Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pria Dalam Sarung di Pamulang Diduga Belum Lama Tewas Saat Ditemukan

Kompas.com - 11/05/2024, 20:45 WIB
Dinda Aulia Ramadhanty,
Icha Rastika

Tim Redaksi

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Pria yang ditemukan tewas di permukiman warga kawasan Pamulang, Tangerang Selatan diduga belum lama tewas saat ditemukan.

“(Jenazah korban) masih segar, karena memang darahnya masih merah. Jadi perkiraan kami, korban baru saja tewas," kata Kanit Resmob Polres Tangerang Selatan Ipda Andira Wigata kepada Kompas.com, Sabtu (11/5/2024)

Andira mengungkapkan, polisi sampai di tempat kejadian perkara (TKP) sekitar pukul 06.30 WIB dan kondisi mayat meringkuk dalam kain sarung yang diikat.

"Jadi pada saat ditemukan, mayat dalam posisi terbungkus rapi. Dan memang kalau kami lihat (jasadnya) setelah dibuka, seperti bersih darahnya, tidak terlalu banyak," ujar Andira.

Baca juga: Penampakan Lokasi Penemuan Mayat Pria dalam Sarung di Pamulang Tangsel

Mayat teridentifikasi berjenis kelamin pria dengan kisaran usia 40 tahun.

Polisi juga menemukan sejumlah luka di beberapa bagian tubuh korban.

"Dari hasil pengecekan di tempat kejadian perkara (TKP), didapati luka leher digorok hampir putus," kata Kapolsek Pamulang Kompol Ghulam Nabi saat dikonfirmasi, Sabtu.

Selain itu, ditemukan luka di kedua tangan korban.

"Di tangan kiri luka bacok sebanyak dua kali, jari manis di tangan kanannya putus, dan jari kelingking hampir putus sebelah," ujar Ghulam.

Jenazah sudah dibawa ke Rumah Sakit Kramatjati Jakarta Timur untuk menjalani proses otopsi.

Baca juga: Warga Sebut Ada Benda Serupa Jimat pada Mayat Dalam Sarung di Pamulang

Di samping itu, mayat pria terbungkus kain ini ditemukan pertama kali oleh dua orang warga setempat bernama Fajar dan Dayat. Mayat ditemukan sekitar pukul 07.15 WIB

Awalnya, Fajar berjalan kaki melintasi TKP usai membeli bubur ayam. Ia memilih mampir melewati area itu karena ingin menikmati banyaknya burung yang beterbangan pada pagi hari.

Fajar lantas terkejut dengan gumpalan besar kain di tepi jalan selebar enam meter dengan pengerasan konblok itu.


Tak berani memeriksa, ia kerap memanggil rekannya bernama Dayat untuk ikut memeriksa. Benar saja, gumpalan kain besar itu berisi sesosok mayat dengan posisi meringkuk.

Fajar dan Dayat segera melaporkan penemuan itu ke Wawan sebagai Ketua RT setempat. Setelahnya, Ketua RT meneruskan laporannya ke Kanit Reskrim Polsek Pamulang.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Bingung dengan Potongan Gaji untuk Tapera, Pegawai Swasta: Yang Punya Rumah Kena Juga, Enggak?

Bingung dengan Potongan Gaji untuk Tapera, Pegawai Swasta: Yang Punya Rumah Kena Juga, Enggak?

Megapolitan
Ulah Keblinger Pria di Koja, Curi Besi Pembatas Jalan untuk Nafkahi Keluarga Berujung Ditangkap Polisi dan Warga

Ulah Keblinger Pria di Koja, Curi Besi Pembatas Jalan untuk Nafkahi Keluarga Berujung Ditangkap Polisi dan Warga

Megapolitan
Kata Karyawan Swasta, Tapera Terasa Membebani yang Bergaji Pas-pasan

Kata Karyawan Swasta, Tapera Terasa Membebani yang Bergaji Pas-pasan

Megapolitan
Soal Wacana Rusun Baru untuk Eks Warga Kampung Bayam, Pemprov DKI: 'Don't Worry'

Soal Wacana Rusun Baru untuk Eks Warga Kampung Bayam, Pemprov DKI: "Don't Worry"

Megapolitan
DPC Gerindra Serahkan 7 Nama Bakal Calon Wali Kota Bogor ke DPD

DPC Gerindra Serahkan 7 Nama Bakal Calon Wali Kota Bogor ke DPD

Megapolitan
Gaji Dipotong untuk Tapera, Pegawai Swasta: Curiga Uangnya Dipakai Lagi oleh Negara

Gaji Dipotong untuk Tapera, Pegawai Swasta: Curiga Uangnya Dipakai Lagi oleh Negara

Megapolitan
Fakta-fakta Penemuan Mayat Dalam Toren Air di Pondok Aren: Korban Sempat Pamit Beli Kopi dan Ponselnya Hilang

Fakta-fakta Penemuan Mayat Dalam Toren Air di Pondok Aren: Korban Sempat Pamit Beli Kopi dan Ponselnya Hilang

Megapolitan
Heru Budi Sebut Bakal Ada Seremonial Khusus Lepas Nama DKI Jadi DKJ

Heru Budi Sebut Bakal Ada Seremonial Khusus Lepas Nama DKI Jadi DKJ

Megapolitan
Keberatan soal Iuran Tapera, Karyawan Keluhkan Gaji Pas-pasan Dipotong Lagi

Keberatan soal Iuran Tapera, Karyawan Keluhkan Gaji Pas-pasan Dipotong Lagi

Megapolitan
Duka Darmiyati, Anak Pamit Beli Kopi lalu Ditemukan Tewas Dalam Toren Tetangga 2 Hari Setelahnya

Duka Darmiyati, Anak Pamit Beli Kopi lalu Ditemukan Tewas Dalam Toren Tetangga 2 Hari Setelahnya

Megapolitan
Pengedar Narkoba di Koja Pindah-pindah Kontrakan untuk Menghilangkan Jejak dari Polisi

Pengedar Narkoba di Koja Pindah-pindah Kontrakan untuk Menghilangkan Jejak dari Polisi

Megapolitan
DPC Gerindra Tunggu Instruksi DPD soal Calon Wali Kota Pilkada Bogor 2024

DPC Gerindra Tunggu Instruksi DPD soal Calon Wali Kota Pilkada Bogor 2024

Megapolitan
Perempuan Tewas Terlindas Truk Trailer di Clincing, Sopir Truk Kabur

Perempuan Tewas Terlindas Truk Trailer di Clincing, Sopir Truk Kabur

Megapolitan
Keluarga di Pondok Aren Gunakan Air buat Sikat Gigi dan Wudu dari Toren yang Berisi Mayat

Keluarga di Pondok Aren Gunakan Air buat Sikat Gigi dan Wudu dari Toren yang Berisi Mayat

Megapolitan
Heru Budi: Tinggal Menghitung Bulan, Jakarta Tak Lagi Jadi Ibu Kota Negara

Heru Budi: Tinggal Menghitung Bulan, Jakarta Tak Lagi Jadi Ibu Kota Negara

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com