Teladan dari Radhar Panca Dahana, Tetap Gigih Menafkahi Keluarga meski Badan Sudah Ringkih

Kompas.com - 23/04/2021, 05:15 WIB
Pembacaan puisi spiritual oleh Radhar Panca Dahana dalam ?LaluKau? di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (19/20/2020) malam. Karya panggung terbaru dari Teater Kosong ini mengungkapkan perjalanan spiritual Radhar Panca Dahana yang kontemplatif tentang hidup dan proses berkaryanya. LaluKau merupakan buku keempat dari tetralogi puisi Radhar Panca Dahana dengan tajuk ?Lalu?. KOMPAS/PRIYOMBODOPembacaan puisi spiritual oleh Radhar Panca Dahana dalam ?LaluKau? di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (19/20/2020) malam. Karya panggung terbaru dari Teater Kosong ini mengungkapkan perjalanan spiritual Radhar Panca Dahana yang kontemplatif tentang hidup dan proses berkaryanya. LaluKau merupakan buku keempat dari tetralogi puisi Radhar Panca Dahana dengan tajuk ?Lalu?.
|

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Dunia kesenian dan kesusastraan Indonesia berduka.

Radhar Panca Dahana, budayawan sekaligus sastrawan Tanah Air, meninggal dunia, Kamis (22/4/2021) malam.

Baca juga: Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia

Radhar Panca menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, sekitar pukul 20.30 WIB.

Sosoknya yang gigih dan tak kenal mengeluh dalam berbagai kondisi begitu lekat diingat oleh keluarga.

"Dia orangnya baik, suka menolong orang intinya itu. Walaupun dia sakit dia tetap bertanggung jawab dalam keluarga, apa pun itu," kata sang adik, Ratih, ketika menceritakan sosok Radhar Panca, Kamis malam.

Baca juga: Radhar Panca Dahana Bertahun-tahun Berjuang Lawan Gagal Ginjal, Seminggu 3 Kali Cuci Darah

Menurut Ratih, hal itu terlihat jelas dengan perjuangan Radhar Panca melawan penyakit yang dideritanya sambil tetap bekerja mencari nafkah untuk keluarga.

Di tengah kepadatan aktivitasnya, Radhar masih harus menjalani terapi cuci darah tiga kali seminggu selama kurang lebih 21 tahun terakhir.

Selama itu pula semangat Radhar Panca tak pernah surut untuk bisa terus berkecimpung di dunia seni dan sastra Tanah Air.

"Sudah lama dia itu, sudah 21 tahun cuci darah, badannya juga sudah ringkih, sudah lemah jadi banyak komplikasi. Seminggu dia tiga kali cuci darah, tapi dia masih tetap mencari nafkah, masih menanggung keluarganya, masih aktif," tutur Ratih.

Baca juga: Obituari Radhar Panca Dahana: Berjuang untuk Seni dan Budaya Indonesia hingga Napas Terakhir

"Di tengah pandemi covid-19 ini dia juga masih berusaha, dengan kondisi dia yang on off itu," ungkapnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X