Walau Keluar dari Rutan Pondok Bambu, Lucinta Luna Tetap Diawasi hingga Status Bebas Murni

Kompas.com - 15/02/2021, 17:02 WIB
Sidang kasus krpemilikan narkoba Lucinta Luna di Polres Metro Jakarta Barat, Rabu (29/7/2020) KOMPAS.COM/JIMMY RAMADHAN AZHARISidang kasus krpemilikan narkoba Lucinta Luna di Polres Metro Jakarta Barat, Rabu (29/7/2020)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Bagian Humas dan Protokol Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham Rika Apriyanti mengatakan, selebritas Lucinta Luna tetap mendapatkan bimbingan dan pengawasan hingga mendapatkan surat bebas murni.

"Tetap diawasi Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Jakarta Barat, sampai 2 Agustus 2021. Sampai dengan bebas murninya," ujar Rika kepada Kompas.com, Senin (15/2/2021) sore.

Lucinta Luna keluar dari Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu Jakarta Timur setelah mendapat asimilasi.

"Yang bersangkutan dinyatakan memenuhi syarat administratif dan substantif untuk menerima asimilasi di rumah dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19," ujar Rika dalam keterangan tertulisnya, Senin.

Baca juga: Keluar dari Rutan Pondok Bambu, Lucinta Luna Jalani Asimilasi di Rumah

Rika mengatakan keputusan bebas Lucinta Luna diatur berdasarkan Permenkumham Nomor 32 tahun 2020 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Asimilasi, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat Bagi Narapidana dan Anak.

Rutan Kelas I Pondok Bambu memberikan asimilasi di rumah terhadap pemilik nama Ayluna Putri itu sejak Kamis (11/2/2021).

"Seluruh kegiatan pengeluaran asimilasi di rumah bagi warga binaan pemasyarakatan Ayluna Putri ini dilaksanakan sesuai dengan penerapan protokol kesehatan," kata Rika.

Lucinta Luna merupakan narapidana kasus penyalahgunaan narkotika yang melanggar Pasal 127(1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkoba.

Lucinta ditahan sejak 12 Februari 2020 dan menerima putusan pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan dan denda Rp 10 juta subsider 1 bulan kurungan.

Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Reinhard Silitonga sebelumnya mengatakan, pemberian asimilasi bagi narapidana di tengah wabah virus corona (Covid-19) adalah langkah terbaik yang harus diambil. Menurut Reinhard, pemberian asimilasi diperlukan karena kondisi di lembaga pemasyarakatan sudah penuh. Ia menegaskan bahwa tidak semua narapidana mendapat asimilasi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X