Siasat Pekerja Hindari KRL Padat, Rela Terlambat hingga Pulang Lebih Malam agar Selamat

Kompas.com - 01/02/2021, 16:37 WIB
Suasana mengheningkan cipta di KRL tujuan Bogor - Kota dalam rangka mengenang jasa para pahlawan pada Selasa (10/11/2020) pukul 08.15 WIB. Ajakan mengheningkan cipta dilontarkan lewat pengeras suara di dalam kereta. KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJOSuasana mengheningkan cipta di KRL tujuan Bogor - Kota dalam rangka mengenang jasa para pahlawan pada Selasa (10/11/2020) pukul 08.15 WIB. Ajakan mengheningkan cipta dilontarkan lewat pengeras suara di dalam kereta.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Pulau Jawa dan Bali tidak terlalu berdampak berkurangnya mobilitas masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Kendaraan umum seperti Kereta Rel Listrik (KRL) tetap dipenuhi para penumpang, khususnya mereka yang tetap harus bekerja di kantor.

Maulidia (23) menjadi salah satu dari sejumlah pekerja yang tetap harus bekerja dari kantor di tengah pembatasan aktivitas masyarakat.

Baca juga: Wakil Wali Kota Depok Cerita Kronologi Dirinya Positif Covid-19

Dalam sepekan, dia hanya mendapatkan jatah satu hari untuk bekerja dari rumah secara bergantian dengan karyawan lainnya.

"Karena sektor keamanan kan ya, tetap boleh operasi. Jadi tetap ke kantor, jumlah pegawai dibatasi. Seminggu cuma satu kali WFH," ujar Maulidia saat diwawancarai, Senin (1/2/2021).

Meski sudah terbiasa menggunakan KRL selama pandemi Covid-19, bukan berarti Savira tak khawatir akan paparan virus corona tipe 2 ketika berada di area stasiun dan gerbong kereta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan melawan kekhawatirannya, Maulidia berangkat dari rumahnya menuju Stasiun Depok, Depok, Jawa Barat dengan lebih santai, yakni sekitar pukul 07.30 WIB.

Pegawai di salah satu perusahaan di Jakarta Selatan itu hendak menggunakan KRL yang berangkat di atas pukul 08.00 WIB dari Stasiun Depok menuju Manggarai.

Bukan tanpa alasan Maulidia berangkat bekerja dan menumpang KRL dengan jadwal yang lebih siang, dibanding saat kondisi normal sebelum pandemi Covid-19 melanda.

Baca juga: Kasus Ibu Masak Kucing Pak RT untuk Obat Asma, Polisi: Selesai Secara Kekeluargaan

Dia memilih berangkat dan menumpang KRL di atas pukul 08.00 WIB untuk menghindari antrean masuk stasiun dan juga kepadatan penumpang di dalam gerbong kereta.

"PPKM masih tetap ramai kalau KRL. Masuk stasiun juga masih antre. Biasa pagi tuh sampe sekitar jam 07.00 WIB, lumayan ramai. Makanya berangkat jam 08.00 WIB, itu udah enggak antre," ungkapnya.

Suasana lenggang dan banyaknya tempat duduk kosong di gerbong kereta membuat Maulidia merasa jauh lebih aman.

Dia bisa dengan leluasa memilih tempat duduk maupun tempat berdiri yang tidak terlalu berdekatan dengan penumpang lain.

"Nyari yang rada kosong. Seenggaknya enggak mepet sama orang," kata Maulidia.

Menurut Maulidia, kondisi berbeda tentu akan dialaminya apabila berangkat lebih pagi yang acap kali terjadi antrean masuk Stasiun Depok.

"Pekan lalu itu saya urgen ada audit pagi. Sampe stasiun jam 07.00 kurang, itu mayan antre. Baru bisa masuk sampai naik ke kereta jam 07.30 kayaknya," ungkapnya.

Baca juga: Viral Foto Pria Telanjang di Jalan Prapanca, Polisi Cari Pelaku

Maulidia mengaku rela terlambat bekerja agar selamat dari paparan virus selama di perjalanan. Hal tersebut menurut dia menjadi salah satu cara untuk menekan penyebaran Covid-19.

"Kalau pas pulang dari Manggarai enggak terlalu ramai. Jadi bisa lebih cepat lah," pungkasnya.

Mundurkan jam pulang

Pengguna KRL lain, yakni Ane (24) jauh lebih beruntung. Dia hanya menggunakan KRL ketika pulang bekerja karena mendapatkan fasilitas penjemputan pada pagi hari.

"Naik KRL itu pas pulang kerja saja. Kalau pagi naik bus, jemputan gitu," kata Ane, Senin.

Pegawai di bilangan Jakarta Selatan yang menggunakan KRL dari Stasiun Sudirman menuju Lenteng Agung itu mengaku tak terlalu khawatir dengan potensi penularan Covid-19.

Alasannya, dia sudah menerapkan protokol kesehatan dan terdapat pengawasan ketat di area stasiun serta gerbong kereta terhadap para penumpang.

"Rasanya jujur nih ya, biasa aja dan enggak terlalu khawatir. Paling cuma tetap pakai masker, jaga jarak, dan bawa pakai hand sanitizer," kata Ane.

Namun, Ane mengaku tetap tak ingin mengambil risiko untuk berada di antara kerumunan, termasuk ketika di area stasiun maupun di dalam gerbong kereta.

Jika penumpang di dalam kereta cukup padat, maka dia memilih untuk tidak menaikinya dan menunggu kedatangan armada lain.

"Kalau KRL-nya ramai, pilih enggak naik dan nunggu kereta selanjutnya," ungkapnya.

Ane berpandangan, kepadatan di area stasiun dan KRL pada jam-jam sibuk sepulang kerja pada saat PPKM tak jauh berbeda dengan masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi.

Mobilitas masyarakat yang menggunakan KRL masih cukup tinggi meski kebijakan bekerja dari rumah sudah diperketat oleh pemerintah.

Terlebih lagi, kata Ane, kondisi di area stasiun dan penumpang di gerbong kereta pada sore hingga malam, tak jauh berbeda dengan pagi hari.

"Kalau masuk stasiun memang enggak antre, tapi nunggu kereta sepinya yang lama banget. PSBB Transisi dan saat PPKM menurut saya sama aja, enggak ada pengaruhnya," kata Ane.

"Padet, dempet-dempetan, tapi enggak sampai desak-desakan. Makanya bingung yang bilang ada maksimal penumpang," tuturnya.

Melihat kondisi itu, Ane akhirnya memilih memundurkan pulang kerjanya beberapa jam lebih lama.

Sejak PPKM jilid kedua, dia sering kali sampai di Stasiun Sudirman sekitar pukul 21.30 WIB.

Dia merasa lebih baik terlambat sampai di rumah dibanding biasanya agar bisa menghindari kepadatan penumpang dan bisa leluasa menerapkan protokol kesehatan, khususnya jaga jarak fisik.

"Iya, jadi pulang biasa jam 8 malam nih. Tapi sekarang pilih mundurin waktu pulangnya, sampai jam setengah 10. Biar sepi," pungkasnya.

Jokowi Aakui PPKM tak efektif

Apa yang dirasakan oleh Maulidia dan Ane selaras dengan pernyataan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut PPKM tak efektif untuk menekan mobilitas masyarakat sekaligus laju penyebaran Covid-19

Hal itu disampaikan Jokowi melalui video yang diunggah di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (31/1/2021).

“Yang berkaitan dengan PPKM tanggal 11-25 Januari, kita harus ngomong apa adanya ini tidak efektif. Mobilitas juga masih tinggi karena kita memiliki indeks mobility-nya. Sehingga di beberapa provinsi Covid-nya tetap naik,” kata Jokowi.

Dia mengatakan, implementasi PPKM yang semestinya membatasi aktivitas dan mobilitas masyarakat tak mampu melakukan kedua hal tersebut.

Karena itu, dia meminta ke depannya implementasi PPKM diperkuat dan para menteri dan kepala lembaga terkait benar-benar mengetahui kondisi lapangannya.

Jokowi mengakui implementasi sejumlah aturan di lapangan masih belum konsisten sehingga banyak aturan yang dilanggar.

“Tapi yang saya lihat di implementasinya kita tidak tegas dan tidak konsisten. Ini hanya masalah implementasi ini. Sehingga saya minta betul-betul turun di lapangan. Tetapi juga siap dengan cara-cara yang lebih praktis dan sederhana agar masyarakat tahu apa sih yang namanya 3 M itu,” tutur Jokowi.

“Siapkan juga masker yang memiliki standar-standar yang benar. Sehingga masyarakat kalau yang enggak pakai langsung diberi, (disuruh) pakai, diberi tahu,” lanjut Presiden.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 29 November: Tambah 41 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta

UPDATE 29 November: Tambah 41 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta

Megapolitan
Cerita Dua Korban Mafia Tanah, Empat Tahun Menanti Kasusnya Terungkap, Berharap Aset Kembali

Cerita Dua Korban Mafia Tanah, Empat Tahun Menanti Kasusnya Terungkap, Berharap Aset Kembali

Megapolitan
Ketika Anies Kembali Bergabung dalam Demo Buruh, Ikut Kritik UMP DKI dan Terpaksa Teken SK

Ketika Anies Kembali Bergabung dalam Demo Buruh, Ikut Kritik UMP DKI dan Terpaksa Teken SK

Megapolitan
Reuni 212 Batal di Jakarta, Wagub DKI: Keputusan yang Sangat Bijak

Reuni 212 Batal di Jakarta, Wagub DKI: Keputusan yang Sangat Bijak

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Sebagian Jakarta Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca BMKG: Sebagian Jakarta Hujan Ringan

Megapolitan
Polisi Tunggu Hasil Analisa Sampel Bangunan SMA 96 Jakarta yang Roboh

Polisi Tunggu Hasil Analisa Sampel Bangunan SMA 96 Jakarta yang Roboh

Megapolitan
Rumah Lawan Covid-19 Tangsel Bersiap Hadapi Gelombang Ketiga

Rumah Lawan Covid-19 Tangsel Bersiap Hadapi Gelombang Ketiga

Megapolitan
Bandar Narkoba yang Tabrak Polisi Ditangkap di Kendal

Bandar Narkoba yang Tabrak Polisi Ditangkap di Kendal

Megapolitan
Mobil Putar Arah Bikin Macet di Jalan Palmerah Utara, Sudinhub Jakbar Akan Tutup dengan Barrier

Mobil Putar Arah Bikin Macet di Jalan Palmerah Utara, Sudinhub Jakbar Akan Tutup dengan Barrier

Megapolitan
Klarifikasi Jakpro soal Penentuan Lokasi Sirkuit Formula E Jakarta

Klarifikasi Jakpro soal Penentuan Lokasi Sirkuit Formula E Jakarta

Megapolitan
Bangunan di Atas Saluran Air Kemang Belum Seluruhnya Dibongkar, Camat Minta Pemilik Tambah Pekerja

Bangunan di Atas Saluran Air Kemang Belum Seluruhnya Dibongkar, Camat Minta Pemilik Tambah Pekerja

Megapolitan
Pemuda Pancasila Akui 16 Tersangka Ricuh Demo di DPR/MPR Anggota Aktif

Pemuda Pancasila Akui 16 Tersangka Ricuh Demo di DPR/MPR Anggota Aktif

Megapolitan
Anies Sebut Formula Pengupahan Saat Ini Tak Cocok untuk Jakarta

Anies Sebut Formula Pengupahan Saat Ini Tak Cocok untuk Jakarta

Megapolitan
PTM Terbatas di Depok Dimulai Lagi Besok

PTM Terbatas di Depok Dimulai Lagi Besok

Megapolitan
Klaster PTM Terbatas di Kota Bogor, 24 Orang Positif Covid-19

Klaster PTM Terbatas di Kota Bogor, 24 Orang Positif Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.