Kompas.com - 30/05/2021, 15:51 WIB
Komeng, salah seorang pedagang roti keliling saat mangkal di sekitar trotoar Jalan Sudirman, Jakarta, Sabtu (29/5/2021). Komeng adalah salah satu pedagang dengan sepeda yang mengaku terbantu dengan adanya jalur sepeda terproteksi. Kompas.com/Alsadad RudiKomeng, salah seorang pedagang roti keliling saat mangkal di sekitar trotoar Jalan Sudirman, Jakarta, Sabtu (29/5/2021). Komeng adalah salah satu pedagang dengan sepeda yang mengaku terbantu dengan adanya jalur sepeda terproteksi.
Penulis Alsadad Rudi
|

"Dikasih jalan ini sama pemerintah, alhamdulillah, jadi enggak (perlu) ke tengah," ujar pria berlogat Madura itu.

Dari kacamata orang awam, perbuatan Zaini yang melawan arah di jalur sepeda terproteksi mungkin dianggap pelanggaran. Tapi ia tak punya banyak pilihan di tengah tata ruang Jalan Sudirman yang penyeberangan pejalan kakinya harus naik turun jembatan penyeberangan orang (JPO), apalagi dengan barang bawaan banyak.

Baca juga: Memosisikan Diri sebagai Manusia Tanpa Mesin di Kota Car-Oriented

Zaini tak sendiri. Komeng (35) juga mengaku sering melakukan hal serupa. Ia adalah penjual roti keliling. Selain mempermudah mobilitasnya sebagai pedagang, Komeng mengaku jalur sepeda terproteksi membuatnya bisa lebih cepat kabur kalau ada razia dari Satuan Polisi Pamong Praja.

Kompas.com sempat kurang paham dengan pengakuan Komeng ini. Sebab ia bukanlah pedagang yang mendirikan kios permanen di atas trotoar. Namun, Komeng mengaku kerap
dirazia oleh petugas Satpol PP walaupun gerobak dagangannya bentuknya "mobile".

Jika gerobak dan sepedanya sudah ditahan, ia harus menembus uang jika ingin mengambilnya kembali. Besaran uang yang harus ditembus biasanya mencapai sekitar Rp 300.000.

"Jadi kalau sudah lihat mobil Satpol di seberang (ruas jalan arah sebaliknya), kita bisa cepat kabur," ujar Komeng.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Terkait pengakuan Komeng ini, Kompas.com masih berupaya mengonfirmasi pihak terkait.

Terlepas dari pengakuan Komeng soal jalur untuk kabur apabila ada razia ini, secara keseluruhan ia menyatakan terbantu dengan adanya jalur sepeda terproteksi. Karena itu, Komeng menyesalkan kenapa masih ada pengguna sepeda yang tidak memanfaatkannya.

"Kalau sudah ada jalur sepeda ya harus pakai jalur sepeda, jangan ke tengah," ujar ayah dua anak yang tinggal di Rawabelong, Palmerah, Jakarta Barat itu.

Zaini dan Komeng bisa dibilang "anak lama" dalam dunia persepedaan Ibu Kota. Mereka sudah bersepeda jauh sebelum tren ini berkembang secara global selama pandemi, tak terkecuali di Jakarta.

Zaini dan Komeng juga bukan pesepeda yang gowes untuk sekedar hobi akhir pekan selama beberapa jam. Mereka mengayuh sepedanya setiap hari untuk menghidupi keluarganya dari pagi sampai malam.

Orang-orang seperti Zaini dan Komeng tentunya jadi bagian dari mereka yang merasa diuntungkan dengan keberadaan jalur sepeda.

Zaini dan Komeng mungkin luput dari pandangan mayoritas pengguna kendaraan bermotor yang terlanjur kesal dan memberi cap negatif pada pesepeda hanya gara-gara ulah pesepeda hobi.

Orang-orang seperti Zaini dan Komeng mungkin juga tidak masuk dalam pantauan sejumlah anggota parlemen yang mendesak jalur sepeda dibongkar karena menganggapnya tidak efektif.

Tidak efektif jika kita hanya melihatnya dari kacamata pesepeda hobi dan tentunya membahayakan jika dilihat dari perspektif pengguna mobil yang mengemudinya sembrono.

Baca juga: Minibus Tabrak Jalur Sepeda Permanen, Kadishub DKI Sebut Sopir Mengantuk

Pada sekitar penghujung April 2021, dua kecelakaan tunggal yang melibatkan mobil dengan pola yang mirip terjadi di Magelang dan Jakarta. Kemiripannya adalah mobil sama-sama menabrak pembatas jalur lambat yang biasa dipakai pesepeda.

Komunitas Bike2Work Indonesia menilai dua kejadian tersebut menunjukan bahwa jalur sepeda memang dibutuhkan untuk keselamatan pesepeda. Sebab, jika tidak ada pembatas, mobil yang menabrak bisa saja langsung menghantam pesepeda yang kebetulan sedang melintas.

Jika terjadi benturan, kemungkinan pengendara mobil untuk selamat tanpa mengalami cedera tentunya jauh lebih besar ketimbang pesepeda.

"Setelah di Jakarta, menyusul di Magelang. massa x kecepatan = momentum = daya rusak. Pembatas jadi terbukti penting untuk melindungi pengguna sepeda di jalur yang memang dipisahkan dari arus lalu lintas kendaraan bermotor," tulis Bike2Work Indonesia lewat akun twitter mereka, @B2WIndonesia pada 24 April 2021.

 

Kekhawatiran Pasca-Viralnya Pengendara Motor Vs Rombongan Pesepeda Road Bike

Beberapa hari terakhir, jagad dunia maya dihebohkan dengan viralnya sebuah foto yang menampilkan seorang pengendara motor mengacungkan jari tengah ke rombongan pesepeda road bike.

Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Video Dugaan Pungli oleh Tukang Parkir di Pasar Induk Kramatjati Viral

Video Dugaan Pungli oleh Tukang Parkir di Pasar Induk Kramatjati Viral

Megapolitan
Lapangan Utama Jakarta International Stadium Mulai Dipasangi Rumput Hybrid

Lapangan Utama Jakarta International Stadium Mulai Dipasangi Rumput Hybrid

Megapolitan
Banggakan Penanganan Covid-19 di Indonesia, Anies: Dunia Tercengang

Banggakan Penanganan Covid-19 di Indonesia, Anies: Dunia Tercengang

Megapolitan
Polda Metro Jaya Catat 1,9 Juta Pelanggaran Lalu Lintas di Jakarta Sepanjang 2020

Polda Metro Jaya Catat 1,9 Juta Pelanggaran Lalu Lintas di Jakarta Sepanjang 2020

Megapolitan
Ketahuan Curi Motor di Warakas, Seorang Pria Babak Belur Dihajar Warga

Ketahuan Curi Motor di Warakas, Seorang Pria Babak Belur Dihajar Warga

Megapolitan
Polda Metro Tak Gelar Razia di Jalan Saat Operasi Patuh Jaya karena Bisa Timbulkan Kerumunan

Polda Metro Tak Gelar Razia di Jalan Saat Operasi Patuh Jaya karena Bisa Timbulkan Kerumunan

Megapolitan
Operasi Patuh Jaya 2021, Pengguna Knalpot Bising hingga Pebalap Liar Akan Ditindak

Operasi Patuh Jaya 2021, Pengguna Knalpot Bising hingga Pebalap Liar Akan Ditindak

Megapolitan
Operasi Patuh Jaya Digelar sampai 3 Oktober 2021, Sasar Pelanggar Lalu Lintas hingga Protokol Kesehatan

Operasi Patuh Jaya Digelar sampai 3 Oktober 2021, Sasar Pelanggar Lalu Lintas hingga Protokol Kesehatan

Megapolitan
GOR Rorotan Berganti Nama Jadi GOR Sekda Saefullah, Anies Bagikan Momen Bersama Mendiang

GOR Rorotan Berganti Nama Jadi GOR Sekda Saefullah, Anies Bagikan Momen Bersama Mendiang

Megapolitan
Kafe hingga Tempat Karaoke di Cakung Disegel karena Langgar Aturan PPKM

Kafe hingga Tempat Karaoke di Cakung Disegel karena Langgar Aturan PPKM

Megapolitan
Kasus Penembakan di Pinang, Polisi Periksa Lima Saksi

Kasus Penembakan di Pinang, Polisi Periksa Lima Saksi

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Commitment Fee Formula E Mahal | Pria Gantung Diri saat Live di TikTok

[POPULER JABODETABEK] Commitment Fee Formula E Mahal | Pria Gantung Diri saat Live di TikTok

Megapolitan
Munculnya Dugaan Pembunuhan dalam Kasus Pria Gantung Diri Saat 'Live' di TikTok hingga Jawaban Polisi

Munculnya Dugaan Pembunuhan dalam Kasus Pria Gantung Diri Saat "Live" di TikTok hingga Jawaban Polisi

Megapolitan
Tambah 19 Kasus Covid-19 di Kota Tangerang, 217 Pasien Dirawat

Tambah 19 Kasus Covid-19 di Kota Tangerang, 217 Pasien Dirawat

Megapolitan
Asap Tebal Mengepul di Area TPU Pondok Kelapa, Berasal dari Pembakaran Sampah

Asap Tebal Mengepul di Area TPU Pondok Kelapa, Berasal dari Pembakaran Sampah

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.