Rabu, 23 Juli 2014

News / Megapolitan

Pembunuhan Misterius di Bogor

Rabu, 2 Maret 2011 | 22:13 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Aparat Polsek Jonggol masih belum dapat memastikan latar belakang peristiwa tragis yang menimpa suami isteri, Endah Indri (33) dan Jefri Ratuedo (38), warga Bukit Alamanda, Perumahan Citra Indah, di Desa Sukamaju, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Polisi menduga, kematian Endah berkaitan dengan masalah kekerasan dalam rumah tangga. Sementara sang suami Jefri masih dalam kondisi koma di ICU RS Thamrin Jakarta.  

 

Kepala Polsek Jonggol Komisaris H Purnomo menjelaskan, harapan penyidik untuk mendapat titik terang latar belakang peristiwa itu dari anak korban, Duta Yosuha (9), masih jauh. Sebab, walaupun Duta bersama bude-nya sudah mau datang ke kantor polsek pada Senin malam, anak tersebut belum bisa berbicara banyak. Ia sama sekali tidak mau bercerita ketika ada polisi berseragam.  

 

"Kepada polwan yang berpakaian preman, yang saya minta untuk mengobrol dengannya, Duta juga tidak mau, obrolan keduanya dicatat apalagi direkam. Anaknya menjadi sangat pendiam dan tertutup. Ia beberapa kali menyatakan ketakutan, juga ketakutan polisi berseragam akan menangkapnya. Anak itu masih trauma. Kami berpikir, Duta lebih baik diperiksa pskiater, tapi itu bergantung pada keluarganya juga," tuturnya, Rabu (2/3/2011) siang.  

 

Sedangkan ayah Duta, Jefri Ratuedo, masih dalam kondisi koma di ruang ICU RS Thamrin Jakarta. Selasa malam, korban dirujuk dari RS Thamrin Cileungsi Bogor ke RS Thamrin Jakarta. Sebab, peralatan untuk memasukan oksigen ke otak korban, lebih lengkap di RS Thamrin Jakarta.

"Korban masih koma. Sempat sadar, lalu hilang lagi. Kalangan medis rumah sakit, menghawatirkan ada kerusakan permanen pada otak karyawan PT Holcim tersebut," tambahnya.  

 

Endah Jefri ditemukan dalam kondisi mengenaskan di lantai kamar mandi yang besatu dengan kamar tidur, pada Minggu (27/2/2011) sekitar pukul 13.00. Endah sudah dalam keadaan meninggal dunia dengan cedera berat pada kepala belakangnya akibat benturan benda tumpul.

Sedangkan, Jefri dalam keadaan tidak sadar diri dengan kaki kanan patah dan ada luka bekas jeratan di lehernya. Polisi juga menemukan kabel bekas setrika listik dan selang air shower yang terikat menggantung di kayu kaso plafon kamar mandi.  

 

"Kami pastikan peristiwa itu bukan berlatar belakang perampokan. Tidak ada barang korban yang hilang, termasuk mobilnya masih utuh. Kami menduga, peristiwa tragis ini masalah kekerasan dalam rumah tangga, walaupun pemicunya belum jelas, karena korban masih koma dan keluarga besarnya pun tidak tahu. Dari kantonya, kami dapat penjelasan, korban tidak punya masalah dalam urusan kerja," kata Purnomo.  

 

Coba Bangunkan Ibu

Adapun dari obrolan polwan penyidik dengan Duta, lanjut Purnomo, terungkap, Duta dan adiknya, Michael (4), pada hari Jumat dan Sabtu, seperti biasanya bangun pagi. Keduanya tidur di kamar terpisah dengan kamar tidur orangtuanya.  

 

Dua pagi itu, Duta sarapan pagi bersama adiknya, dengan makanan yang ada di dapur, tanpa ditemani orang tuanya. Orangtuanya masih ada di dalam kamar yang pintunya terkunci. Duta lalu pergi sekolah meninggalkan adiknya di kamar. Pulang sekolah, Duta hanya menemui adiknya. Kedua nya makan mi instan yang dibuat duta, atau jajanan yang dibeli Duta.  

 

"Duta tahu orang tuanya ada di dalam kamar, tetapi menganggapnya biasa saja. Dia tidak berani buka pintu kamar. Pada Minggu (6/2/2011), karena ibunya tidak keluar juga dari kamar, Duta baru berani melongok ke kamar tidur orangtuanya dari jendela kecil," ungkap Purnomo.  

 

Dari jendela itu, Duta melihat ibunya terlentang antara kamar mandi dan kamar tidur. Kepala ibunya ada di lantai kamar tidur, badan dan kakinya di lantai kamar mandi. Duta lalu memberanikan diri membuka paksa kamar tidur orangtuanya itu, dengan menendang-nendang pintunya sampai terbuka. Ia pun masuk kamar, lalu melihat juga ayahnya yang terlentang di kamar mandi.  

 

"Duta juga bilang, ia menguncang-guncang tubuh ibunya agar bangun. Ia juga mengambil HP ayahnya, karena sang ayah menyuruh menghubungi kantor dan membawa ibunya ke rumah sakit. Waktu kami sampai di lokasi, kami pastikan, ibunya sudah meninggal dunia dan sudah berbau karena mulai ada pembusukan. Ayahnya, masih bernafas tapi tidak ada responnya sama sekali," kata Purnomo.  

 

Karena Duta tidak bisa menelepon ke kantor ayahnya, ia lalu pergi ke rumah Ny Ratih, tetangga nya yang juga menjadi RT setempat. Kepada Ratih, Duta mengatakan ibunya tidak bisa banun karena sakit dan minta diantar ke kantor ayahnya. Ratih menilai sakit Endah biasa-biasa saja, lalu memanggil satpam permuhan untuk mengantar Duta ke kantor ayahnya.  

 

Ny Ratih, kata Kapolsek Jonggol, baru masuk ke rumah Endah Jefri bersama satpam, setelah Duta tiba bersama beberapa karyawan Holcim. Mereka mencium bau busuk ketika masuk rumah, dan sangat terkejut melihat pasangan suami isteri itu yang sudah terlentang di lantai. Melihat itu karyawan Holcim meminta semua keluar rumah dan menelepon Polsek Jonggol, meminta polisi segera datang.


Editor : Tri Wahono