Kompas.com - 02/02/2021, 17:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus kekerasan terhadap hewan masih kerap terjadi di Tanah Air. Padahal, Undang-Undang Peternakan Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan telah mengatur mengenai perlindungan hewan dan ancaman hukuman bagi pelaku kekerasan.

Meskipun demikian, aturan tersebut seolah tak membuat masyarakat jera. Masih banyak kasus penyiksaan hewan yang dilakukan masyarakat di antaranya dua pria bermotor di Tangerang yang diketahui menyeret seekor anjing menggunakan tali tuntun.

Berikut 5 kasus kekerasan terhadap hewan yang terjadi di wilayah Jabodetabek sejak tahun 2019.

1. Makan Kucing Hidup-Hidup

Pada tahun 2019, publik digegerkan dengan beredarnya sebuah video yang menampilkan seorang pria sedang memakan kucing secara hidup-hidup. Video tersebut viral di media sosial hingga polisi pun turun tangan untuk mengungkap identitas pria pemakan kucing tersebut.

Tak butuh waktu lama, seorang pria bernama Sanca (69) alias Abah Grandong kemudian menyerahkan diri ke Polres Jakarta Pusat. Abah Grandong mengaku sebagai pria pemakan kucing dalam rekaman video yang beredar viral di media sosial.

Baca juga: Abah Grandong Si Pemakan Kucing Akhirnya Menyerahkan Diri

Abah Grandong mendatangi Polres Jakarta Pusat pada 1 Agustus 2019 ditemani salah satu kerabatnya. Kepada polisi, Abah Grandong mengakui perbuatannya yang memakan kucing secara hidup-hidup. Dia mengaku melakukan tindakan tersebut tanpa sadar, sebab dia mengira dirinya memakan kelinci.

Peristiwa tersebut berawal ketika dia merasa kesal dengan sejumlah pedagang yang berjualan di lahan sengketa di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Para pedagang tersebut tetap berjualan di lahan sengketa walaupun telah mendapat larangan.

Saat emosi, Abah Grandong langsung memakan kucing yang dia kira sebagai kelinci.

"Karena tidak sadar katanya, tiba-tiba makan saja. Emosi dia, karena ada orang yang dibilangin (tetapi) tidak mau dengar," ujar Kasatreskrim Polres Jakarta Pusat yang kala itu dijabat AKBP Tahan Marpaung.

"Aksinya spontan saja. Ternyata ada kucing lewat, dia kira kelinci, langsung dimakan. Dia gak sadar," lanjutnya.

Baca juga: Abah Grandong Mengaku Tak Sadar Makan Kucing, Dia Kira Kelinci

 

Atas perbuatannya, Abah Grandong ditetapkan sebagai tersangka. Sementara itu, perwakilan keluarga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas perbuatan Abah Grandong.

"Saya dari keluarga Abah memohon maaf kepada masyarakat Indonesia," ujar perwakilan keluarga bernama Deden.

Deden juga menyebut Abah Grandong kerap bersikap aneh sejak belajar ilmu hitam.

“Dia juga sering kerasukan karena menuntut ilmu hitam itu,” ujar Deden.

2. Pukul Kucing karena Buang Air Besar di Pot Bunga

Pada Februari 2020, sebuah video penyiksaan hewan kembali beredar viral di media sosial. Kali ini, video itu menampilkan seorang pria berinisial RH yang memukul kucing hingga tewas.

Atas perbuatannya tersebut, RH kemudian dilaporkan ke Polres Bekasi oleh Ketua dan Pendiri Animal Defenders Indonesia, Doni Herdaru Tona. Menurut Doni, pria tersebut memukul kucing hingga tewas lantaran kesal hewan milik tetangganya itu kerap buang air besar di pot bunga rumahnya.

Baca juga: RH Pukul Kucing karena Kesal Hewan Milik Tetangganya Itu Buang Air Besar di Pot Bunga

"Kami dapat informasi bahwa pelaku kesal si kucing buang air besar di pot (rumahnya), tapi diminta bukti kalau kucing yang dipukul itu buang air besar itu dia tidak bisa, dia cuma menduga saja," ujar Doni di Polres Bekasi, Selasa (18/2/2020).

Doni mengungkapkan, RH seharusnya tidak menganiaya kucing hanya karena buang air besar di pot rumahnya.

"Permasalahannya untuk buang air sembarangan ya, penyelesaiannya bukan dengan dibunuh, itu salah ya," kata dia.

3. Tembak Kucing Liar hingga Tewas

Pada Desember 2020, publik kembali dikejutkan dengan kabar penembakan kucing liar di daerah Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur.

Seorang pria berinisial SO dilaporkan ke Polres Jakarta Timur karena diduga menembak sejumlah kucing liar di Jalan Daksinapati Timur III menggunakan senapan angin.

Baca juga: Tembak Kucing Liar hingga Tewas, Warga Rawamangun Dilaporkan ke Polisi

 

Laporan tersebut dibuat oleh Ketua Indonesia Sayang Kucing Domestik (ISKD) Sani Kurniawan.

"Satu kucing di antaranya mati, sementara satu lainnya selamat dan sekarang masih dalam perawatan. Kejadiannya tanggal 9 Desember 2020," kata Sani di Mapolres Metro Jakarta Timur, Jumat (18/12/2020).

Berdasarkan kesaksian warga, SO diketahui menembak kucing dari lantai dua rumahnya beberapa kali. Tiga peluru di antaranya bersarang pada bagian kaki dan dagu satu kucing yang berhasil selamat dan kini dirawat oleh ISKD.

Baca juga: Tenar Gara-gara Tembak Kucing, Danang Kehilangan Pekerjaan

Berdasarkan keterangan warga setempat, SO sudah berulang kali melakukan hal serupa sepanjang 2020.

"Kalau berdasar hasil pemeriksaan dokter dan dilihat dari lintasan pelurunya, ini tembakan pertama di bagian kaki, jadi memang mengincar melumpuhkan gerak kucing dulu," ujarnya.

Menurut Sani, warga di sekitar rumah SO sudah mencoba melaporkan kasus ke ketua RT/RW setempat agar pelaku ditegur, tetapi upaya tersebut gagal.

4. Masak Kucing Milik Pak RT untuk Obat Asma

Pada awal tahun 2021, kabar penyiksaan hewan kembali menyeruak. Kali ini, penyiksaan hewan dilakukan oleh seorang ibu di wilayah Kalideres, Jakarta Barat.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, tampak seorang ibu diamankan oleh sejumlah warga. Ibu tersebut diamankan karena diduga membunuh kucing milik ketua RT setempat.

Kanit Reskrim Polsek Kalideres, AKP Anggoro Winardi mengatakan, Kepolisian sudah memeriksa ibu tersebut. Berdasarkan pengakuan ibu itu, dia memasak kucing milik Pak RT untuk pengobatan suaminya yang sedang mengidap penyakit asma.

"Karena korban yang tidak menuntut dan dia juga itu untuk pengobatan suaminya yang sakit asma. Menurut keyakinannya kucing tersebut bisa mengobati sakit suaminya yang kena asma," tutur Anggoro, Senin (1/2/2021).

Baca juga: Kasus Ibu Masak Kucing Pak RT untuk Obat Asma, Polisi: Selesai Secara Kekeluargaan

 

Pemilik kucing dan pelaku kemudian memutuskan menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan dengan membuat surat pernyataan.

"Jadinya antara si pemilik kucing dengan yang bersangkutan membuat surat pernyataan dan video pernyataan bahwa untuk saat ini dimaafkan, untuk tidak mengulangi," ucap Anggoro.

"Tidak ada penahanan, proses hukum tidak ada, karena kedua belah pihak bersepakat untuk menyelesaikan secara kekeluargaan," lanjutnya.

5. Pengendara Motor Seret Anjing Pakai Tali

Baru-baru ini, publik digegerkan dengan beredarnya sebuah foto yang menampilkan seekor anjing curian diseret menggunakan tali oleh dua pria yang tengah mengendarai motor dengan pelat B 3759 CPT. Foto tersebut tersebar pada Senin kemarin.

Pria yang dibonceng tampak menyeret seekor anjing menggunakan tali tuntun. Anjing yang diseret itu pun tampak terjatuh ke sisi kiri hingga mengenai aspal.

Baca juga: Anjing yang Diseret Pengendara Motor di Tangerang Ternyata Hewan Curian

Direktur Operasional Yayasan Natha Satwa Nusantara Anisa Ratna mengatakan, awalnya anjing tersebut sedang berada di toko bangunan di wilayah Curug, Kabupaten Tangerang, Banten. Kemudian, dua pria itu mencuri anjing dan melarikan diri.

"(Lalu), penjaga toko itu mengejar (dua pencuri itu), tapi enggak sempat terkejar karena terhalang angkot," kata Anisa.

Penjaga toko lalu melaporkan kasus pencurian itu kepada pemilik anjing yang juga berada di wilayah Curug.

Setelah mendapatkan foto anjing yang diseret itu, Annisa langsung melaporkan dua pria dalam foto ke Kepolisian dengan Pasal 302 KUHP tentang Perlindungan Hewan dan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Di hari yang sama, sang pemilik melaporkan kasus ini ke aparat kepolisian dibantu oleh Yayasan Natha Satwa Nusantara.

Baca juga: Laporan Kasus Seekor Anjing Dicuri dan Diseret Pakai Motor Ditolak Polisi

 

Akan tetapi, laporan itu ditolak oleh polisi karena dokumen yang dibawa belum lengkap.

"Kami harus memiliki bukti kepemilikan anjing tersebut," ungkap Anisa.

Selain itu, lokasi penyeretan anjing itu juga menjadi masalah. Pasalnya, penyeretan itu awalnya dilakukan di Curug dan diduga diseret sampai wilayah Kota Tangerang. Sehingga, yayasan tersebut serta pemiliknya harus membuat laporan ke Polresta Tangerang Selatan.

"Kalau masih sulit juga, kami lapornya ke Polda deh, Polda Metro (Jaya)," ungkap Anisa.

 

 

(Penulis : Cynthia Lova, Ira Gita Natalia Sembiring, Muhammad Naufal | Editor : Egidius Patnistik, Irfan Maullana, Nursita Sari, Sandro Gatra)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tidak Ada Kampung Pecinan di Pondok Cina Depok, Begini Alasan dan Sejarahnya...

Tidak Ada Kampung Pecinan di Pondok Cina Depok, Begini Alasan dan Sejarahnya...

Megapolitan
Fakta Baru Sekeluarga Tewas di Kalideres, Berkaitan dengan Ritual yang Bersumber dari Budyanto

Fakta Baru Sekeluarga Tewas di Kalideres, Berkaitan dengan Ritual yang Bersumber dari Budyanto

Megapolitan
Ingin Segera Huni Kampung Susun Bayam, Korban Gusuran: Biar Tenang Cari Uang Buat Bayar Sewa

Ingin Segera Huni Kampung Susun Bayam, Korban Gusuran: Biar Tenang Cari Uang Buat Bayar Sewa

Megapolitan
Rumah Sosial Kutub Bergerak Jadikan Limbah Minyak Jelantah Jadi Sedekah

Rumah Sosial Kutub Bergerak Jadikan Limbah Minyak Jelantah Jadi Sedekah

Megapolitan
Kali Angke yang Kini Mudah Meluap, Dulunya Jadi Andalan Moda Transportasi Air Batavia

Kali Angke yang Kini Mudah Meluap, Dulunya Jadi Andalan Moda Transportasi Air Batavia

Megapolitan
Kisah Jaelani, Petugas PPSU yang Lukis Kolong Tol di Jakarta Barat

Kisah Jaelani, Petugas PPSU yang Lukis Kolong Tol di Jakarta Barat

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Menengok Halte Bundaran HI Usai Direvitalisasi | Tanggul Laut yang Retak di Jakarta Ditambal Seadanya

[POPULER JABODETABEK] Menengok Halte Bundaran HI Usai Direvitalisasi | Tanggul Laut yang Retak di Jakarta Ditambal Seadanya

Megapolitan
Jalur Sepeda di Jalan Penjernihan 1 Diterobos Motor dan Angkot Saat Jam Pulang Kantor

Jalur Sepeda di Jalan Penjernihan 1 Diterobos Motor dan Angkot Saat Jam Pulang Kantor

Megapolitan
Anggarannya Dipangkas, Jakpro Hanya Akan Bangun ITF Sunter Pakai PMD

Anggarannya Dipangkas, Jakpro Hanya Akan Bangun ITF Sunter Pakai PMD

Megapolitan
Pengusaha dan Buruh Kompak Tolak UMP DKI 2023 yang Naik Jadi Rp 4,9 Juta

Pengusaha dan Buruh Kompak Tolak UMP DKI 2023 yang Naik Jadi Rp 4,9 Juta

Megapolitan
Polres Jaksel Sita CCTV untuk Usut Kasus Anak Kombes Aniaya Teman di PTIK

Polres Jaksel Sita CCTV untuk Usut Kasus Anak Kombes Aniaya Teman di PTIK

Megapolitan
 Saat Jakpro Disebut Tetap Cari Untung Dari Korban Gusuran JIS

Saat Jakpro Disebut Tetap Cari Untung Dari Korban Gusuran JIS

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Jakarta Cerah Berawan Sepanjang Hari

Prakiraan Cuaca BMKG: Jakarta Cerah Berawan Sepanjang Hari

Megapolitan
Buku Mantra dan Ritual Budyanto di Balik Tewasnya Sekeluarga di Kalideres

Buku Mantra dan Ritual Budyanto di Balik Tewasnya Sekeluarga di Kalideres

Megapolitan
APBD DKI 2023 Rp 83,7 Triliun Fokus untuk 3 Program Prioritas, Fitra: Jangan Dulu Terkecoh

APBD DKI 2023 Rp 83,7 Triliun Fokus untuk 3 Program Prioritas, Fitra: Jangan Dulu Terkecoh

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.