Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Bisa Lagi Kerja Berat Jadi Alasan Lupi Tetap Setia Menarik Sampan meski Sepi Penumpang

Kompas.com - 19/04/2024, 21:16 WIB
Shinta Dwi Ayu,
Abdul Haris Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Usia senja tak menghalangi Lupi (60) untuk terus mencari nafkah dengan menjalani pekerjaan sebagai tukang ojek sampan di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara.

Lupi bercerita, pada usianya kini yang terus bertambah, tenaga yang dimilikinya semakin berkurang.

"Karena sudah tua, kita tidak bisa kerja berat lagi. Kalau dulu kan kita kerja di kapal phinisi. Tapi, tenaga udah berubah yaudah kita narik sampan aja yang agak ringan," tutur Lupi ketika diwawancarai oleh Kompas.com di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakut, Jumat (18/4/2024).

Baca juga: Cerita Tukang Ojek Sampan Pelabuhan Sunda Kelapa, Setia Menanti Penumpang di Tengah Sepinya Wisatawan

Sekitar tahun 1971, pendapatan mengojek sampan di perairan Pelabuhan Sunda Kelapa begitu menjanjikan bagi Lupi.

Pasalnya, pada tahun tersebut banyak Anak Buah Kapal (ABK) yang bekerja di Pelabuhan Sunda Kelapa menggunakan sampan sebagai transportasi untuk menyeberang ke daerah Luar Batang, Jakarta Utara.

Namun, kini kebanyakan ABK sudah memiliki kendaraan pribadi berupa sepeda motor sehingga tidak membutuhkan sampan lagi untuk menyeberang.

Kini sampan kesayangan Lupi hanya digunakan untuk mengangkut para wisatawan yang ingin berkeliling di perairan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Namun, wisatawan yang datang ke Pelabuhan Sunda Kelapa saat ini sangat sedikit sehingga pendapatan Lupi dan tukang ojek sampan lainnya mengalami penurunan yang drastis.

Sepinya wisatawan terjadi sejak Pandemi Covid-19 melanda, di mana aktivitas masyarakat dibatasi, terutama untuk berwisata.

Baca juga: Runtuhnya Kejayaan Manusia Sampan yang Kini Dekat dengan Lubang Kemiskinan Ekstrem

"Semenjak dari Corona ini udah agak sepi, yaudah seadanya aja. Kalau lagi ada pengunjung dia mau naik yaudah kita tarik, kalau enggak ada ya kita sabar," sambung Lupi.

Lupi mengaku, kebanyakan penumpang sampannya adalah wisatawan asing.

"Kalau turis kita kenakan minimal Rp 100.000 per sampan. Satu sampan bisa diisi 3-5 orang, kadang-kadang juga menawar itu turisnya," terangnya.

Untuk wisatawan lokal, biaya yang dikenakan adalah sebesar Rp 70.000-Rp 80.000. Namun, jika penduduk di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa menawar sebesar Rp 50.000, Lupi tak menolak.

Lupi mengungkapkan, profesinya sebagai tukang ojek sampan di Jakarta pada saat ini sangat sulit untuk bisa mendapatkan uang.

"Sulit untuk mendapatkan uang karena kita menunggu datangnya tamu, kalau lagi enggak ada tamu ya kita bengong aja, duduk di tempat adem," tutupnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Agenda Pemeriksaan SYL dalam Kasus Firli Besok Terhalang Jadwal Sidang

Agenda Pemeriksaan SYL dalam Kasus Firli Besok Terhalang Jadwal Sidang

Megapolitan
Jalan Terjal Ahok Maju Pilkada Jakarta 2024, Pernah Kalah Pilkada DKI 2017 dan Calon Lawan yang Kuat

Jalan Terjal Ahok Maju Pilkada Jakarta 2024, Pernah Kalah Pilkada DKI 2017 dan Calon Lawan yang Kuat

Megapolitan
Warga Koja Gerebek Pengedar Narkoba yang Lagi 'Nyabu' di Kontrakannya

Warga Koja Gerebek Pengedar Narkoba yang Lagi "Nyabu" di Kontrakannya

Megapolitan
Petugas Gabungan Tertibkan APK Bakal Calon Wali Kota Bogor

Petugas Gabungan Tertibkan APK Bakal Calon Wali Kota Bogor

Megapolitan
Satpol PP Tertibkan Puluhan Spanduk Bacawalkot di Kota Bogor

Satpol PP Tertibkan Puluhan Spanduk Bacawalkot di Kota Bogor

Megapolitan
Polisi Tangkap 3 Anggota Sindikat Pencurian Motor di Palmerah

Polisi Tangkap 3 Anggota Sindikat Pencurian Motor di Palmerah

Megapolitan
LBH Jakarta Sebut Pemberian Bintang Empat Prabowo Abaikan UU TNI

LBH Jakarta Sebut Pemberian Bintang Empat Prabowo Abaikan UU TNI

Megapolitan
Polisi Imbau Warga Bikin SIM Langsung di Satpas, Jangan Termakan Iming-iming Medsos

Polisi Imbau Warga Bikin SIM Langsung di Satpas, Jangan Termakan Iming-iming Medsos

Megapolitan
NIK 213.831 Warga Sudah Dipindahkan ke Luar Jakarta, Dukcapil: Akan Terus Bertambah

NIK 213.831 Warga Sudah Dipindahkan ke Luar Jakarta, Dukcapil: Akan Terus Bertambah

Megapolitan
Polisi Musnahkan 300 Knalpot Brong di Koja dengan Gergaji Mesin

Polisi Musnahkan 300 Knalpot Brong di Koja dengan Gergaji Mesin

Megapolitan
Polresta Bogor Luncurkan Aplikasi SiKasep, Lapor Kehilangan Tak Perlu Datang ke Kantor Polisi

Polresta Bogor Luncurkan Aplikasi SiKasep, Lapor Kehilangan Tak Perlu Datang ke Kantor Polisi

Megapolitan
Janggal dengan Kematian Anaknya di Dalam Toren, Ibu Korban: Ada Bekas Cekikan

Janggal dengan Kematian Anaknya di Dalam Toren, Ibu Korban: Ada Bekas Cekikan

Megapolitan
Pemalsu Dokumen yang Ditangkap Polsek Setiabudi Pernah Jadi Calo SIM

Pemalsu Dokumen yang Ditangkap Polsek Setiabudi Pernah Jadi Calo SIM

Megapolitan
2 Hari Sebelum Ditemukan Tewas di Toren, Korban Sempat Pamit ke Ibunya

2 Hari Sebelum Ditemukan Tewas di Toren, Korban Sempat Pamit ke Ibunya

Megapolitan
Kadernya Hadiri Rakorcab Gerindra meski Beda Koalisi, Golkar Depok: Silaturahim Politik Saja

Kadernya Hadiri Rakorcab Gerindra meski Beda Koalisi, Golkar Depok: Silaturahim Politik Saja

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com