Kasus Balita Meninggal Saat Dibawa Mengemis, KPAI: Tetangga Berperan Penting Cegah Eksploitasi Anak

Kompas.com - 02/12/2020, 17:49 WIB
Ilustrasi pengemis. Kompas.com/ERICSSENIlustrasi pengemis.
|

BEKASI, KOMPAS.com - Kasus meninggalnya seorang balita di pelukan ibu bernama Nur Astuti Anjaya (32) yang tengah mengemis di Kota Bekasi merupakan bukti kurangnya kepedulian antar-tetangga.

Seharusnya, ruang lingkup terkecil seperti tetangga bisa jadi garda pertama untuk mencegah peristiwa naas itu terjadi.

"Anak harus dilindungi walaupun dari keluarga sendiri, seperti dibawa mengemis, dibawa jadi pemulung. Seharusnya ada reaksi cepat tetangga, perangkat desa, atau siapa pun yang melihat," kata Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI) Bidang Trafficking dan Eksploitasi Ai Maryati, Rabu (2/12/2020).

Menurut Ai, cukup sulit mendeteksi kondisi anak yang jadi korban eksploitasi dalam sebuah keluarga.

Sebab, kehidupan dalam keluarga tersebut tidak terlihat dari luar.

Baca juga: Tetangga Sebut Ibu yang Bawa Balita Saat Mengemis Sudah Sering Dilarang Suami, tapi Tak Didengar

Di sisi lain, lingkungan sekitar pun sulit mendeteksi kondisi mental orangtua yang mengalami gangguan jiwa.

Padahal, orangtua dengan gangguan jiwa berpotensi menjadikan anak sebagai bahan eksploitasi untuk kebutuhan ekonomi.

"Otomatis kalau lingkungannya melihat kondisi keluarga normal-normal saja ya tidak terdeteksi," ujar dia.

Maka dari itu, tetangga harus peka dengan kondisi anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.

Warga diharapkan tak ragu untuk melapor ke Dinas Sosial atau pihak kepolisian jika melihat anak-anak jadi korban eksploitasi.

Baca juga: Balita yang Meninggal Saat Diajak Ibunya Mengemis Tak Pernah Diimunisasi

Sebelumnya, Nur Astuti Anjaya sempat diperiksa oleh Dinas Kesehatan Kota Bekasi beberapa waktu lalu. Dari hasil pemeriksaan, Astuti dinyatakan mengalami gangguan jiwa.

Pemeriksaan itu dilakukan lantaran Astuti kerap membawa putranya yang masih berumur dua tahun mengemis di kawasan Bantar Gebang.

Padahal, putranya itu mengalami sakit parah selama tiga sampai empat hari. Alhasil, putranya pun meninggal saat digendong Astuti ketika sedang mengemis.

Kini Pemkot Bekasi sedang mengatur berkas Astuti agar dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa Marzuki Mahdi, Bogor.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Saat Kematian Akibat Covid-19 Meningkat Karena Faskes Penuh . . .

Saat Kematian Akibat Covid-19 Meningkat Karena Faskes Penuh . . .

Megapolitan
Tempat Tidur ICU di RS Rujukan Covid-19 Jakarta Tersisa 63

Tempat Tidur ICU di RS Rujukan Covid-19 Jakarta Tersisa 63

Megapolitan
Tangis Tak Henti dan Kenangan Rekan Sejawat di Pemakaman Pramugari Nam Air Isti Yudha Prastika

Tangis Tak Henti dan Kenangan Rekan Sejawat di Pemakaman Pramugari Nam Air Isti Yudha Prastika

Megapolitan
Warga Depok Meninggal di Taksi Online Usai Ditolak 10 RS Covid-19, Bukti Pandemi Makin Gawat

Warga Depok Meninggal di Taksi Online Usai Ditolak 10 RS Covid-19, Bukti Pandemi Makin Gawat

Megapolitan
Penghuni Indekos Kaget Motornya Terbakar di Pinggir Jalan, Diduga Hendak Dicuri

Penghuni Indekos Kaget Motornya Terbakar di Pinggir Jalan, Diduga Hendak Dicuri

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Tangis Keluarga Sambut Pramugari Korban Sriwijaya Air | Fakta Gugatan Terhadap Raffi Ahmad

[POPULER JABODETABEK] Tangis Keluarga Sambut Pramugari Korban Sriwijaya Air | Fakta Gugatan Terhadap Raffi Ahmad

Megapolitan
UPDATE: Total 298 Kantong Berisi Bagian Tubuh Korban Sriwijaya Air Diserahkan ke DVI Polri

UPDATE: Total 298 Kantong Berisi Bagian Tubuh Korban Sriwijaya Air Diserahkan ke DVI Polri

Megapolitan
UPDATE 16 Januari: Ada 4.275 Kasus Covid-19 di Tangsel, Tambah 37

UPDATE 16 Januari: Ada 4.275 Kasus Covid-19 di Tangsel, Tambah 37

Megapolitan
UPDATE: Tim SAR Pencarian Sriwijaya Air SJ 182 Terima 9 Kantong Temuan dari Bakamla dan KRI Kurau

UPDATE: Tim SAR Pencarian Sriwijaya Air SJ 182 Terima 9 Kantong Temuan dari Bakamla dan KRI Kurau

Megapolitan
Diduga Korsleting, Mobil Terbakar di Jalan Tol Layang Wiyoto Wiyono

Diduga Korsleting, Mobil Terbakar di Jalan Tol Layang Wiyoto Wiyono

Megapolitan
UPDATE Sabtu Sore: Basarnas Terima 17 Kantong Jenazah Potongan Tubuh dan Sekantong Barang Pribadi Korban Sriwijaya Air

UPDATE Sabtu Sore: Basarnas Terima 17 Kantong Jenazah Potongan Tubuh dan Sekantong Barang Pribadi Korban Sriwijaya Air

Megapolitan
3.536 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, Tertinggi Selama Pandemi

3.536 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, Tertinggi Selama Pandemi

Megapolitan
KPAI Minta Pelaku Pencabulan Anak Tiri di Jakarta Barat Dihukum Berat

KPAI Minta Pelaku Pencabulan Anak Tiri di Jakarta Barat Dihukum Berat

Megapolitan
Pramugari Korban Sriwijaya Air Dikenang Rekannya sebagai Sosok yang Mengayomi dan Humoris

Pramugari Korban Sriwijaya Air Dikenang Rekannya sebagai Sosok yang Mengayomi dan Humoris

Megapolitan
Positif Covid-19, 79 Penghuni Panti Yayasan Tri Asih di Kebon Jeruk Jalani Isolasi Mandiri

Positif Covid-19, 79 Penghuni Panti Yayasan Tri Asih di Kebon Jeruk Jalani Isolasi Mandiri

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X