Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemkot Jakut Bikin Ormas Penggerak Tanggap Sampah, Diklaim untuk Tekan Pencemaran Lingkungan

Kompas.com - 30/09/2022, 06:26 WIB
Larissa Huda

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Kota Jakarta Utara membentuk organisasi masyarakat (ormas) penggerak kampung iklim yang tanggap terhadap sampah pencemaran lingkungan melalui Program Kampung Lingkungan (Proklim).

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Utara Achmad Hariyadi mengatakan saat ini sudah terdapat 52 Proklim di Jakarta Utara, melebihi jumlah kelurahan yang hanya 31.

"Di Jakarta Utara sudah 52 Kampung Iklim dari berbagai tingkatan, tingkat nasional, tingkat provinsi, dan tingkat kota," kata Hariyadi dilansir dari Antara, Kamis (29/9/2022).

Baca juga: DPRD DKI Harap PT KCN Selesaikan 32 Poin Sanksi Terkait Pencemaran Lingkungan di Marunda

Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (Sudin KPKP) Jakarta Utara Unang Rustanto mengatakan salah satu organisasi yang dibentuk itu berada di Kelurahan Tugu Utara tepatnya rukun warga (RW) 01 dengan menggerakkan 10 rukun tetangga (RT).

"Jadi yang digerakkan oleh setiap penggiat lingkungan beranggotakan kurang lebih sekitar 30 orang yang mempunyai tanggung jawab masing-masing," kata Unang.

Adapun upaya tanggap pencemaran lingkungan itu didukung oleh PT Pertamina Lubricants. Sekretaris Perusahaan Rifqi Budi mendukung program untuk adaptasi dan mitigasi lingkungan, termasuk ketahanan pangan di RW01 Tugu Utara tersebut mulai tahun 2022 ini.

Harapannya, dukungan tersebut bisa terus diberikan minimal sampai lima tahun mendatang. Adapun dukungan yang sudah diberikan PT Pertamina Lubricants dengan memberikan bantuan sarana pelatihan bank sampah.

Bank Sampah diperlukan sebagai bagian dari mitigasi penumpukan sampah. Terutama sampah organik yang kalau ditumpuk bisa mengikis lapisan ozon di udara dan mencemari saluran air di sekitarnya dengan bakteri.

Baca juga: Wagub DKI Minta Warga Proaktif Laporkan Dugaan Pencemaran Lingkungan ke Pemprov

Achmad Hariadi melanjutkan, pembuangan limbah organik secara sembarangan hingga menumpuk memang berpotensi memunculkan berbagai dampak terhadap lingkungan, seperti air yang tercemar oleh bakteri E Coli maupun pengikisan lapisan ozon di udara.

"Baunya ini menimbulkan gas metana atau CH4, itu berpengaruh terhadap lapisan ozon akan berkurang. Kemudian kalau ada hujan, mengalir bisa menyebabkan pencemaran air juga," kata Hariadi.

Limbah inilah yang mesti dikelola dengan baik oleh organisasi masyarakat penggerak Kampung Iklim yang sudah dibentuk di Jakarta Utara agar tidak berdampak kepada generasi mendatang termasuk menghambat pertumbuhan anak atau tengkes.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

NIK KTP Bakal Dijadikan Nomor SIM Mulai 2025, Korlantas Polri: Agar Jadi Satu Data dan Memudahkan

NIK KTP Bakal Dijadikan Nomor SIM Mulai 2025, Korlantas Polri: Agar Jadi Satu Data dan Memudahkan

Megapolitan
8 Tempat Makan dengan Playground di Jakarta

8 Tempat Makan dengan Playground di Jakarta

Megapolitan
Pegi Bantah Jadi Otak Pembunuhan, Kuasa Hukum Keluarga Vina: Itu Hak Dia untuk Berbicara

Pegi Bantah Jadi Otak Pembunuhan, Kuasa Hukum Keluarga Vina: Itu Hak Dia untuk Berbicara

Megapolitan
Polisi Tangkap Pria Paruh Baya Pemerkosa Anak Disabilitas di Kemayoran

Polisi Tangkap Pria Paruh Baya Pemerkosa Anak Disabilitas di Kemayoran

Megapolitan
Pengamat: Jika Ahok Diperintahkan PDI-P Maju Pilkada Sumut, Suka Tak Suka Harus Nurut

Pengamat: Jika Ahok Diperintahkan PDI-P Maju Pilkada Sumut, Suka Tak Suka Harus Nurut

Megapolitan
Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas Dalam Toren Air di Pondok Aren

Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas Dalam Toren Air di Pondok Aren

Megapolitan
Polisi Dalami Keterlibatan Caleg PKS yang Bisnis Sabu di Aceh dengan Fredy Pratama

Polisi Dalami Keterlibatan Caleg PKS yang Bisnis Sabu di Aceh dengan Fredy Pratama

Megapolitan
Temui Komnas HAM, Kuasa Hukum Sebut Keluarga Vina Trauma Berat

Temui Komnas HAM, Kuasa Hukum Sebut Keluarga Vina Trauma Berat

Megapolitan
NIK KTP Bakal Jadi Nomor SIM Mulai 2025

NIK KTP Bakal Jadi Nomor SIM Mulai 2025

Megapolitan
Polisi Buru Penyuplai Sabu untuk Caleg PKS di Aceh

Polisi Buru Penyuplai Sabu untuk Caleg PKS di Aceh

Megapolitan
Tiang Keropos di Cilodong Depok Sudah Bertahun-tahun, Warga Belum Melapor

Tiang Keropos di Cilodong Depok Sudah Bertahun-tahun, Warga Belum Melapor

Megapolitan
Polri Berencana Luncurkan SIM C2 Tahun Depan

Polri Berencana Luncurkan SIM C2 Tahun Depan

Megapolitan
Caleg PKS Terjerat Kasus Narkoba di Aceh, Kabur dan Tinggalkan Istri yang Hamil

Caleg PKS Terjerat Kasus Narkoba di Aceh, Kabur dan Tinggalkan Istri yang Hamil

Megapolitan
'Call Center' Posko PPDB Tak Bisa Dihubungi, Disdik DKI: Mohon Maaf, Jelek Menurut Saya

"Call Center" Posko PPDB Tak Bisa Dihubungi, Disdik DKI: Mohon Maaf, Jelek Menurut Saya

Megapolitan
Polisi: Ada Oknum Pengacara yang Pakai Pelat Palsu DPR

Polisi: Ada Oknum Pengacara yang Pakai Pelat Palsu DPR

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com