Kisah Keluarga Waluyo yang Termarjinalkan, Hidup di Pinggir Rel Manggarai Tanpa Listrik

Kompas.com - 14/03/2021, 07:06 WIB
Ahmad (5), anak Waluyo menghabiskan waktu sore hari di pinggir rel kereta Manggarai-Cikarang tepatnya di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan pada Jumat (13/3/2021) sore. Keluarga Waluyo merupakan potret keluarga yang termarjinalkan di ibu kota. KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJOAhmad (5), anak Waluyo menghabiskan waktu sore hari di pinggir rel kereta Manggarai-Cikarang tepatnya di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan pada Jumat (13/3/2021) sore. Keluarga Waluyo merupakan potret keluarga yang termarjinalkan di ibu kota.

Suatu saat ia pernah tinggal di Jakarta Barat sebelum pindah ke pinggir rel kereta Manggarai-Jatinegara. Waluyo pindah kerja ke daerah Manggarai sebagai kuli serabutan.

“Kita dulu ngontrak, kan saya pindah dari kampung pas Putra umur 40 hari terus pindahnya ke Jakarta Barat,” ujar Saanih.

Rumah Waluyo sebelumnya sekitar 100 meter dari tempatnya sekarang. Pada tahun 2018, ia pindah ke Manggarai dari Jakarta Barat.

Saat itu bedengnya terkena gusuran imbas dari pembangunan jalur DDT Manggarai-Cikarang. Namun, bentuk rumahnya tetap sama. Bedeng dari seng sana sini dari tawaran seseorang. Lima bulan sudah keluarga Waluyo tinggal di bedeng reot.

Baca juga: 16 Rusun Dibangun untuk Pemulung dan Manusia Gerobak di Seluruh Indonesia

Termarjinalkan: hidup tanpa listrik sampai putus sekolah

Ahmad asyik dengan mainan traktornya. Moncong traktornya menggaruk batu kerikil. Sesekali, Ahmad berlari-lari dengan kaki telanjang. Tak ada handphone dengan kamera 64 megapiksel dan aplikasi game PUBG di tangan anak-anak Waluyo.

Rel kereta, sungai Ciliwung, dan kerikil-kerikil adalah wahana bermain anak-anak Waluyo. Suatu waktu, Dana hampir terserempet kereta. Kepala Dana hampir tergilas roda kereta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Gak tau dia (Dana) ikutin bapaknya. Bapaknya udah turun (turun ke rumahnya yang di bawah), dianya belum turun. Bapaknya juga gatau diikutin anaknya,” ujar Sa'anih sambil mengelus kepala Dana.

Kepala Dana membentur bemper kereta. Beruntung kereta sedang tak berjalan. Anak Waluyo hampir bertemu malaikat maut.

Bedeng Waluyo pun belum dialiri listrik. Setiap hari, Waluyo dan keluarganya bergantung kepada lilin yang berpendar.

Untuk mengisi baterai handphone jadul semata mayang pun harus menumpang ke tetangga. Handphonenya pun tak bisa digunakan untuk belajar online.

Baca juga: Wapres: Rencana Pembangunan Rusun Eks Pemulung dan Tunawisma Sejalan dengan Program Perumahan MBR

“Handphone dulu Samsung J2 sudah dijual Rp400 ribu. Yah dijual buat makan dan pas-pasan,” ujar Waluyo.

Putra sudah putus sekolah sejak dua bulan lalu. Handphone Waluyo sudah dijual. Pihak sekolah pun belum tahu keberadaan Putra.

“Sekolahnya berhenti dulu. Belum tahu sih, kalau tahu sih ke sini gurunya. Kan belum tahu kasih tahu tempatnya,” kata Waluyo.

Untuk urusan makan pun Sa'anih bergantung pada warung makan. Tak ada dapur di rumahnya. Bila keluarganya lapar, ia harus beli ke warung makan.

Berharap diperhatikan hingga ingin berdagang nasi goreng

Keluarga Waluyo bercengkerama sambil menghabiskan sore hari di pinggir rel kereta Manggarai-Cikarang tepatnya di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan pada Jumat (13/3/2021) sore. Keluarga Waluyo merupakan potret keluarga yang termarjinalkan di ibu kota.KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO Keluarga Waluyo bercengkerama sambil menghabiskan sore hari di pinggir rel kereta Manggarai-Cikarang tepatnya di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan pada Jumat (13/3/2021) sore. Keluarga Waluyo merupakan potret keluarga yang termarjinalkan di ibu kota.

Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Di Balik Patung Jakob Oetama yang Sederhana, Pena Berharga  dan Penyertaan Tuhan

Di Balik Patung Jakob Oetama yang Sederhana, Pena Berharga dan Penyertaan Tuhan

Megapolitan
Ada Temuan Pelanggaran Prokes, SDN 05 Jagakarsa Belum Gelar PTM hingga Saat Ini

Ada Temuan Pelanggaran Prokes, SDN 05 Jagakarsa Belum Gelar PTM hingga Saat Ini

Megapolitan
UPDATE 27 September: Bertambah 7 Kasus Covid-19 dan 25 Pasien Sembuh di Tangsel

UPDATE 27 September: Bertambah 7 Kasus Covid-19 dan 25 Pasien Sembuh di Tangsel

Megapolitan
Ketua DPRD DKI Sebut Rapat Bamus Interpelasi Disetujui Tujuh Fraksi

Ketua DPRD DKI Sebut Rapat Bamus Interpelasi Disetujui Tujuh Fraksi

Megapolitan
Vaksinasi Covid-19 Dosis 1 di Depok Capai 1 Juta Penduduk, Masih Kurang 600.000 dari Target

Vaksinasi Covid-19 Dosis 1 di Depok Capai 1 Juta Penduduk, Masih Kurang 600.000 dari Target

Megapolitan
Anggota DPRD DKI Viani Limardi Bantah Gelembungkan Dana Reses yang Dituduhkan PSI

Anggota DPRD DKI Viani Limardi Bantah Gelembungkan Dana Reses yang Dituduhkan PSI

Megapolitan
Januari-September, DLH Temukan 7 TPS Ilegal di Kota Tangerang

Januari-September, DLH Temukan 7 TPS Ilegal di Kota Tangerang

Megapolitan
Seorang Tukang Bangunan Tewas Tersengat Listrik di Duren Sawit

Seorang Tukang Bangunan Tewas Tersengat Listrik di Duren Sawit

Megapolitan
Korban Pelecehan KPI Minta Perlindungan LPSK agar Tak Dilaporkan Balik

Korban Pelecehan KPI Minta Perlindungan LPSK agar Tak Dilaporkan Balik

Megapolitan
Demo di Depan Gedung KPK Berakhir, Polisi dan Mahasiswa Punguti Sampah

Demo di Depan Gedung KPK Berakhir, Polisi dan Mahasiswa Punguti Sampah

Megapolitan
Anggota DPRD DKI Viani Limardi Mengaku Belum Terima Surat Pemecatannya sebagai Kader PSI

Anggota DPRD DKI Viani Limardi Mengaku Belum Terima Surat Pemecatannya sebagai Kader PSI

Megapolitan
Kasus Dugaan Pungli 16 Sekuriti di Kembangan, Pihak Penyedia Jasa Keamanan Turut Diperiksa

Kasus Dugaan Pungli 16 Sekuriti di Kembangan, Pihak Penyedia Jasa Keamanan Turut Diperiksa

Megapolitan
Dipanggil terkait Kasus Dugaan Pungli 16 Sekuriti, Ketua RW di Kembangan Tak Hadir

Dipanggil terkait Kasus Dugaan Pungli 16 Sekuriti, Ketua RW di Kembangan Tak Hadir

Megapolitan
Awasi Aktivitas di 6 TPS Liar yang Disegel, DLH Kota Tangerang Gandeng Satpol PP

Awasi Aktivitas di 6 TPS Liar yang Disegel, DLH Kota Tangerang Gandeng Satpol PP

Megapolitan
Kasus Bayi Dijadikan Manusia Silver di Tangsel, Polisi Diminta Ikut Aktif Cegah Eksploitasi Anak

Kasus Bayi Dijadikan Manusia Silver di Tangsel, Polisi Diminta Ikut Aktif Cegah Eksploitasi Anak

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.