Kompas.com - 29/04/2021, 06:56 WIB
Saur Marlina Butet Manurung, pendiri Sokola Institute, memelopori sekolah alternatif untuk masyarakat adat di Nusantara. Sekolah alternatif pertamanya bernama Sokola Rimba, mengajari baca-tulis-hitung untuk Orang-orang Rimba di Jambi. Lukman SolihinSaur Marlina Butet Manurung, pendiri Sokola Institute, memelopori sekolah alternatif untuk masyarakat adat di Nusantara. Sekolah alternatif pertamanya bernama Sokola Rimba, mengajari baca-tulis-hitung untuk Orang-orang Rimba di Jambi.

JAKARTA, KOMPAS.com - "Bagaimana sepatutnya membuat kebajikan sebesar-besarnya bagi manusia? Apakah dengan melalaikan diri sendiri, ataukah dengan mewujudkan kehendak diri sendiri?”

Barusan merupakan satu petikan dari surat-surat RA Kartini yang dibukukan dalam Surat-surat Kartini. Renungan tentang dan untuk Bangsanya (1979) yang diterjemahkan Sulastin Sutrisno.

Kartini dilema. Mimpinya agar perempuan beroleh akses pendidikan adalah angan yang terlalu muluk pada zamannya.

Ia sempat berpikir untuk menguburnya dalam-dalam demi tenang hati orangtua.

“Apakah harus mengundurkan diri demi dua orang yang sangat dicintai, ataukah mewujudkan kehendak diri sendiri berbakti kepada keluarga besar masyarakat?"

Mimpi di pedalaman

Hutan Bukit Duabelas, Jambi, sekitar 20 tahun silam. Saur Marlina Manurung lari tunggang-langgang di belantara rimba. Ia dikejar beruang.

“Aku masuk sungai, kantong penuh air, sepatu ketinggalan karena masuk lumpur,” kenang perempuan yang akrab disapa Butet (49) itu ketika berbincang dengan Kompas.com, Selasa (27/4/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Waktu itu, Butet Manurung muda adalah antropolog di sebuah LSM konservasi.

Baca juga: Butet Manurung Pendiri Sokola Rimba Raih Penghargaan Magsaysay

Bertugas meneliti kehidupan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba, ia harus tinggal di hutan tiga pekan dalam sebulan.

Pekerjaan dengan aroma petualangan macam itu impian Butet sejak belia. Butet kecil suka bilang kepada ayahnya: ia ingin jadi Indiana Jones.

Rupanya, jadi Indiana Jones tak semudah yang tampil di layar kaca.

Dikejar beruang, Butet tak dibekali kepiawaian apa pun untuk berkelit selain lari kencang-kencang.

Sementara itu, Orang Rimba yang hanya bermodal cawat mampu kabur dengan tenang.

“Aku yang paling kayak badut, ketinggalan mulu, ditarik-tarik. Begitu selesai menyeberang sungai, mau masuk ke jalan kecil yang seperti jalan tupai, aku nabrak semak, topiku nyangkut, kantong nyangkut,” ungkap Butet.

“Mereka (Orang Rimba) bilang, ‘Aduh, kamu ini, kenapa kamu pakai pakaian seperti ini?’”

Baca juga: Kesabaran Siti Hajar di Balik Ratusan Ribu Angka Kasus Covid-19 Jakarta

Butet tertampar. Mengapa selama ini ukuran tentang apa yang baik harus mengacu standar kehidupan modern?

Cawat, yang sering dipandang pakaian primitif oleh orang-orang modern, rupanya teknologi canggih di sini.

Kemeja penuh kantong dan sepatu tinggi-besar itulah pakaian yang absurd.

Saur Marlina Butet Manurung, pendiri Sokola Institute, mengajar baca-tulis bagi masyarakat adat melalui Sokola Wailago di Nusa Tenggara Timur.Dok. Sokola Institute Saur Marlina Butet Manurung, pendiri Sokola Institute, mengajar baca-tulis bagi masyarakat adat melalui Sokola Wailago di Nusa Tenggara Timur.
Di pedalaman Jambi ini, Butet juga mengajar baca-tulis-hitung kepada anak-anak Rimba.

Sebenarnya, buta huruf bukan masalah selama kehidupan adat menggelinding seperti biasa.

Kepandaian berburu toh dapat diwariskan tanpa tulisan.

Namun, belantara ini mulai diintervensi dunia luar.

“Setiap kali bertemu dengan pemerintah, berantem dengan perusahaan, mereka (Orang Rimba) selalu diwakili orang lain. Kenapa mereka tidak bisa ngomong sendiri? LSM orangnya berganti, negara orangnya berganti, siapa yang bisa mereka percaya?” tutur Butet.

Butet memasang target: dalam setahun, 100 Orang Rimba ia ajari baca-tulis-hitung. Ia serius dengan misinya.

Masalahnya, Orang Rimba tak semudah itu percaya kepada “Orang Terang”—orang yang dari luar rimba.

Baca juga: Rika Andiarti, Penerus Semangat Kartini yang Bergelut di Dunia Penerbangan dan Antariksa

Orang Terang sering datang meminta cap jempol mereka di atas surat yang tak mereka tahu apa isinya. Tahu-tahu, hutan mereka ditebang.

Itu sebabnya, pensil atau pena kemudian dijuluki “Setan Bermata Runcing”. Dan Butet bertandang membawa “setan” itu beserta ilmunya.

Butet berulang kali diusir. Bukan hanya karena mengajari ihwal tulis-menulis, Orang Rimba yang jauh lebih dulu mengenal konsep karantina pendatang untuk mencegah masuknya wabah, pernah memintanya pergi karena dituding membawa penyakit.

Lagipula, siapa Butet ini? Bukankah dia, seperti Orang-orang Terang lain, boleh jadi punya maksud terselubung? Akhirnya, Orang Rimba selalu mencari alasan mengusir Butet. 

Tetapi, Butet juga senantiasa punya alasan buat kembali dan mengajar.

Hasrat Butet yang awalnya didorong oleh cita-cita menjadi Indiana Jones, mulai beralih rupa jadi sebentuk rasa sayang kepada Orang Rimba.

Baca juga: Nursyahbani Katjasungkana, Perempuan dalam Perjuangan Reformasi 1998

Ia sampai dipandang aneh. Tinggal di kota saja, menurut Orang Rimba, sudah aneh; ditambah pula orang ini tak kunjung kapok diusir dan malah mau berbagi kehidupan dengan mereka.

“Bukan aku saja yang penasaran dengan mereka, mereka juga penasaran sama aku,” kata Butet yang sudah 1,5 tahun terakhir tinggal di Australia.

Niat mulia dan ketulusan yang terpancar darinya perlahan dipahami Orang Rimba.

"Ibu Guru Butet", demikian ia lantas dijuluki, lambat-laun diterima secara utuh-seluruh.

Jelang tahun keduanya di Rimba, murid-murid Butet sudah nyaris 200 orang. Atas pencapaian ini, ia diajak bicara oleh tumenggung—kepala suku.

“Butet, sudah ratusan murid kamu, yang kamu selalu bilang pintar. Tidak satu pun dari mereka yang bisa mengusir logging (pembalakan hutan). Ngomong saja tidak bisa, tidak berani, tidak mengerti,” ucap Butet menirukan pesan tumenggung saat itu, tentu dalam bahasa lokal.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Cek TKP Perampokan di Cilandak KKO

Polisi Cek TKP Perampokan di Cilandak KKO

Megapolitan
Komplotan Perampok Beraksi di Cilandak KKO, Ancam Bacok dan Kalungi Leher Korban dengan Celurit

Komplotan Perampok Beraksi di Cilandak KKO, Ancam Bacok dan Kalungi Leher Korban dengan Celurit

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG Selasa: Jakarta Cerah Berawan, Bodebek Berpeluang Hujan

Prakiraan Cuaca BMKG Selasa: Jakarta Cerah Berawan, Bodebek Berpeluang Hujan

Megapolitan
Komplotan Perampok Bersenjata Tajam dan Bawa Pistol Gasak Tiga Handphone di Cilandak KKO

Komplotan Perampok Bersenjata Tajam dan Bawa Pistol Gasak Tiga Handphone di Cilandak KKO

Megapolitan
Warga Bangun Polisi Tidur di Pulomas, Diprotes Pesepeda, lalu Diganti Speed Trap

Warga Bangun Polisi Tidur di Pulomas, Diprotes Pesepeda, lalu Diganti Speed Trap

Megapolitan
UPDATE: Tambah 1 Kasus di Kota Tangerang, 91 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE: Tambah 1 Kasus di Kota Tangerang, 91 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
Di Balik Patung Jakob Oetama yang Sederhana, Pena Berharga  dan Penyertaan Tuhan

Di Balik Patung Jakob Oetama yang Sederhana, Pena Berharga dan Penyertaan Tuhan

Megapolitan
Ada Temuan Pelanggaran Prokes, SDN 05 Jagakarsa Belum Gelar PTM hingga Saat Ini

Ada Temuan Pelanggaran Prokes, SDN 05 Jagakarsa Belum Gelar PTM hingga Saat Ini

Megapolitan
UPDATE 27 September: Bertambah 7 Kasus Covid-19 dan 25 Pasien Sembuh di Tangsel

UPDATE 27 September: Bertambah 7 Kasus Covid-19 dan 25 Pasien Sembuh di Tangsel

Megapolitan
Ketua DPRD DKI Sebut Rapat Bamus Interpelasi Disetujui Tujuh Fraksi

Ketua DPRD DKI Sebut Rapat Bamus Interpelasi Disetujui Tujuh Fraksi

Megapolitan
Vaksinasi Covid-19 Dosis 1 di Depok Capai 1 Juta Penduduk, Masih Kurang 600.000 dari Target

Vaksinasi Covid-19 Dosis 1 di Depok Capai 1 Juta Penduduk, Masih Kurang 600.000 dari Target

Megapolitan
Anggota DPRD DKI Viani Limardi Bantah Gelembungkan Dana Reses yang Dituduhkan PSI

Anggota DPRD DKI Viani Limardi Bantah Gelembungkan Dana Reses yang Dituduhkan PSI

Megapolitan
Januari-September, DLH Temukan 7 TPS Ilegal di Kota Tangerang

Januari-September, DLH Temukan 7 TPS Ilegal di Kota Tangerang

Megapolitan
Seorang Tukang Bangunan Tewas Tersengat Listrik di Duren Sawit

Seorang Tukang Bangunan Tewas Tersengat Listrik di Duren Sawit

Megapolitan
Korban Pelecehan KPI Minta Perlindungan LPSK agar Tak Dilaporkan Balik

Korban Pelecehan KPI Minta Perlindungan LPSK agar Tak Dilaporkan Balik

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.