Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 12/01/2021, 17:55 WIB


DEPOK, KOMPAS.com - Wali Kota Depok Mohammad Idris meminta warganya agar tidak menolak vaksinasi Covid-19 dan menghindari praduga-praduga.

"Tidak ada tolak menolak, yang penting buat kesehatan. Kita positive thinking, jangan dengan praduga-praduga. Ini malah bahaya," kata Idris kepada wartawan, Selasa (12/1/2021) siang.

"Saya yakinkan, pemerintah sudah melakukan ikhtiar yang luar biasa bahkan sudah mendapatkan pengakuan kehalalan dari MUI dan juga (EUA) dari BPOM juga," lanjutnya.

Baca juga: 282 Kasus Baru, Depok Catat Penambahan Pasien Covid-19 Terbanyak Sepanjang Pandemi

Pemerintah berencana menyelenggarakan vaksinasi Covid-19 tahap 1 mulai hari Kamis (14/1/2021) di setiap kabupaten dan kota, dengan sasaran prioritas tenaga kesehatan.

Selain tenaga kesehatan, aparat TNI-Polri juga masuk dalam kelompok penerima vaksin Covid-19 tahap 1.

Di Depok, komunitas-komunitas sosial-keagamaan juga dipersiapkan agar menerima vaksin terlebih dulu.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga memberi arahan sejenis supaya alim ulama bersedia diberi vaksin terlebih dulu.

Baca juga: Ridwan Kamil Imbau Kepala Daerah di Jabar Jadi Orang Pertama Divaksin

"Komunitas-komunitas sosial-keagamaan yang sering berkomunikasi dengan masyarakat misalnya teman-teman dari gereja, dari majelis taklim majelis taklim, majelis ulama itu juga masuk," ungkap Idris.

Oleh karenanya, menurut Idris, tidak ada lagi alasan untuk berprasangka buruk terhadap vaksinasi Covid-19.

"Kita trust (percaya) kepada pemerintah dalam hal ini untuk kita bisa lakukan vaksinasi. Apalagi kalau sudah ulama, tokoh agama sudah bilang yes, sudah, percayalah," pungkasnya.

Baca juga: Wali Kota Depok Pernah Terinfeksi Covid-19, Tidak Diberi Vaksin Tahap 1

Sebagai informasi, vaksinasi Covid-19 tahap 1 akan menggunakan vaksin Sinovac.

BPOM telah menerbitkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) untuk vaksin Sinovac, dengan tinggkat efikasi (kemanjuran) sekitar 65,3 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Berujung Damai, Kasus Penganiayaan Perempuan di Pesanggrahan Dihentikan

Berujung Damai, Kasus Penganiayaan Perempuan di Pesanggrahan Dihentikan

Megapolitan
Rian Ernest Sebut Golkar Bakal Jadi Partai Politik Terakhirnya

Rian Ernest Sebut Golkar Bakal Jadi Partai Politik Terakhirnya

Megapolitan
Ucapkan Selamat HUT Ke-8 PSI, Rian Ernest: Hari Ini Mungkin Beda Wadah, tapi 'All The Best'

Ucapkan Selamat HUT Ke-8 PSI, Rian Ernest: Hari Ini Mungkin Beda Wadah, tapi "All The Best"

Megapolitan
7 Bangunan Ludes Terbakar di Pulogadung, Diduga karena Kebocoran Gas

7 Bangunan Ludes Terbakar di Pulogadung, Diduga karena Kebocoran Gas

Megapolitan
Anak Perusahaan Jakpro Ikut 97 Tender tapi Cuma Lolos 2 Gegara Ekuitas Minus Rp 34 Miliar

Anak Perusahaan Jakpro Ikut 97 Tender tapi Cuma Lolos 2 Gegara Ekuitas Minus Rp 34 Miliar

Megapolitan
Ungkap Alasannya Masuk Golkar, Rian Ernest: Partai Ini Tak Bergantung pada Sosok Tertentu

Ungkap Alasannya Masuk Golkar, Rian Ernest: Partai Ini Tak Bergantung pada Sosok Tertentu

Megapolitan
Mantan Guru Sekolah Hasya: Sudah Meninggal Kok Jadi Tersangka? Apa yang Dituntut?

Mantan Guru Sekolah Hasya: Sudah Meninggal Kok Jadi Tersangka? Apa yang Dituntut?

Megapolitan
PT Jakkon Mengaku Punya Utang Pajak 7 Tahun, Nilainya Rp 4 Miliar

PT Jakkon Mengaku Punya Utang Pajak 7 Tahun, Nilainya Rp 4 Miliar

Megapolitan
Kompolnas Sarankan Polisi Analisis Kondisi Hasya jika Langsung Ditolong Usai Kecelakaan

Kompolnas Sarankan Polisi Analisis Kondisi Hasya jika Langsung Ditolong Usai Kecelakaan

Megapolitan
Polda Metro Diminta Tak Monoton Saat Selidiki Kecelakaan Hasya Atallah

Polda Metro Diminta Tak Monoton Saat Selidiki Kecelakaan Hasya Atallah

Megapolitan
Diduga Miliki Mobil Audi A6, Berapa Gaji Polisi Berpangkat Kompol?

Diduga Miliki Mobil Audi A6, Berapa Gaji Polisi Berpangkat Kompol?

Megapolitan
Jadi Kader Golkar, Rian Ernest Diberi Jersey Nomor Punggung 4

Jadi Kader Golkar, Rian Ernest Diberi Jersey Nomor Punggung 4

Megapolitan
Anak Perempuannya Stunted, Sang Ibu: Enggak Nyangka, Enggak Kelihatan Pendek

Anak Perempuannya Stunted, Sang Ibu: Enggak Nyangka, Enggak Kelihatan Pendek

Megapolitan
PT LRT Akan Minta Persetujuan Heru Budi untuk Pembangunan Rute Velodrome-Manggarai

PT LRT Akan Minta Persetujuan Heru Budi untuk Pembangunan Rute Velodrome-Manggarai

Megapolitan
Sosok Mahasiswa UI Hasya Semasa Sekolah, Pemuda Riang yang Rajin Ikut Kejuaraan Taekwondo

Sosok Mahasiswa UI Hasya Semasa Sekolah, Pemuda Riang yang Rajin Ikut Kejuaraan Taekwondo

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.