stasiun Kereta Manggarai sendiri direncanakan dibangun menjadi jalur dua lantai dengan lantai pertama akan ada delapan jalur kereta untuk KRL Bekasi Line dan Kereta Bandara. Lantai 2 akan digunakan khusus untuk KA jarak jauh dan KRL Bogor Line.

Ketika jalur LRT akan dibangun, akan ada jalur long span LRT di atas sungai Ciliwung, DDT Manggarai dan Jalur Kereta Api Manggarai sehingga tinggi jalur bisa mencapai 37 meter dengan jarak long span 80 meter.

Syafrin mengatakan, kesulitan pembangunan itu yang membuat Pemprov DKI Jakarta mengusulkan penghapusan rute Velodrome-Manggarai karena untuk membuat jalur-jalur baru LRT kemungkinan bisa mengganggu jaringan perkeretaapian nasional.

"Kami juga di Jakarta menyesuaikan untuk rute Velodrome-Manggarai semula, itu disesuaikan (Velodrome) ke arah timur, Klender, masuk ke Cawang," kata Syafrin, Rabu (25/11/2020) kemarin.

Terkait jalur Velodrome-Manggarai, sebenarnya Jakpro yang sudah berganti Dirut dari Satya Heragandi menjadi Dwi Wahyu Daryoto sempat mengirimkan surat ke Anies terkait hasil kajian pembangunan jalur LRT yang melintas dari Stasiun Manggarai.

Surat tersebut berisi permohonan persetujuan trase LRT untuk fase 2B Velodrome-Manggarai. Surat dengan nomor 043/UT2000/110/VII/2019 ditunjukan berisi update studi kelayakan untuk rute Velodrome-Manggarai.

Baca juga: Kadishub DKI: Perubahan Rute LRT Masih Dikaji, Belum Diusulkan ke Kemenhub

"Melalui dokumen-dokumen kajian tersebut, kami memohon persetujuan trase dari Bapak (Gubernur DKI) untuk Proyek LRT Jakarta Jalur Kelapa Gading-Jakarta International Stadium (2A) dan Jalur Velodrome-Manggarai (2B)," tulis penutup surat yang ditandatangani 15 Juli 2019.

Tapi isi surat tersebut tidak mengubah keputusan DKI Jakarta untuk menghapus jalur Velodrome-Manggarai dari tengah kota mengganti rute tersebut ke pinggir kota menjadi Velodrome-Klender.

Rute tersebut juga sudah diusulkan oleh Anies ke Kementerian Perhubungan. Rute baru Velodrome-Klender tertuang dalam surat Gubernur DKI Jakarta Nomor 346/-1.811.3 tetang Permohonan Persetujuan Trase LRT Jakarta Kelapa Gading-Jakarta International Stadium dan Velodrome-Klender.

Usulan tersebut baru saja diteken dua bulan lalu, tepatnya 17 September 2020.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Soal Hasil Kajian Penjualan Saham Perusahaan Bir, Pemprov DKI: Begitu Ada Permintaan Resmi, Kami Kirim

Soal Hasil Kajian Penjualan Saham Perusahaan Bir, Pemprov DKI: Begitu Ada Permintaan Resmi, Kami Kirim

Megapolitan
LRT Buka Lowongan Pekerjaan untuk 12 Posisi, Ini Panduan Cara Mendaftar

LRT Buka Lowongan Pekerjaan untuk 12 Posisi, Ini Panduan Cara Mendaftar

Megapolitan
Pencuri di Perumahan Mewah di Tangsel Ditembak Polisi, Satu Pelaku Kabur

Pencuri di Perumahan Mewah di Tangsel Ditembak Polisi, Satu Pelaku Kabur

Megapolitan
Pemprov DKI Enggan Komentari Status Lahan Rumah DP 0 Terkait Dugaan Korupsi

Pemprov DKI Enggan Komentari Status Lahan Rumah DP 0 Terkait Dugaan Korupsi

Megapolitan
Direktur Diculik Pemilik Perusahaan, Korban Dianiaya dan Disuruh Minum Air Kencing

Direktur Diculik Pemilik Perusahaan, Korban Dianiaya dan Disuruh Minum Air Kencing

Megapolitan
Polisi Tangkap 9 Anggota Mafia Tanah yang Ancam Warga di Kemayoran

Polisi Tangkap 9 Anggota Mafia Tanah yang Ancam Warga di Kemayoran

Megapolitan
Tak Ada Ganjil Genap di Kota Bogor Saat Libur Panjang Akhir Pekan Ini

Tak Ada Ganjil Genap di Kota Bogor Saat Libur Panjang Akhir Pekan Ini

Megapolitan
Komunitas Pesepeda Sebut Masih Ada Jalur Sepeda Kurang Layak di Jakarta

Komunitas Pesepeda Sebut Masih Ada Jalur Sepeda Kurang Layak di Jakarta

Megapolitan
Pemprov DKI Tunggu Pengumuman Resmi KPK untuk Tindak Lanjuti Penonaktifan Dirut Sarana Jaya

Pemprov DKI Tunggu Pengumuman Resmi KPK untuk Tindak Lanjuti Penonaktifan Dirut Sarana Jaya

Megapolitan
Penculikan di Tebet, Pelaku Kesal karena Duga Korban Gelapkan Aset Perusahaan

Penculikan di Tebet, Pelaku Kesal karena Duga Korban Gelapkan Aset Perusahaan

Megapolitan
Depok Terima Lagi 63.500 Dosis Vaksin Covid-19

Depok Terima Lagi 63.500 Dosis Vaksin Covid-19

Megapolitan
Periode Januari-Maret 2021, 16.157 Orang di Jakut Ditindak karena Tak Pakai Masker Saat Beraktivitas

Periode Januari-Maret 2021, 16.157 Orang di Jakut Ditindak karena Tak Pakai Masker Saat Beraktivitas

Megapolitan
Komplotan Pencuri di Tebet Diringkus Polisi, Motor hingga Korek Api Berbentuk Pistol Disita

Komplotan Pencuri di Tebet Diringkus Polisi, Motor hingga Korek Api Berbentuk Pistol Disita

Megapolitan
Sarana Jaya Tunggu Hasil Penyidikan KPK Soal Dugaan Korupsi pada Proyek Rusun DP Rp 0

Sarana Jaya Tunggu Hasil Penyidikan KPK Soal Dugaan Korupsi pada Proyek Rusun DP Rp 0

Megapolitan
Ular Sanca 3 Meter Berkeliaran di Kantor MUI Tangsel, Bersembunyi Saat Akan Ditangkap

Ular Sanca 3 Meter Berkeliaran di Kantor MUI Tangsel, Bersembunyi Saat Akan Ditangkap

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X