Kasus Covid-19 di Jabodetabek Bisa Naik Lagi, Epidemiolog: Tapi Tak Separah Bulan Juli

Kompas.com - 08/09/2021, 15:36 WIB
Ilustrasi Covid-19 KOMPAS.COM/(Shutterstock/Petovarga)Ilustrasi Covid-19

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus Covid-19 di Jabodetabek saat ini sudah melandai, tetapi pakar menyebutkan bahwa tak tertutup peluang bahwa potensi lonjakan kasus bisa terjadi kembali.

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono mengungkapkan, potensi lonjakan ini disebabkan oleh longgarnya pembatasan kegiatan masyarakat serta lemahnya pelacakan kontak erat.

"Jadi menurut saya hati-hati membuka pembatasan sosial. Hati-hati," kata Miko ketika dihubungi Kompas.com pada Selasa (7/9/2021).

Baca juga: Kasus Covid-19 di Jabodetabek Bisa Melonjak Lagi karena Pembatasan Longgar dan Pelacakan Kontak Lemah

Meskipun demikian, Miko memperkirakan bahwa potensi lonjakan kembali kasus Covid-19 dalam beberapa waktu ke depan tidak akan separah bulan Juli 2021, ketika Jabodetabek dan Indonesia mengalami gelombang kedua pandemi yang amat mengenaskan.

"Kalaupun terjadi peningkatan, kita tidak akan mendapatkan lonjakan pada bulan Juli yang paling tinggi. Tidak seperti itu, Juli tidak akan terulang lagi," ujar Miko.

Cakupan vaksinasi Covid-19 dinilai bisa jadi pembeda, tetapi belum signifikan karena belum satu pun wilayah Jabodetabek yang sudah memenuhi target vaksinasi Covid-19 dosis lengkap.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: 41 Napi Tewas Terbakar di Lapas Tangerang, Dua Korban WN Portugal dan Afrika Selatan

Sejauh ini, DKI Jakarta sebagai wilayah paling unggul dalam hal laju vaksinasi Covid-19 memang telah melampaui target, tetapi baru untuk dosis pertama.

Sementara itu, wilayah Bodetabek masih berjuang untuk terus mengebut penyuntikan dosis pertama yang progresnya baru di kisaran 40-60 persen.

Idealnya, vaksinasi Covid-19 harus dapat mencakup seluruh orang yang beraktivitas dan bertempat tinggal di Jabodetabek, terlepas dari KTP-nya.

Baca juga: Petugas Dishub DKI yang Peras Sopir Pengangkut Peserta Vaksinasi Dibebastugaskan

Miko berpendapat, ke depannya, lonjakan kasus Covid-19 mungkin terjadi, tapi hospitalisasi dan kematian yang ditimbulkannya relatif dapat ditekan sebagai dampak vaksinasi yang sudah berlangsung saat ini.

"Walaupun karena cakupan vaksinasi sudah baik, mungkin yang meninggal akan menurun (dibandingkan Juli 2021) dan yang bergejala juga semakin ringan, tapi tetap akan menyakitkan," kata Miko.

"Buktinya petugas kesehatan pada roboh meski mereka sudah disuntik, makanya mereka mendapatkan prioritas untuk dosis ketiga," tambahnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dua Buaya Peliharaan di Kemayoran Diamankan, Pemiliknya Menangis Saat Evakuasi

Dua Buaya Peliharaan di Kemayoran Diamankan, Pemiliknya Menangis Saat Evakuasi

Megapolitan
Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua di Tangsel Baru 51,3 Persen dari Target

Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua di Tangsel Baru 51,3 Persen dari Target

Megapolitan
Taman Margasatwa Ragunan Dibuka, Pengelola Terapkan Screening Berlapis Lewat Aplikasi PeduliLindungi

Taman Margasatwa Ragunan Dibuka, Pengelola Terapkan Screening Berlapis Lewat Aplikasi PeduliLindungi

Megapolitan
Hendak Selundupkan Sabu di Pesawat, Seorang Pria di Kota Tangerang Ditangkap Polisi

Hendak Selundupkan Sabu di Pesawat, Seorang Pria di Kota Tangerang Ditangkap Polisi

Megapolitan
Ajak Kerja Sama Antardaerah, Anies: Indonesia Terlalu Besar untuk Bekerja Sendiri-sendiri

Ajak Kerja Sama Antardaerah, Anies: Indonesia Terlalu Besar untuk Bekerja Sendiri-sendiri

Megapolitan
UPDATE 21 Oktober: Bertambah 7 Kasus Baru Covid-19 di Tangsel

UPDATE 21 Oktober: Bertambah 7 Kasus Baru Covid-19 di Tangsel

Megapolitan
TransJakarta Buka Kembali Empat Rute Layanan

TransJakarta Buka Kembali Empat Rute Layanan

Megapolitan
Sebelum Ditangkap, Tiga Pengedar di Bekasi Sudah Jual 60 Kilogram Ganja

Sebelum Ditangkap, Tiga Pengedar di Bekasi Sudah Jual 60 Kilogram Ganja

Megapolitan
Pemprov DKI Kirim Surat ke Kedubes RI di Turki Terkait Rencana Penamaan Jalan Ataturk

Pemprov DKI Kirim Surat ke Kedubes RI di Turki Terkait Rencana Penamaan Jalan Ataturk

Megapolitan
Memasuki Musim Hujan, PUPR Kota Tangerang Normalisasi Drainase hingga Sungai

Memasuki Musim Hujan, PUPR Kota Tangerang Normalisasi Drainase hingga Sungai

Megapolitan
Antisipasi Banjir di Kemang, Kelurahan Bangka Pastikan Pompa Air Berfungsi Baik

Antisipasi Banjir di Kemang, Kelurahan Bangka Pastikan Pompa Air Berfungsi Baik

Megapolitan
Pemprov DKI: Kita Akan Hidup Berdampingan dengan Covid-19, Bukan Berdamai

Pemprov DKI: Kita Akan Hidup Berdampingan dengan Covid-19, Bukan Berdamai

Megapolitan
Banting Mahasiswa hingga Kejang, Brigadir NP Dimutasi jadi Bintara Tanpa Jabatan

Banting Mahasiswa hingga Kejang, Brigadir NP Dimutasi jadi Bintara Tanpa Jabatan

Megapolitan
Taman Margasatwa Ragunan Kembali Dibuka, Hanya 15.000 Orang yang Bisa Masuk

Taman Margasatwa Ragunan Kembali Dibuka, Hanya 15.000 Orang yang Bisa Masuk

Megapolitan
Bocah 13 Tahun Diduga Diperkosa Berkali-kali hingga Hamil Dua Bulan

Bocah 13 Tahun Diduga Diperkosa Berkali-kali hingga Hamil Dua Bulan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.