Kompas.com - 30/03/2021, 12:02 WIB
Jusak Johan Handoyo saat menunjukan koleksi benda-benda pos miliknya di Galeri Sangadji, Koja, Jakarta Utara, Senin (29/3/2021). KOMPAS.com/Tria SutrisnaJusak Johan Handoyo saat menunjukan koleksi benda-benda pos miliknya di Galeri Sangadji, Koja, Jakarta Utara, Senin (29/3/2021).
|

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Prangko maupun kartu pos boleh jadi tidak lagi digunakan sebagai alat pembayaran pengiriman surat.

Aktivitas itu dianggap konvensional dan kian meredup seiring berkembangnya teknologi.

Namun, di mata segelintir orang, benda-benda pos itu dianggap berharga, memiliki nilai sejarah.

Bahkan, di tangan orang-orang yang mengoleksinya, prangko bisa menjadi barang bernilai jual tinggi.

Anggapan itu mendorong para filatelis -orang yang gemar mengoleksi prangko- berupaya melestarikan hobi tersebut dan memperkenalkannya kepada generasi muda agar prangko tidak terlupakan.

Baca juga: Kisah Jusak Sang Keluarga Prangko, Ubah Rumah Jadi Galeri demi Merawat Hobi Filateli

Jusak Johan Handoyo menjadi salah satu orang yang konsisten mengumpulkan prangko serta benda-benda pos lainnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sudah puluhan tahun dia melakoni hobi tersebut bersama sang Istri, lalu mewariskannya kepada anak-anaknya.

"Prangko itu kertas biasa, tapi menjadi sangat berharga. Di luar menjadi investasi, banyak pengetahuan yang bisa kita dapat," ujar Jusak saat berbincang dengan Kompas.com, Senin (29/3/2021).

Jusak pun berbagi cerita tentang hobi dan menularkan kegemarannya mengumpulkan benda-benda pos kepada keluarga.

Ingatan Jusak tajam saat menceritakan cara dia memperkenalkan prangko kepada anak pertamanya.

Prangko bergambar tematik

Kala itu, Jusak yang bekerja sebagai teknisi kapal harus bepergian keluar kota bahkan keluar negeri. Dia pun kerap mengirimkan surat kepada istri dan anaknya.

Namun, surat tersebut bukan sekadar untuk memberikan kabar kepada keluarga.

Di setiap surat yang dikirimkan selalu tersemat prangko dan kartu pos baru bergambar tematik.

"Jadi saya tanya ke anak yang pertama. Kamu suka apa? Dia bilang pesawat, makanya saya selalu belikan dia prangko pesawat. Akhirnya dia minta lagi dan maunya ya (gambar) pesawat," ujar Jusak.

Baca juga: Merawat Sejarah lewat Prangko di Museum TMII...

Bersurat sambil mengirimkan prangko selalu dilakukan Jusak selama bertahun-tahun kepada keempat anaknya.

Sampai akhirnya anak-anak Jusak memiliki koleksi prangko tematiknya masing-masing, yakni gambar pesawat, burung, bunga, dan ikan.

"Yang ketiga itu bunga, karena perempuan. Makanya saya cari prangko yang bunga dari berbagai negara," kata Jusak.

Kantor pos jadi tujuan utama

Aktivitas membeli prangko untuk keluarga yang selalu dilakukan Jusak saat berdinas membuat rekan-rekanmya begitu hafal gerak-gerik dia ketika berlabuh.

"Seluruh teman-teman itu sampai hafal, pasti yang dicari kantor pos," kata Jusak sambil tertawa.

Menurut Jusak, cukup mudah mendapatkan prangko bergambar tematik untuk anak-anaknya.

Baca juga: Prangko Termahal di Indonesia Seharga Rp 5 Miliar, di Dunia Ada yang Harganya Rp 150 Miliar

Sebab, prangko bergambar pesawat, burung, bunga, ataupun ikan hampir diproduksi seluruh negara.

"Prangko tematik ini hampir 70 negara ada," jelas Jusak.

Sampai akhirnya, keempat anak Jusak mulai mencari dan mengumpulkan prangkonya sendiri dengan uang saku mereka, tidak lagi hanya bergantung pada kiriman sang ayah.

Jusak hanya membimbing anak-anaknya cara mencari, mengoleksi, dan merawat prangko serta benda-benda pos lain agar tetap terjaga.

Mencontek cara sang ayah

Cara Jusak memperkenalkan prangko kepada anak-anaknya ternyata memiliki kesamaan dengan awal mula dia menyukai prangko.

Jauh sebelum menikah, Jusak kecil sudah gemar mengoleksi prangko yang didapatkan dari surat-surat kiriman ayahnya ketika bertugas ke luar pulau.

Terkadang, Jusak juga mendapatkan prangko dari surat-surat yang tertumpuk di tong sampah di dekat rumahnya kala itu.

Baca juga: Mengenal Prangko Pertama di Indonesia, Harganya Capai Rp 1,6 Miliar

"Waktu itu masih SD, ketika saya masih tinggal di asrama Semarang. Jadi saya sama teman saling bertukar. Kadang cari-cari dari surat bekas," kata Jusak.

Koleksi prangko Jusak pun semakin beragam dan mendorong dia untuk mengumpulkan lebih banyak lagi benda-benda pos.

Tanpa disadari, hobi mengumpulkan prangko hingga kartu pos itu bertahan sampai dia bekerja, sampai akhirnya dia menikah lalu menularkan hobi itu kepada anggota keluarganya.

Menghabiskan hidup untuk merawat prangko

Prangko tampaknya sudah menjadi bagian tak terpisahkan bagi keluarga Jusak.

Jika waktu senggang, mereka kerap merapikan dan merawat koleksi prangko bersama-sama.

Kini, sebagian besar prangko koleksi Jusak, istri, dan keempat anaknya tersimpan rapi di kediamannya di kawasan Jalan Titan, Koja, Jakarta Utara.

Rumah itu sebagian ruangannya disulap menjadi galeri filateli bernama "Galeri Sangadji".

Baca juga: Hobi Filateli: Menangguk Cuan Ratusan Juta Rupiah dari Prangko

Jusak berharap galeri bentukannya bisa menjadi tempat untuk memperkenalkan sekaligus memotivasi generasi muda untuk mulai mengoleksi benda-benda pos bersejarah.

Sebab, prangko maupun benda-benda pos lainnya memiliki sejarah dan tak ada yang tidak bernilai, sehingga perlu dijaga dan dikenalkan kepada generasi selanjutnya.

"Tidak ada prangko yang tidak berharga. Semuanya memiliki sejarah dan tentu memiliki nilai jual," kata Jusak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ragunan dan 58 Taman di Jakarta Dibuka, Ini Syarat Wajib bagi Pengunjung

Ragunan dan 58 Taman di Jakarta Dibuka, Ini Syarat Wajib bagi Pengunjung

Megapolitan
Wagub DKI Sebut Kerja Sama TPST Bantargebang dengan Pemkot Bekasi Diteken Senin Depan

Wagub DKI Sebut Kerja Sama TPST Bantargebang dengan Pemkot Bekasi Diteken Senin Depan

Megapolitan
Wagub DKI: Sudah Tidak Ditemukan Kandungan Parasetamol di Teluk Jakarta

Wagub DKI: Sudah Tidak Ditemukan Kandungan Parasetamol di Teluk Jakarta

Megapolitan
Kepala Basarnas Harap Polisi Segera Tangkap Perampok yang Bunuh Karyawannya

Kepala Basarnas Harap Polisi Segera Tangkap Perampok yang Bunuh Karyawannya

Megapolitan
Polisi Buru Penyuplai Dana dari 5 Perusahaan Pinjol yang Digerebek

Polisi Buru Penyuplai Dana dari 5 Perusahaan Pinjol yang Digerebek

Megapolitan
59 RTH Mulai Dibuka, Wagub DKI Minta Masyarakat Tetap Jaga Protokol Kesehatan

59 RTH Mulai Dibuka, Wagub DKI Minta Masyarakat Tetap Jaga Protokol Kesehatan

Megapolitan
Anak Diduga Korban Kekerasan Ibu Kandung di Duri Kepa Dapat Pendampingan Psikologis

Anak Diduga Korban Kekerasan Ibu Kandung di Duri Kepa Dapat Pendampingan Psikologis

Megapolitan
Ganjil Genap di Kawasan TMII dan Ancol, Pelanggar yang Terjaring Akan Diputar Balik

Ganjil Genap di Kawasan TMII dan Ancol, Pelanggar yang Terjaring Akan Diputar Balik

Megapolitan
Polisi: Besarnya Permintaan Konsumen Sebabkan Tingginya Kasus Narkotika

Polisi: Besarnya Permintaan Konsumen Sebabkan Tingginya Kasus Narkotika

Megapolitan
Polisi Mengaku Selalu Kecolongan Saat Ingin Tertibkan Lokalisasi Liar Gunung Antang

Polisi Mengaku Selalu Kecolongan Saat Ingin Tertibkan Lokalisasi Liar Gunung Antang

Megapolitan
Polisi Buru 4 Perampok yang Bacok Karyawati Basarnas hingga Tewas

Polisi Buru 4 Perampok yang Bacok Karyawati Basarnas hingga Tewas

Megapolitan
Toko PS Store di Condet Terbakar

Toko PS Store di Condet Terbakar

Megapolitan
Dibanting Polisi hingga Kejang, Korban Pertimbangkan Tempuh Jalur Pidana

Dibanting Polisi hingga Kejang, Korban Pertimbangkan Tempuh Jalur Pidana

Megapolitan
Antipasi Banjir, Wali Kota Jaksel Minta Lurah dan Camat Cek Kondisi Pompa Air

Antipasi Banjir, Wali Kota Jaksel Minta Lurah dan Camat Cek Kondisi Pompa Air

Megapolitan
Pekerja LRT yang Jatuh dari Ketinggian 8 Meter Belum Sadar

Pekerja LRT yang Jatuh dari Ketinggian 8 Meter Belum Sadar

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.