Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terganggu Pembangunan Gedung, Warga Bentrok dengan Pengawas Proyek di Mampang Prapatan

Kompas.com - 15/05/2024, 23:30 WIB
Dzaky Nurcahyo,
Jessi Carina

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bentrok terjadi antara kelompok pengawas proyek gedung dan warga di Jalan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Minggu (12/5/2024).

Wakasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Henrikus Yossi mengatakan, bentrokan dipicu proyek pembangunan di kawasan itu.

“Peristiwa ini dipicu karena adanya aktivitas pembangunan yang mengganggu salah satu kelompok yang memang kesehariannya bertempat tinggal di situ,” ujar Yossi saat jumpa pers.

Warga sekitar, kata Yossi, merasa terganggu dengan bunyi yang ditimbulkan dari proyek pembangunan.

Baca juga: Ponsel Milik Mayat di Kali Sodong Hilang, Hasil Lacak Tunjukkan Posisi Masih di Jakarta

Mereka kemudian melakukan pengrusakan terhadap CCTV di area proyek sebagai salah satu bentuk protes.

“Sebelum bentrokan pecah, ada insiden pengrusakan CCTV yang dilakukan kelompok yang mengatasnamakan dirinya warga sekitar. Mereka merusak CCTV pada Minggu dini hari,” ungkap dia.

Aksi itu lantas membuat kelompok pengawas proyek geram.

Salah satu anggota kelompok pengawas proyek berinisial DKA (46) yang gelap mata lantas melakukan penyerangan.

Ia menyerang seorang pria berinisial AR (36). AR merupakan anggota dari kelompok warga.

Baca juga: Pakai Seragam Parkir Dishub, Jukir di Duri Kosambi Bingung Tetap Diamankan Petugas

“Dia (DKA) langsung mengambil senjata tajam saat AR melintas. Dia lalu menghunuskan sebilah golok dan mengenai lengan kanan korban,” ucap Yossi.

Setelah itu, lanjut Yossi, AR yang tak terima dengan aksi DKA segera melaporkan peristiwa tersebut ke kelompoknya.

Sementara itu, DKA yang gelap mata juga melaporkan pembacokan yang telah dilakukannya kepada teman-temannya.

“Masing-masing kelompok membekali diri mereka dengan senjata tajam dan bentrokan tak terhindarkan,” imbuh dia.

Atas peristiwa ini, polisi menangkap lima orang dan ditetapkan sebagai tersangka.

Baca juga: Sekolah di Tangerang Selatan Disarankan Buat Kegiatan Sosial daripada Study Tour ke Luar Kota

Untuk tersangka penganiayaan yang diringkus adalah DKA. Sedangkan, empat tersangka lain ditangkap atas kepemilikan senjata tajam. Mereka adalah HD (44), NW (25), RS (23), dan MA (22).

Tersangka DKA dijerat Pasal 354 KUHP Subsider Pasal 351 KUHP dengan ancaman pidama maksimal 10 tahun penjara.

Sedangkan, keempat tersangka lainnya dijerat Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata dengan ancaman pidana 10 tahun penjara.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Bingung dengan Potongan Gaji untuk Tapera, Pegawai Swasta: Yang Punya Rumah Kena Juga, Enggak?

Bingung dengan Potongan Gaji untuk Tapera, Pegawai Swasta: Yang Punya Rumah Kena Juga, Enggak?

Megapolitan
Ulah Keblinger Pria di Koja, Curi Besi Pembatas Jalan untuk Nafkahi Keluarga Berujung Ditangkap Polisi dan Warga

Ulah Keblinger Pria di Koja, Curi Besi Pembatas Jalan untuk Nafkahi Keluarga Berujung Ditangkap Polisi dan Warga

Megapolitan
Kata Karyawan Swasta, Tapera Terasa Membebani yang Bergaji Pas-pasan

Kata Karyawan Swasta, Tapera Terasa Membebani yang Bergaji Pas-pasan

Megapolitan
Soal Wacana Rusun Baru untuk Eks Warga Kampung Bayam, Pemprov DKI: 'Don't Worry'

Soal Wacana Rusun Baru untuk Eks Warga Kampung Bayam, Pemprov DKI: "Don't Worry"

Megapolitan
DPC Gerindra Serahkan 7 Nama Bakal Calon Wali Kota Bogor ke DPD

DPC Gerindra Serahkan 7 Nama Bakal Calon Wali Kota Bogor ke DPD

Megapolitan
Gaji Dipotong untuk Tapera, Pegawai Swasta: Curiga Uangnya Dipakai Lagi oleh Negara

Gaji Dipotong untuk Tapera, Pegawai Swasta: Curiga Uangnya Dipakai Lagi oleh Negara

Megapolitan
Fakta-fakta Penemuan Mayat Dalam Toren Air di Pondok Aren: Korban Sempat Pamit Beli Kopi dan Ponselnya Hilang

Fakta-fakta Penemuan Mayat Dalam Toren Air di Pondok Aren: Korban Sempat Pamit Beli Kopi dan Ponselnya Hilang

Megapolitan
Heru Budi Sebut Bakal Ada Seremonial Khusus Lepas Nama DKI Jadi DKJ

Heru Budi Sebut Bakal Ada Seremonial Khusus Lepas Nama DKI Jadi DKJ

Megapolitan
Keberatan soal Iuran Tapera, Karyawan Keluhkan Gaji Pas-pasan Dipotong Lagi

Keberatan soal Iuran Tapera, Karyawan Keluhkan Gaji Pas-pasan Dipotong Lagi

Megapolitan
Duka Darmiyati, Anak Pamit Beli Kopi lalu Ditemukan Tewas Dalam Toren Tetangga 2 Hari Setelahnya

Duka Darmiyati, Anak Pamit Beli Kopi lalu Ditemukan Tewas Dalam Toren Tetangga 2 Hari Setelahnya

Megapolitan
Pengedar Narkoba di Koja Pindah-pindah Kontrakan untuk Menghilangkan Jejak dari Polisi

Pengedar Narkoba di Koja Pindah-pindah Kontrakan untuk Menghilangkan Jejak dari Polisi

Megapolitan
DPC Gerindra Tunggu Instruksi DPD soal Calon Wali Kota Pilkada Bogor 2024

DPC Gerindra Tunggu Instruksi DPD soal Calon Wali Kota Pilkada Bogor 2024

Megapolitan
Perempuan Tewas Terlindas Truk Trailer di Clincing, Sopir Truk Kabur

Perempuan Tewas Terlindas Truk Trailer di Clincing, Sopir Truk Kabur

Megapolitan
Keluarga di Pondok Aren Gunakan Air buat Sikat Gigi dan Wudu dari Toren yang Berisi Mayat

Keluarga di Pondok Aren Gunakan Air buat Sikat Gigi dan Wudu dari Toren yang Berisi Mayat

Megapolitan
Heru Budi: Tinggal Menghitung Bulan, Jakarta Tak Lagi Jadi Ibu Kota Negara

Heru Budi: Tinggal Menghitung Bulan, Jakarta Tak Lagi Jadi Ibu Kota Negara

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com