Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pembebasan Ketua Kelompok Tani KSB Jadi Syarat Warga Mau Tinggalkan Rusun Kampung Bayam

Kompas.com - 22/05/2024, 15:58 WIB
Shinta Dwi Ayu,
Fitria Chusna Farisa

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembebasan Furqon (46), Ketua Kelompok Tani Kampung Susun Bayam (KSB), menjadi alasan warga KSB akhirnya mau meninggalkan rumah susun (rusun) mereka. 

Furqon sebelumnya ditangkap dan ditahan oleh kepolisian sejak 20 April 2024.

Dalam insiden penggerudukan warga oleh ratusan sekuriti yang mengaku diperintah oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Selasa (21/5/2024), warga membuat kesepakatan dengan pihak PT Jakpro bahwa mereka bersedia meninggalkan rusun jika Furqon dibebaskan.

"Selama proses mediasi, warga meminta Furqon, Ketua Tani KSB yang ditahan polisi, dibebaskan terlebih dahulu," bunyi poin ketiga surat perjanjian antara warga KSB dan PT Jakpro yang diterima Kompas.com, Rabu (22/5/2024).

Setelah bersepakat, pihak PT Jakpro langsung mengabulkan permintaan warga KSB untuk membebaskan Furqon.

Furqon dijemput di Polres Metro Jakarta Utara oleh kuasa hukumnya, sang istri, dan beberapa warga KSB lainnya pada Selasa (21/5/2024) sekitar pukul 20.00 WIB.

Baca juga: Bikin Surat Perjanjian dengan Jakpro, Warga Sepakat Tinggalkan Rusun Kampung Susun Bayam

Awalnya, Furqon mengaku bingung mengapa dirinya tiba-tiba bisa dibebaskan. Sebab, istri dan kuasa hukumnya tak menjelaskan apa pun.

"Mereka bilang yang jelas sedang negosiasi, saya bertanya kok udah bisa keluar? Mereka bilang, yaudah intinya bagus untuk Bang Furqon," kata Furqon saat diwawancarai oleh Kompas.com di Hunian Sementara (Huntara) KSB di Jalan Tongkol, Jakarta Utara, Rabu (22/5/2024).

Usai dibebaskan, Furqon kembali ke rusun KSB di samping Jakarta International Stadium (JIS). Saat itulah, ia baru mengetahui telah terjadi keributan antara warga dan ratusan sekuriti utusan Jakpro.

Namun, Furqon berusaha menenangkan warga dan mengajak mereka berpindah ke Huntara KSB.

"Saya kondisiin warga dulu, agar rasa kecewanya enggak tinggi. Ayo, sekarang kita kemas barang," sambungnya.

Selain pembebasan Furqon, dalam surat perjanjian itu juga tertuang beberapa permintaan warga KSB kepada pihak Jakpro. Bunyinya sebagai berikut:

Pertama, selama menunggu proses mediasi yang diselenggarakan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) maka kami (warga KSB dan Jakpro) berkomitmen untuk menjaga kondusivitas antara pihak yang bersengketa hunian Kampung Susun Bayam.

Kedua, selama menunggu proses mediasi yang diselenggarakan oleh Komnas HAM maka warga KSB akan keluar dari rusun dan menempati huntara di Jalan Tongkol 10 atau Pergudangan Kerapu 10, RT 009/ RW 001, kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Ketiga, semua pihak harus memastikan kehidupan yang layak secara kemanusiaan dan hukum.

Kelima, menyatakan bahwa dokumen ini satu dokumen yang tidak terpisahkan dan menjadi bukti bagi pihak secara hukum.

Baca juga: Warga Lihat Ibunda Furqon Ketua Tani Kampung Susun Bayam Hendak Dibawa Paksa Saat Penggerudukan

Seperti diberitakan sebelumnya, Selasa (21/5/2024), warga KSB mendadak digeruduk oleh ratusan sekuriti yang mengaku diperintah oleh Jakpro. Ratusan sekuriti itu meminta agar warga segera mengosongi KSB, karena dianggap tinggal tanpa izin.

Sebelumnya, warga KSB disebut telah sepakat rumahnya digusur lantaran terimbas pembangunan Jakarta International Stadium (JIS). Bahkan, sebelumnya warga sepakat untuk membongkar huniannya secara mandiri.

Jakpro pun mengaku sudah memberikan uang ganti rugi kepada warga. Jakpro menyebut telag mengeluarkan dana sebesar 1,17 miliar untuk memberi kompensasi kepada warga yang bersedia rumahnya digusur.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Problematika Rumah Subsidi, Banyak Pembeli Bertujuan Investasi demi Untung Besar

Problematika Rumah Subsidi, Banyak Pembeli Bertujuan Investasi demi Untung Besar

Megapolitan
Pengamat: Harga Rumah Subsidi Rp 160 Juta-Rp 240 Juta Sulit Diwujudkan sebagai Hunian Layak

Pengamat: Harga Rumah Subsidi Rp 160 Juta-Rp 240 Juta Sulit Diwujudkan sebagai Hunian Layak

Megapolitan
Kualitas Bangunan dan Lokasi Jauh Jadi Penyebab Rumah Subsidi di Cikarang Kosong Terbengkalai

Kualitas Bangunan dan Lokasi Jauh Jadi Penyebab Rumah Subsidi di Cikarang Kosong Terbengkalai

Megapolitan
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Selasa 25 Juni 2024 dan Besok: Tengah Malam ini Berawan

Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Selasa 25 Juni 2024 dan Besok: Tengah Malam ini Berawan

Megapolitan
Soal Kans Sahroni Maju Pilkada Jakarta, Surya Paloh: Cek Dulu, Dia Siap Lahir Batin atau Enggak?

Soal Kans Sahroni Maju Pilkada Jakarta, Surya Paloh: Cek Dulu, Dia Siap Lahir Batin atau Enggak?

Megapolitan
Anak Bunuh Ayah Kandung di Duren Sawit, Sempat Kabur lalu 'Dijebak' Tetangga

Anak Bunuh Ayah Kandung di Duren Sawit, Sempat Kabur lalu "Dijebak" Tetangga

Megapolitan
Ayah di Duren Sawit Tewas di Tangan Putri Kandung, Ditikam Saat Tidur

Ayah di Duren Sawit Tewas di Tangan Putri Kandung, Ditikam Saat Tidur

Megapolitan
Kota Bogor Tuan Rumah Musda ke-17 Hipmi, Pemkot Minta Pengusaha Belanja Produk Lokal

Kota Bogor Tuan Rumah Musda ke-17 Hipmi, Pemkot Minta Pengusaha Belanja Produk Lokal

Megapolitan
Putri Bunuh Ayah Kandung di Duren Sawit, Pelaku Disebut Hidup di Jalan sebagai Pengamen

Putri Bunuh Ayah Kandung di Duren Sawit, Pelaku Disebut Hidup di Jalan sebagai Pengamen

Megapolitan
Polisi Tangkap Pemilik 'Wedding Organizer' yang Diduga Tipu Calon Pengantin di Bogor

Polisi Tangkap Pemilik "Wedding Organizer" yang Diduga Tipu Calon Pengantin di Bogor

Megapolitan
Usai Bunuh Ayahnya, Putri Pedagang Perabot di Duren Sawit Gondol Motor dan Ponsel Korban

Usai Bunuh Ayahnya, Putri Pedagang Perabot di Duren Sawit Gondol Motor dan Ponsel Korban

Megapolitan
Polisi Kantongi Identitas 3 Jukir Liar yang Getok Tarif Parkir Bus Rp 300.000 di Masjid Istiqlal

Polisi Kantongi Identitas 3 Jukir Liar yang Getok Tarif Parkir Bus Rp 300.000 di Masjid Istiqlal

Megapolitan
Pedagang Perabot Dibunuh Anaknya, Pelaku Emosi karena Tidak Terima Dimarahi

Pedagang Perabot Dibunuh Anaknya, Pelaku Emosi karena Tidak Terima Dimarahi

Megapolitan
Pembunuh Pedagang Perabot Sempat Kembali ke Toko Usai Dengar Kabar Ayahnya Tewas

Pembunuh Pedagang Perabot Sempat Kembali ke Toko Usai Dengar Kabar Ayahnya Tewas

Megapolitan
KPU DKI Bakal Coklit Data Pemilih Penghuni Apartemen untuk Pilkada 2024

KPU DKI Bakal Coklit Data Pemilih Penghuni Apartemen untuk Pilkada 2024

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com