Kompas.com - 23/04/2021, 11:56 WIB
Siti Hajar Ahli Teknologi Laboratorium Medik, Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) DKI Jakarta. Dok Pemprov DKI JakartaSiti Hajar Ahli Teknologi Laboratorium Medik, Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) DKI Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com - Jika dulu ada sebuah kisah tentang kesabaran Siti Hajar, istri nabi Ibrahim yang berjuang mengurus anaknya Nabi Ismail di tengah padang pasing jazirah Arab, tahun ini ada kisah lain tentang Siti Hajar yang berjuang di tengah pandemi Covid-19.

Dia Siti Hajar, ahli Tekonologi Laboratorium Medik (ATLM) Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) DKI Jakarta.

Siti Hajar bercerita tentang lika-liku perjuangannya sebagai operator laboratorium Labkesda, orang yang berada di balik layar menghitung angka Covid-19 yang setiap hari semakin bertambah di Jakarta.

Baca juga: Rika Andiarti, Penerus Semangat Kartini yang Bergelut di Dunia Penerbangan dan Antariksa

Wanita asal Aceh mengatakan, kisahnya di masa pandemi Covid-19 bermula dari penugasan Kepala Labkesda DKI Jakarta Endra Muryanto pada Maret 2020 lalu.

Endra saat itu meminta pegawai laboratorium mikrobiologi dan epidemiologi untuk ikut dalam pelatihan pemeriksaan sampel tes PCR di Litbangkes Kementerian Kesehatan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kepala Labkesda waktu itu pak Endra Muryanto minta ini ada pandemi, ayo Labkesda ikut pelatihan ke Litbang, kita ikut pelatihannya tiga hari," kata Siti saat diwawancarai Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis (22/4/2021).

Baca juga: Kenalan dengan Bintarti, Kartini Bidang Teknik di Blue Bird

Setelah tiga hari mengikuti pelatihan, Siti terkejut saat kembali ke kantor, lantaran di hari dia menyelesaikan pelatihan langsung diminta untuk memeriksa sampel yang dikirim dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Hari itu juga hasilnya ditunggu oleh Kepala Labkesda, dia bercerita pemeriksaan PCR pertama memakan waktu panjang hingga menjelang matahari terbenam. Padahal saat itu hanya ada 10 sampel yang diperiksa.

Sebenarnya untuk hitungan pemeriksaan, jumlah 10 sampel adalah jumlah yang kecil untuk saat ini. Namun ketika Covid-19 masuk ke Jakarta, jumlah tersebut membuat Siti dan satu rekannya di bagian ekstraksi harus gemetaran memegang tabung-tabung reaksi.

Baca juga: Fakta Menarik Irene Sukandar: Ambisi Kalahkan Kakak, Keliling Pasar Latih Mental, dan Karier Cemerlang

Rasa ngeri karena informasi virus Covid-19 yang berbahaya dan menular cepat membuat mereka harus ekstra hati-hati memeriksa sampel tersebut.

"Jadinya benar-benar hal yang baru, pekerjaan yang baru, jadi kaget kan. Kaget banget itu ngerjain langsung. Biasanya habis pelatihan ya ada lah persiapan dulu atau apa yang mau dipakai. Ini langsung reagen dikasih Litbang setelah dari pelatihan, di Labkesda langsung diminta kerjain sudah ada sampel dari Dinas, jadi kita langsung disuruh kerjain. Itu benar-benar deg-degan," kata dia.

Karena merasa canggung dan takut menghadapi virus Covid-19, ritme kerja Siti dan rekannya di Litbangkes sempat menjadi lambat.

Baca juga: Ruhana Kuddus, Wartawati Pertama yang Gencar Menentang Poligami, Nikah Dini dan Dominasi Laki-laki

Ditambah lagi, setelah pemeriksaan 10 sampel keluar, dinyatakan 10 sampel yang diperiksa positif secara keseluruhan. Hasil itu tentu membuat Siti merasa ngeri.

"Abis meriksa itu, saya langsung mandi karena takut tertular," ucap dia.

Semakin hari angka Covid-19 semakin naik

Siti mengatakan, Labkesda sendiri bukan kali pertama mengoperasikan alat pembaca PCR. Pada wabah flu burung 2008 lalu, Litbangkes pernah mengoperasikan PCR untuk menguji sampel orang-orang yang terpapar virus yang dikenal sebagai nama H5N1

Sebagai seorang yang sudah belasan tahun bergelut di Labkesda DKI Jakarta, Siti mengatakan bahwa pandemi Covid-19 merupakan wabah yang paling menyeramkan yang pernah dia tangani.

Pada saat wabah flu burung, wabah itu tidak memakan waktu banyak untuk menghilang dengan sendirinya.

Pandemi Covid-19 berbeda, sudah setahun sejak dia memeriksa sampel pertamanya, pandemi Covid-19 masih terus bertambah.

"Pemeriksaan makin nambah, setiap hari semakin bertambah banyak," kata dia.

Hingga Labkesda akhirnya memerlukan banyak relawan untuk membantu jalannya pemeriksaan PCR dari ribuan sampel yang dikirimkan setiap hari dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Baca juga: Kisah Ratu Tisha, Masuk di Pusaran Sepak Bola Tanah Air hingga Dobrak Tradisi

Di tengah-tengah menunggu hasil pembacaan PCR oleh mesin, Siti seringkali merenung bersama rekan-rekan kerjanya. Kapan pandemi ini berakhir?

Angka-angka di dalam monitor terus bertambah, sedangkan di balik kaca jendela tempat dia bekerja masih ada banyak masyarakat yang enggan menggunakan masker dan menjalankan protokol kesehatan.

"Kita waktu memeriksa di lab, seringkali berpikir ya Allah kenapa ini orang nggak mau dengar, kok orang-orang masih aja tetap bergerombol, ke mana-mana masih bikin acara, kumpul-kumpul di mana-mana. Suka sedih begitu aja ya Allah ini orang kok nggak sayang sama nyawa sendiri, apa mereka nggak berpikir makin bertambah begini, padahal kita sudah lelah," kata Siti.

Masih banyak yang tak percaya Covid-19

Keluh kesah Siti bersama rekan kerjanya di Laboratorium tak hanya dirasakan saat dia memeriksa sampel Covid-19. Dia juga merasakan tingkat kepercayaan masyarakat sangat rendah terhadap pandemi ini dari orang-orang di sekitar.

Misalnya saja saat Siti melakukan pengajian rutin terbatas di tempat tinggalnya di Komplek Halim Perdanakusuma Jakarta Timur.

Dia mengatakan, masih banyak orang di sekitar rumahnya yang enggan menerapkan protokol kesehatan secara disiplin. Meskipun Siti sebagai seorang yang bergelut dengan sampel Covid-19 seringkali mengingatkan.

"Kalau soal masyarakat masih banyak membandel pun, sampai saat ini masyarakat masih banyak," kata dia.

Baca juga: Soal Orang yang Menolak Vaksin karena Tak Percaya Covid-19, MUI: Ini Penyakit, Kita Wajib Berobat

Dia pernah menyempatkan diri untuk pulang ke tanah kelahirannya di Aceh dan tetap mematuhi protokol kesehatan menggunakan masker.

Tapi Siti justru merasa menjadi "alien" di tengah kampungnya karena hanya dia yang mengenakan masker.

"Saya di daerah kelahiran saya saja di Aceh, saya pulang saja menjadi tontonan saat saya pakai masker," ucap Siti.

Belum lagi keluarga dekatnya yang meminta dia untuk bersalaman dan bersentuhan langsung karena sudah lama tidak berjumpa.

"Lah kamu ini sudah lama enggak pernah pulang masak enggak mau salaman, katanya gitu. saya minta maaf ya makcik ya saya enggak bisa salaman, takutnya saya bawa virus," ujar dia.

Dia merasa tak masalah dikatakan sebagai orang yang aneh yang menerapkan protokol kesehatan di tengah orang-orang yang tak percaya wabah Covid-19 itu ada.

"Itulah namanya masyarakat, nggak semua bisa mengikuti apa yang kita sampaikan, kecuali mereka sadar mereka sendiri. Kalau mereka belum kena, mereka bakal seperti itu," kata dia

Bertahan dan berharap pandemi Covid-19 berakhir

Setelah setahun lebih mondar-mandir memeriksa sampel PCR mengisi angka-angka positif baru Covid-19 di Jakarta, Siti mengakui bahwa dia sebenarnya sudah lelah.

Terlebih setelah dia ditugaskan sebagai penanggungjawab Laboratorium Kontainer di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Laboratorium yang kecil dan sempit itu menambah rasa lelahnya saat memeriksa ribuan sampel harian yang masuk ke Labkesda.

"Kalau dipikir capek emang capek ya, lelah sekali," kata dia.

Namun, dia memilih bertahan dan mulai berharap pandemi Covid-19 bisa segera selesai. Semangatnya muncul ketika setiap hari sampel yang dia periksa semakin banyak yang negatif, dan semakin sedikit yang hasilnya positif.

"Semangatnya waktu melihat ke sini sample sudah mulai berkurang, hasil positifnya sudah mulai berkurang, semoga bakal begini terus sampai akhirnya selesai covid-nya," kata dia.

Di akhir kata, dia kembali berharap agar masyarakat bisa sadar diri, memberikan bantuan kepada setiap tenaga kesehatan untuk memudahkan pekerjaan mereka.

Caranya hanya satu, yaitu disiplin terhadap protokol kesehatan sehingga pandemi Covid-19 semakin berkurang.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kembali Beroperasi, Ini Jadwal KA Lokal Walahar, Jatiluhur, dan Siliwangi

Kembali Beroperasi, Ini Jadwal KA Lokal Walahar, Jatiluhur, dan Siliwangi

Megapolitan
Mobil VW Terbakar di Perempatan Ragunan

Mobil VW Terbakar di Perempatan Ragunan

Megapolitan
Satpol PP Jakpus Tertibkan 45 Lokasi yang Terpasang Iklan Rokok

Satpol PP Jakpus Tertibkan 45 Lokasi yang Terpasang Iklan Rokok

Megapolitan
Pengacara Korban Berharap Bruder Angelo Dihukum Maksimal

Pengacara Korban Berharap Bruder Angelo Dihukum Maksimal

Megapolitan
Cara Anies Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19 di Jakarta

Cara Anies Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19 di Jakarta

Megapolitan
Ini Lima Kawasan Prioritas Penataan Pemkot Jakbar

Ini Lima Kawasan Prioritas Penataan Pemkot Jakbar

Megapolitan
Produsen Tembakau Sintetis di Bogor Kemas Barang Siap Edar Dalam Bungkusan Pakan Burung

Produsen Tembakau Sintetis di Bogor Kemas Barang Siap Edar Dalam Bungkusan Pakan Burung

Megapolitan
Anies: 31.969 Jenazah Dimakamkan dengan Protokol Covid-19 Selama Pandemi

Anies: 31.969 Jenazah Dimakamkan dengan Protokol Covid-19 Selama Pandemi

Megapolitan
Data Kemendikbud: 25 Klaster Covid-19 Belajar Tatap Muka Ditemukan di Jakarta

Data Kemendikbud: 25 Klaster Covid-19 Belajar Tatap Muka Ditemukan di Jakarta

Megapolitan
Kasus Pelecehan Seksual Terhadap Bocah Perempuan di Duren Sawit Berujung Damai

Kasus Pelecehan Seksual Terhadap Bocah Perempuan di Duren Sawit Berujung Damai

Megapolitan
Upaya Pemkot Jakut Cegah Banjir, Pemetaan Titik Genangan hingga Siagakan Pompa Air

Upaya Pemkot Jakut Cegah Banjir, Pemetaan Titik Genangan hingga Siagakan Pompa Air

Megapolitan
Depok Dilanda Angin Puting Beliung, Pemkot Jaksel Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem

Depok Dilanda Angin Puting Beliung, Pemkot Jaksel Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem

Megapolitan
Tiga Tersangka Kasus Kebakaran Lapas Tangerang Masih Bertugas Hingga Hari Ini

Tiga Tersangka Kasus Kebakaran Lapas Tangerang Masih Bertugas Hingga Hari Ini

Megapolitan
Ingin Menolong Temannya, Bocah 13 Tahun Tewas Tenggelam di Kali Ciliwung

Ingin Menolong Temannya, Bocah 13 Tahun Tewas Tenggelam di Kali Ciliwung

Megapolitan
Jenazah Korban Kebakaran Lapas Tangerang Asal Portugal Dipulangkan Hari Ini

Jenazah Korban Kebakaran Lapas Tangerang Asal Portugal Dipulangkan Hari Ini

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.