Penyebab Pengendalian Banjir Kali Cakung di Bekasi Tak Selesai Tahun Ini

Kompas.com - 01/03/2021, 20:23 WIB
Pasien Covid-19 terdampak banjir di Perumahan Bumi Nasio Indah, Jati Asih, Bekasi dievakuasi petugas, Minggu (21/2/2021). KOMPAS.com/Tria SutrisnaPasien Covid-19 terdampak banjir di Perumahan Bumi Nasio Indah, Jati Asih, Bekasi dievakuasi petugas, Minggu (21/2/2021).


BEKASI, KOMPAS.com - Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menganggap pengendalian banjir di wilayahnya akibat luapan Kali Cakung tak akan selesai dalam setahun.

"Belum bisa kalau tahun ini. Bertahap, karena kita perlu pembebasan lahan," ujar pria yang akrab disapa Pepen itu kepada wartawan pada Senin (1/3/2021).

Pemerintah Kota Bekasi kini disebut sedang fokus terhadap pengendalian banjir di wilayah sekitar Kali Cakung sebab penanganan Kali Bekasi ada di pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Kementerian PUPR.

Baca juga: Terdampak Banjir Kabupaten Bekasi, 2 Jalur KA antara Stasiun Kedunggedeh-Lemah Abang Selesai Diperbaiki

Dalam skema pengendalian banjir Kali Cakung versi Pepen, polder-polder air baru harus dibangun di sekitar aliran kali sebagai tangkapan air.

Beberapa titik polder air yang perlu dibangun membentang dari Perumahan Bumi Nasio Indah, Perumahan Graha Indah, Kawasan Jalan I Gusti Ngurah Rai Bekasi Barat, hingga Grand Kota Bintang.

"Harus ada polder air, jadi kurang lebih empat atau lima polder air yang harus kita bangun untuk pengendalian banjir di aliran Kali Cakung," ujar Pepen.

"Lahan yang tersedia baru di Jalan I Gusti Ngurah Rai, di sana kita sudah punya 2,2 hektar," tambahnya.

Baca juga: Sungai Cikeas Tersumbat, Berpotensi Jadi Penyebab Banjir di Bekasi

Pepen mengeklaim, polder-polder air baru ini dapat mengurangi potensi banjir hingga 50 persen. Dua puluh persen lainnya ialah perilaku warga agar tidak membuang sampah sembarangan dan 30 persen sisanya ada pada normalisasi volume Kali Cakung itu sendiri yang kini banyak terserobot oleh rumah-rumah di garis sempadan.

"Pengembalian fungsi-fungsi sungai yang menyempit dilakukan dengan penekanan restorative justice," jelas Pepen.

Ia mengakui bahwa sejak lama ada alih fungsi lahan di Kota Bekasi yang tak selalu legal. Pepen menganggap restorative justice sebagai jalan tengah.

Warga yang selama ini tinggal di garis sempadan sungai tanpa izin tak akan dipidana, namun harus membongkar rumahnya untuk keperluan normalisasi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 22 April: Ada 1.266 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, 7.045 Pasien Dirawat

UPDATE 22 April: Ada 1.266 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, 7.045 Pasien Dirawat

Megapolitan
Jenazah Radhar Panca Dahana Akan Dimakamkan di TPU Tanah Kusir

Jenazah Radhar Panca Dahana Akan Dimakamkan di TPU Tanah Kusir

Megapolitan
Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia akibat Serangan Jantung

Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia akibat Serangan Jantung

Megapolitan
UPDATE 22 April: Ada 615 Pasien Covid-19 di Tangsel

UPDATE 22 April: Ada 615 Pasien Covid-19 di Tangsel

Megapolitan
Obituari Radhar Panca Dahana: Berjuang untuk Seni dan Budaya Indonesia hingga Napas Terakhir

Obituari Radhar Panca Dahana: Berjuang untuk Seni dan Budaya Indonesia hingga Napas Terakhir

Megapolitan
Radhar Panca Dahana Bertahun-tahun Berjuang Lawan Gagal Ginjal, Seminggu 3 Kali Cuci Darah

Radhar Panca Dahana Bertahun-tahun Berjuang Lawan Gagal Ginjal, Seminggu 3 Kali Cuci Darah

Megapolitan
Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia

Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia

Megapolitan
Dimulai 2019, Penanaman 200.000 Pohon di Jakarta Ditargetkan Terpenuhi pada 2022

Dimulai 2019, Penanaman 200.000 Pohon di Jakarta Ditargetkan Terpenuhi pada 2022

Megapolitan
Saat Rizieq Shihab 'Ngamuk': Kesal karena Sidang Online, Cap Bima Arya Pembohong, Bentak Jaksa dan Satpol PP

Saat Rizieq Shihab "Ngamuk": Kesal karena Sidang Online, Cap Bima Arya Pembohong, Bentak Jaksa dan Satpol PP

Megapolitan
Tumpukan Ban Bekas di Kampung Boncos Terbakar, Api Merambat ke Rumah Warga

Tumpukan Ban Bekas di Kampung Boncos Terbakar, Api Merambat ke Rumah Warga

Megapolitan
Ini Kronologi Kasus Pencurian Motor di Joglo yang Pelakunya Terekam CCTV

Ini Kronologi Kasus Pencurian Motor di Joglo yang Pelakunya Terekam CCTV

Megapolitan
Kak Seto: Walau yang Perkosa dan Jual Remaja di Bekasi Anak Anggota DPRD, Polisi Harus Tegas

Kak Seto: Walau yang Perkosa dan Jual Remaja di Bekasi Anak Anggota DPRD, Polisi Harus Tegas

Megapolitan
Salah Gunakan Dana BOS dan BOP, Mantan Kepala SMKN 53 Ditetapkan Jadi Tersangka

Salah Gunakan Dana BOS dan BOP, Mantan Kepala SMKN 53 Ditetapkan Jadi Tersangka

Megapolitan
Pingsan Setelah Ditonjok Sopir Lain, Pengemudi Taksi Tabrak Gerbang Mapolres Jakbar

Pingsan Setelah Ditonjok Sopir Lain, Pengemudi Taksi Tabrak Gerbang Mapolres Jakbar

Megapolitan
Praktik Prostitusi Online Anak di Penginapan Tebet, Warga: Enggak Terpikir Jadi Tempat Open BO

Praktik Prostitusi Online Anak di Penginapan Tebet, Warga: Enggak Terpikir Jadi Tempat Open BO

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X