Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fakta-fakta Donasi Palsu Kecelakaan SMK Lingga Kencana, Pelaku Mengaku Paman Korban dan Raup Rp 11 Juta

Kompas.com - 16/05/2024, 20:28 WIB
Abdul Haris Maulana

Editor

DEPOK, KOMPAS.com - Duka mendalam atas kasus kecelakaan maut bus rombongan SMK Lingga Kencana Depok di Subang, Jawa Barat, dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan.

Oknum tersebut dengan sengaja membuka donasi palsu atas nama korban kecelakaan di media sosial.

Mengaku sebagai om korban

Rosdiyana (37), ibunda almarhum Mehesya Putra, salah satu korban tewas dalam kecelakaan di Subang, menyebut ada orang yang mengaku sebagai om dari anaknya untuk menggalang donasi di media sosial TikTok.

Baca juga: Muncul Donasi Palsu untuk Korban Kecelakaan Pelajar SMK Lingga Kencana

"Iya, dia (pelaku) ngakunya sebagai omnya Mahesya di Surabaya membuka donasi. Padahal Mahesya enggak punya om di sana," ujar Rosdiyana saat berbincang dengan Kompas.com, Rabu (15/5/2024).

Rosdiyana menegaskan, keluarga besar Mahesya seluruhnya berdomisili di Depok, tidak ada yang berada di daerah lain.

Pihak keluarga sangat keberatan dengan pembukaan donasi itu. Menurut Rosdiyana, pihaknya tidak sampai berpikir untuk meminta sumbangan ke publik atas musibah yang baru dialami.

"Boro-boro mikirin seperti itu. Kami ini masih repot urus sana sini. Jadi keluarga enggak mungkin buka donasi seperti itu," jelas Rosdiyana.

"Itu mah sudah penipuan namanya. Sudah penggelapan namanya," lanjut dia.

Sudah kumpulkan Rp 11 juta

Baca juga: Donasi Palsu untuk Korban Kecelakaan Siswa SMK Lingga Kencana Disebut Tembus Rp 11 Juta

Rosdiyana mengungkapkan, donasi palsu tersebut berhasil meraup uang lebih dari Rp 11 juta.

"Saya tahu dari keponakan. Katanya donasi yang terkumpul sudah Rp 11 juta lebih," ujar Rosdiyana.

Jumlah uang tersebut diketahui berdasarkan unggahan si pelaku di media sosialnya.

Pelaku mempublikasikan donasi palsunya di media sosial TikTok.

Berencana lapor polisi

Merasa dirugikan, Rosdiyana akan membawa masalah donasi palsu yang mengatasnamakan keluarganya ke ranah hukum.

Baca juga: Keluarga Korban Kecelakaan Siswa SMK Lingga Kencana Berencana Bawa Kasus Donasi Palsu ke Polisi

"Sampai sekarang kami masih mencari bukti-bukti yang kuat. Semisal nanti sama keluarga rembukan lagi, dan kalau ada jawaban pastinya, baru nanti kami undang pihak hukum," kata Rosdiyana.

Kini, pihak keluarga tengah mencari bukti soal pembukaan donasi oleh pihak yang tak bertanggung jawab itu.

Apabila bukti sudah cukup, mereka akan menyampaikannya ke aparat kepolisian untuk diusut.

Pihak keluarga Mahesya berharap tak ada lagi masyarakat yang tertipu dengan pembukaan donasi itu.

(Penulis: Dinda Aulia Ramadhanty | Editor: Fabian Januarius Kuwado, Ambaranie Nadia Kemala Movanita)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pencuri Pembatas Jalan di Rawa Badak Terancam Dipenjara 5 Tahun

Pencuri Pembatas Jalan di Rawa Badak Terancam Dipenjara 5 Tahun

Megapolitan
'Lebih Baik KPR daripada Gaji Dipotong untuk Tapera, Enggak Budget Wise'

"Lebih Baik KPR daripada Gaji Dipotong untuk Tapera, Enggak Budget Wise"

Megapolitan
Gaji Bakal Dipotong buat Tapera, Karyawan yang Sudah Punya Rumah Bersuara

Gaji Bakal Dipotong buat Tapera, Karyawan yang Sudah Punya Rumah Bersuara

Megapolitan
Panca Pembunuh 4 Anak Kandung Hadiri Sidang Perdana, Pakai Sandal Jepit dan Diam Seribu Bahasa

Panca Pembunuh 4 Anak Kandung Hadiri Sidang Perdana, Pakai Sandal Jepit dan Diam Seribu Bahasa

Megapolitan
Keberatan Soal Iuran Tapera, Pegawai: Pusing, Gaji Saya Sudah Kebanyakan Potongan

Keberatan Soal Iuran Tapera, Pegawai: Pusing, Gaji Saya Sudah Kebanyakan Potongan

Megapolitan
Nestapa Pekerja soal Iuran Tapera : Gaji Ngepas, Pencairan Sulit

Nestapa Pekerja soal Iuran Tapera : Gaji Ngepas, Pencairan Sulit

Megapolitan
Satu Tahun Dagang Sabu, Pria di Koja Terancam 20 Tahun Penjara

Satu Tahun Dagang Sabu, Pria di Koja Terancam 20 Tahun Penjara

Megapolitan
Bingung dengan Potongan Gaji untuk Tapera, Pegawai Swasta: Yang Punya Rumah Kena Juga, Enggak?

Bingung dengan Potongan Gaji untuk Tapera, Pegawai Swasta: Yang Punya Rumah Kena Juga, Enggak?

Megapolitan
Ulah Keblinger Pria di Koja, Curi Besi Pembatas Jalan untuk Nafkahi Keluarga Berujung Ditangkap Polisi dan Warga

Ulah Keblinger Pria di Koja, Curi Besi Pembatas Jalan untuk Nafkahi Keluarga Berujung Ditangkap Polisi dan Warga

Megapolitan
Kata Karyawan Swasta, Tapera Terasa Membebani yang Bergaji Pas-pasan

Kata Karyawan Swasta, Tapera Terasa Membebani yang Bergaji Pas-pasan

Megapolitan
Soal Wacana Rusun Baru untuk Eks Warga Kampung Bayam, Pemprov DKI: 'Don't Worry'

Soal Wacana Rusun Baru untuk Eks Warga Kampung Bayam, Pemprov DKI: "Don't Worry"

Megapolitan
DPC Gerindra Serahkan 7 Nama Bakal Calon Wali Kota Bogor ke DPD

DPC Gerindra Serahkan 7 Nama Bakal Calon Wali Kota Bogor ke DPD

Megapolitan
Gaji Dipotong untuk Tapera, Pegawai Swasta: Curiga Uangnya Dipakai Lagi oleh Negara

Gaji Dipotong untuk Tapera, Pegawai Swasta: Curiga Uangnya Dipakai Lagi oleh Negara

Megapolitan
Fakta-fakta Penemuan Mayat Dalam Toren Air di Pondok Aren: Korban Sempat Pamit Beli Kopi dan Ponselnya Hilang

Fakta-fakta Penemuan Mayat Dalam Toren Air di Pondok Aren: Korban Sempat Pamit Beli Kopi dan Ponselnya Hilang

Megapolitan
Heru Budi Sebut Bakal Ada Seremonial Khusus Lepas Nama DKI Jadi DKJ

Heru Budi Sebut Bakal Ada Seremonial Khusus Lepas Nama DKI Jadi DKJ

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com