Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat RS Darurat Wisma Atlet Kesulitan Merujuk Pasien Covid-19

Kompas.com - 05/01/2021, 06:03 WIB
Ihsanuddin,
Egidius Patnistik

Tim Redaksi

"Saturasi sudah turun itu berarti paru-parunya sudah kena," kata dia.

Arifin menjelaskan, pasien yang datang dengan saturasi oksigen rendah umumnya sudah berusia 55 tahun ke atas. Mereka diduga kuat tertular Covid-19 setelah berkumpul bersama keluarganya.

Ia khawatir, kondisi ini bisa menyebabkan tingginya angka kematian jika tak tertangani dengan baik.

"Kalau ini meningkat drastis, angka kematian juga akan meningkat. Itu kan otomatis, linear," kata dia.

Tambah kapasitas

Untuk mengatasi masalah ini, RSD Covid-19 Wisma Atlet pun akan menambah tempat perawatan khusus.

Arifin menyebut akan ada tambahan berupa 50 tempat tidur intermediate care unit (IMCU). Fasilitas itu ditargetkan mulai siap digunakan pekan depan.

Baca juga: Pasien dengan Saturasi Oksigen Rendah Terus Berdatangan ke RS Covid-19 Wisma Atlet

"Untuk minggu depan akan ada 50 bed yang IMCU," kata Arifin.

Arifin menjelaskan, IMCU hampir setara dengan HCU. Levelnya berada di atas kamar perawatan biasa, tetapi masih di bawah ICU.

Ia menegaskan tambahan tempat perawatan khusus ini mendesak karena pasien dengan gejala sedang terus berdatangan ke RS Wisma Atlet. Di sisi lain, RSD Wisma Atlet tak bisa begitu saja langsung merujuk mereka ke RS lain jika kondisi kesehatannya menurun.

RSD Wisma Atlet juga menyiapkan fasilitas tambahan ini untuk mengantisipasi dampak dari liburan Natal dan Tahun Baru.

"Efek Natal dan Tahun Baru belum keliatan nih, kemungkinan dalam satu minggu ke depan baru terlihat," ujarnya.

Sampai kemarin pukul 08.00 WIB, tercatat ada 3.889 pasien Covid-19 masih menghuni RS Wisma Atlet. Jumlah itu terdiri dari pasien yang dirawat maupun yang menjalani isolasi mandiri.

Sebanyak 2.932 pasien bergejala ringan dan sedang masih dirawat di Tower 4, 6, dan 7. Total tempat tidur di ketiga tower itu sebanyak 4.424. Kini yang masih belum terpakai tinggal 1.492 tempat tidur.

Sementara itu, pasien tanpa gejala yang menjalani isolasi mandiri di Tower 5 kini berjumlah 957 orang. Total tempat tidur di Tower 5 adalah 1570 orang dan kini tersisa 613 tempat tidur.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Usahanya Ditutup Paksa, Pemilik Restoran di Kebon Jeruk Bakal Tempuh Jalur Hukum jika Upaya Mediasi Gagal

Usahanya Ditutup Paksa, Pemilik Restoran di Kebon Jeruk Bakal Tempuh Jalur Hukum jika Upaya Mediasi Gagal

Megapolitan
Aktor Utama Pabrik Narkoba di Bogor Masih Buron, Polisi: Sampai Lubang Semut Pun Kami Cari

Aktor Utama Pabrik Narkoba di Bogor Masih Buron, Polisi: Sampai Lubang Semut Pun Kami Cari

Megapolitan
Polisi Amankan 8 Orang Terkait Kasus Pembacokan Remaja di Depok, 4 Ditetapkan Tersangka

Polisi Amankan 8 Orang Terkait Kasus Pembacokan Remaja di Depok, 4 Ditetapkan Tersangka

Megapolitan
Bukan Melompat, Disdik DKI Sebut Siswa SMP Jaksel Terpeleset dari Lantai 3

Bukan Melompat, Disdik DKI Sebut Siswa SMP Jaksel Terpeleset dari Lantai 3

Megapolitan
Insiden Siswa SMP Lompat dari Lantai 3, KPAI Minta Disdik DKI Pasang Sarana Keselamatan di Sekolah

Insiden Siswa SMP Lompat dari Lantai 3, KPAI Minta Disdik DKI Pasang Sarana Keselamatan di Sekolah

Megapolitan
3 Saksi Diperiksa Polisi dalam Kasus Dugaan Penistaan Agama yang Jerat Pejabat Kemenhub

3 Saksi Diperiksa Polisi dalam Kasus Dugaan Penistaan Agama yang Jerat Pejabat Kemenhub

Megapolitan
Seorang Pria Tewas Tertabrak Kereta di Matraman

Seorang Pria Tewas Tertabrak Kereta di Matraman

Megapolitan
Disdik DKI Bantah Siswa di Jaksel Lompat dari Lantai 3 Gedung Sekolah karena Dirundung

Disdik DKI Bantah Siswa di Jaksel Lompat dari Lantai 3 Gedung Sekolah karena Dirundung

Megapolitan
BNN Masih Koordinasi dengan Filipina Soal Penjemputan Gembong Narkoba Johan Gregor Hass

BNN Masih Koordinasi dengan Filipina Soal Penjemputan Gembong Narkoba Johan Gregor Hass

Megapolitan
Polisi Minta Keterangan MUI, GBI, dan Kemenag Terkait Kasus Dugaan Penistaan Agama Pendeta Gilbert

Polisi Minta Keterangan MUI, GBI, dan Kemenag Terkait Kasus Dugaan Penistaan Agama Pendeta Gilbert

Megapolitan
Walkot Depok: Bukan Cuma Spanduk Supian Suri yang Kami Copot...

Walkot Depok: Bukan Cuma Spanduk Supian Suri yang Kami Copot...

Megapolitan
Satpol PP Copot Spanduk Supian Suri, Walkot Depok: Demi Allah, Saya Enggak Nyuruh

Satpol PP Copot Spanduk Supian Suri, Walkot Depok: Demi Allah, Saya Enggak Nyuruh

Megapolitan
Polisi Bakal Panggil Indonesia Flying Club untuk Mengetahui Penyebab Jatuhnya Pesawat di BSD

Polisi Bakal Panggil Indonesia Flying Club untuk Mengetahui Penyebab Jatuhnya Pesawat di BSD

Megapolitan
Siswi SLB di Jakbar Dicabuli hingga Hamil, KPAI Siapkan Juru Bahasa Isyarat dan Pendampingan

Siswi SLB di Jakbar Dicabuli hingga Hamil, KPAI Siapkan Juru Bahasa Isyarat dan Pendampingan

Megapolitan
Ada Pembangunan Saluran Penghubung di Jalan Raya Bogor, Rekayasa Lalu Lintas Diterapkan

Ada Pembangunan Saluran Penghubung di Jalan Raya Bogor, Rekayasa Lalu Lintas Diterapkan

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com