Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengingat Lagi Pesan yang Ada di STIP, "Sekolah Ini Akan Ditutup Jika Terjadi Kekerasan"

Kompas.com - 07/05/2024, 18:14 WIB
Abdul Haris Maulana

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus kekerasan berujung maut lagi dan lagi terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Seperti diketahui, taruna tingkat I STIP bernama Putu Satria Ananta Rastika (19) tewas usai dipukul oleh seniornya, Tegar Rafi Sanjaya (21), di toilet kampus pada Jumat (3/5/2024).

Peristiwa terbaru ini menambah daftar kasus kekerasan di STIP. Kasus terakhir yang terungkap ke publik terjadi pada 10 Januari 2017 silam.

Baca juga: Jejak Kekerasan di STIP dalam Kurun Waktu 16 Tahun, Luka Lama yang Tak Kunjung Sembuh...

Kala itu, taruna tingkat I bernama Amirulloh Adityas Putra tewas usai dianiaya oleh empat seniornya, yaitu Sisko Mataheru, Willy Hasiloan, Iswanto, dan Akbar Ramadhan.

Pesan "sekolah ini akan ditutup jika terjadi kekerasan"

Terulangnya kasus kekerasan di STIP membuat Kompas.com kembali mengangkat pesan yang tertulis di salah satu dinding asrama putra STIP, yakni 'Ingat! Sekolah Ini Akan Ditutup Jika Terjadi Kekerasan.'

Berdasarkan catatan Kompas.com pada 12 Januari 2017 lalu, pesan tersebut terpampang dalam balutan bingkai berwarna emas yang diletakkan dekat dengan kamar tempat terjadinya penganiayaan berujung maut terhadap Amirulloh.

Tugu memorial mengenang salah satu taruna STIP, di dalam lingkungan kampus STIP Jakarta yang meninggal akibat kekerasan di kampus tersebut. Foto diambil Rabu (11/1/2017).Kompas.com/Robertus Belarminus Tugu memorial mengenang salah satu taruna STIP, di dalam lingkungan kampus STIP Jakarta yang meninggal akibat kekerasan di kampus tersebut. Foto diambil Rabu (11/1/2017).

Tak hanya satu, pada saat itu pesan anti-kekerasan terpasang di banyak sudut gedung STIP Jakarta.

Selain pesan anti-kekerasan, terdapat tugu peringatan dengan cat hitam dan putih yang dibangun untuk memperingati kasus penganiayaan berujung maut yang menimpa taruna bernama Agung Bastian Gultom pada 2008.

Baca juga: Ingat! Sekolah Ini Akan Ditutup jika Terjadi Kekerasan

"Hindari Tindak Kekerasan Agar Tidak Terulang Lagi Peristiwa 12 Mei 2008 Yang Mengakibatkan Taruna Agung Bastian Gultom Meninggal Dunia," demikian pesan yang terpampang di tugu memorial tersebut.

Meskipun sudah banyak terpampang pesan anti-kekerasan di lingkungan kampus, nyatanya kasus kekerasan yang dilakukan senior kepada junior terus berulang.

Investigasi dan moratorium

Berkait dengan pesan 'Sekolah Ini Akan Dibubarkan Jika Ada Kekerasan' di STIP, pengamat pendidikan sekaligus Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti menyebut, perlu dilakukan investigasi terlebih dahulu.

"Ya pertama diinvestigasi dulu aja. Kalau kekerasannya sudah sangat parah, memang harus dihentikan," ungkap Retno saat dihubungi Kompas.com, Senin (6/5/2024).

Retno menyampaikan, pihak berwenang perlu melakukan evaluasi terhadap sekolah kedinasan, termasuk STIP.

Baca juga: Pengakuan Alumni STIP soal Senioritas di Kampus: Telan Duri Ikan hingga Disundut Rokok

Selain itu, perlu juga untuk mengetahui seberapa berdampak dan dibutuhkannya sekolah kedinasan.

"Apakah untuk pelayaran dan lain-lain membutuhkan sekolah khusus? Kalau sekolah khususnya seperti ini tapi pendekatannya dengan kekerasan, ya tentu harus dievaluasi," jelasnya.

Lebih lanjut, Retno menyampaikan bahwa dirinya lebih memilih moratorium ketimbang menutup STIP, apabila memang masyarakat menagih janji atau pesan yang ada di kampus tersebut.

"Jadi ada moratorium, dilulusin semua (mahasiswa yang saat ini ada) tapi tidak menerima-menerima mahasiswa baru. Setelah habis mahasiswanya, baru menerima mahasiswa baru dan memulai semuanya dengan ketentuan baru tanpa kekerasan," pungkasnya.

(Penulis: Robertus Belamirnus)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Supian Suri Daftar Bacawalkot Depok ke Partai Gerindra

Supian Suri Daftar Bacawalkot Depok ke Partai Gerindra

Megapolitan
Maling Motor yang Dipukuli dan Diikat Lehernya oleh Warga Sunter Ternyata Residivis

Maling Motor yang Dipukuli dan Diikat Lehernya oleh Warga Sunter Ternyata Residivis

Megapolitan
Tukang Sampah di Cilincing Tewas Diserang Pelaku Tawuran, Kupingnya Nyaris Putus

Tukang Sampah di Cilincing Tewas Diserang Pelaku Tawuran, Kupingnya Nyaris Putus

Megapolitan
Ketika Mobil Rubicon Mario Dandy Tak Laku-laku Usai Dua Kali Dilelang dan Dikorting Rp 100 Juta

Ketika Mobil Rubicon Mario Dandy Tak Laku-laku Usai Dua Kali Dilelang dan Dikorting Rp 100 Juta

Megapolitan
Remaja yang Direkam Ibu saat Bersetubuh dengan Pacar Dapat Pendampingan Psikologis

Remaja yang Direkam Ibu saat Bersetubuh dengan Pacar Dapat Pendampingan Psikologis

Megapolitan
Dituduh Ingin Curi Motor, Pria di Sunter Dipukuli dan Diikat Lehernya oleh Warga

Dituduh Ingin Curi Motor, Pria di Sunter Dipukuli dan Diikat Lehernya oleh Warga

Megapolitan
Tangkap ASN Pemkot Ternate, Polisi Sita 0,16 Gram Sabu

Tangkap ASN Pemkot Ternate, Polisi Sita 0,16 Gram Sabu

Megapolitan
Maaf dan Janji Zoe Levana Usai Terobos Jalur Transjakarta...

Maaf dan Janji Zoe Levana Usai Terobos Jalur Transjakarta...

Megapolitan
Tiga ASN Pemkot Ternate Ditangkap Polisi Saat 'Nyabu' di Depan Warkop

Tiga ASN Pemkot Ternate Ditangkap Polisi Saat "Nyabu" di Depan Warkop

Megapolitan
Isu Duet dengan Anies pada Pilkada DKI, Ahmed Zaki: Keputusan Ada di DPP Golkar

Isu Duet dengan Anies pada Pilkada DKI, Ahmed Zaki: Keputusan Ada di DPP Golkar

Megapolitan
Usaha Cek Ombak Kaesang Pangarep pada Pilkada Bekasi dan Upaya Mencari Panggung Politik

Usaha Cek Ombak Kaesang Pangarep pada Pilkada Bekasi dan Upaya Mencari Panggung Politik

Megapolitan
Cerita Amsori Tetap Jadi Sopir Angkot meski Diserang Stroke Dua Kali

Cerita Amsori Tetap Jadi Sopir Angkot meski Diserang Stroke Dua Kali

Megapolitan
Permintaan Maaf Zoe Levana dan 3 Pengakuannya Terkait Terobos Jalur Transjakarta

Permintaan Maaf Zoe Levana dan 3 Pengakuannya Terkait Terobos Jalur Transjakarta

Megapolitan
Beratnya Hidup di Jakarta, Amsori Sopir Lansia Tidur di Angkot karena Tak Mampu Mengontrak Rumah

Beratnya Hidup di Jakarta, Amsori Sopir Lansia Tidur di Angkot karena Tak Mampu Mengontrak Rumah

Megapolitan
Jemput Bola ke Subang, Polisi Bakal Datangi Petani yang Ditipu Oknum Polisi Rp 598 Juta

Jemput Bola ke Subang, Polisi Bakal Datangi Petani yang Ditipu Oknum Polisi Rp 598 Juta

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com