Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Naik Selama 17 Tahun, Komisi B DPRD DKI Minta Pemprov Kaji Usulan Kenaikan Tarif Transjakarta

Kompas.com - 15/05/2024, 17:30 WIB
Firda Janati,
Akhdi Martin Pratama

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Ismail meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengkaji usulan kenaikan harga tarif transportasi umum Transjakarta (TJ).

Ismail mengatakan, tarif Transjakarta belum pernah naik dari era Gubernur Sutiyoso. Dari yang mulanya Rp 2.000 per orang, kemudian menjadi Rp 3.500 di 2007 hingga sekarang.

"Salah satu ide awal kenaikan tarif ini karena memang sejak Transjakarta ini bergulir, zaman Gubernur Pak Sutiyoso sampai dengan sekarang, tarifnya belum naik, masih flat," kata Ismail saat dikonfirmasi, Rabu (15/5/2024).

Baca juga: Sopir JakLingko Ugal-ugalan Saat Bawa Penumpang, Komisaris Transjakarta Janji Evaluasi

"Sementara kita ketahui bersama segala sesuatunya sudah ada fluktuasi," tambahnya.

Selain itu, kata Ismail, Pemprov DKI berkomitmen untuk merealisasikan zero emission pada seluruh transportasi dan kendaraan khususnya di Jakarta.

Salah satu caranya merealisasikan itu adalah memperbanyak transportasi umum berbasis berbasis listrik.

"Salah satu komitmen kita yaitu zero emission. Ya tentunya disini nanti mengarah pada EV (Electric Vehicle). Sehingga, transportasi umum massal itu kita arahkan ke sana," kata dia.

Ismail mengatakan, pembahasan soal wacana kenaikan tarif Transjakarta ini akan dibahas dengan eksekutif secara intens mulai pekan depan.

"Iya (pekan depan), karena memang banyak sekali hal yang perlu kita ulas," tuturnya.

Menurut Ismail, isu kenaikan tarif Transjakarta menjadi agenda prioritas untuk dibahas dengan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI, PT Transjakarta dan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ).

"Tujuannya nanti kita yakini (kenaikan tarif Transjakarta) untuk kebaikan bersama, baik masyarakat sebagai pengguna maupun menciptakan lingkungan yang lebih bersih lagi," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan (Dishub) mengakui menerima banyak usulan kenaikan tarif bus Transjakarta.

Baca juga: Maju Mundur Kenaikan Tarif Transjakarta, Wacana Harga Tiket yang Tak Lagi Rp 3.500

Namun, Dishub masih mengkaji terkait usulan kenaikan tarif Transjakarta tersebut karena perlu perencanaan yang matang.

"Memang sudah banyak usulan untuk kenaikan tarif, tapi kembali lagi kami terus melakukan kajian," ujar Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo, Kamis (18/4/2024).

Menurut Syafrin, kenaikan tarif layanan bus transjakarta tersebut nantinya masih harus didiskusikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta.

Wacana kenaikan tarif TJ ini bukan pertama kalinya. Kenaikan ini sudah pernah dibahas Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) pada 2023.

DTKJ sudah mendesak untuk menaikkan tarif bus transjakarta. Saat itu, PT Transjakarta menyebutkan, tarif yang akan naik merupakan layanan pada jam sibuk.

Namun wacana kenaikan tarif TJ yang beberapa kali diisukan itu belum teralisasikan hingga sekarang.

Baca juga: Dishub DKI Segera Uji Coba Transjakarta Rute Pulogadung-Kantor Wali Kota Jakut

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

PPDB SD Hanya Dibuka Jalur Zonasi, Disdik: Kalau Satu RT, Otomatis Diterima

PPDB SD Hanya Dibuka Jalur Zonasi, Disdik: Kalau Satu RT, Otomatis Diterima

Megapolitan
Wanita di Tangsel Babak Belur Dianiaya Pacar karena Kesal Ponselnya Hilang

Wanita di Tangsel Babak Belur Dianiaya Pacar karena Kesal Ponselnya Hilang

Megapolitan
Jasad Bayi Perempuan Ditemukan di Aliran Sungai Ciliwung, Awalnya Dikira Kucing

Jasad Bayi Perempuan Ditemukan di Aliran Sungai Ciliwung, Awalnya Dikira Kucing

Megapolitan
Menyambangi Gang Venus Tambora, Permukiman Padat yang Minim Sinar Matahari

Menyambangi Gang Venus Tambora, Permukiman Padat yang Minim Sinar Matahari

Megapolitan
Supian Suri Ungkap Alasan Ajak Intan Fauzi Duet pada Pilkada Depok 2024

Supian Suri Ungkap Alasan Ajak Intan Fauzi Duet pada Pilkada Depok 2024

Megapolitan
Kronologi Pengeroyokan Siswi SMP di Bekasi

Kronologi Pengeroyokan Siswi SMP di Bekasi

Megapolitan
Saksi: Sekuriti GBK yang Cekcok dengan Fotografer Sudah Dipindah Tugas

Saksi: Sekuriti GBK yang Cekcok dengan Fotografer Sudah Dipindah Tugas

Megapolitan
Pelaku 'Live' Instagram Saat Keroyok Siswi SMP di Bekasi

Pelaku "Live" Instagram Saat Keroyok Siswi SMP di Bekasi

Megapolitan
Anies Baswedan Terima Dukungan PKB untuk Maju Pilkada Jakarta 2024

Anies Baswedan Terima Dukungan PKB untuk Maju Pilkada Jakarta 2024

Megapolitan
Pelaku Pengeroyokan Siswi SMP di Bekasi Berjumlah 4 Orang, Beda Sekolah dengan Korban

Pelaku Pengeroyokan Siswi SMP di Bekasi Berjumlah 4 Orang, Beda Sekolah dengan Korban

Megapolitan
'Jangan-jangan Polisi Atau Jaksa Tebang Pilih Tidak Menahan Firli Bahuri'

"Jangan-jangan Polisi Atau Jaksa Tebang Pilih Tidak Menahan Firli Bahuri"

Megapolitan
Ajak Intan Fauzi Maju Bareng di Pilkada Depok, Supian Suri Klaim Tinggal Tunggu Restu Zulhas

Ajak Intan Fauzi Maju Bareng di Pilkada Depok, Supian Suri Klaim Tinggal Tunggu Restu Zulhas

Megapolitan
Lelang Rubicon Mario Dandy Dimenangi PT Adiguna Bumi Petrol, Laku Rp 725 Juta

Lelang Rubicon Mario Dandy Dimenangi PT Adiguna Bumi Petrol, Laku Rp 725 Juta

Megapolitan
Sekuriti GBK Cekcok dengan Fotografer, Saksi: Sudah Sering Ribut

Sekuriti GBK Cekcok dengan Fotografer, Saksi: Sudah Sering Ribut

Megapolitan
Kejagung Limpahkan 10 Tersangka Korupsi Timah ke Kejari Jaksel

Kejagung Limpahkan 10 Tersangka Korupsi Timah ke Kejari Jaksel

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com