Selasa, 2 September 2014

News / Megapolitan

Transportasi Publik

Kereta "Dua Lantai" ala Jabodetabek

Jumat, 17 Februari 2012 | 10:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - ”Kenapa harus bangga naik di atap?” ujar Boy (21). Warga Bogor yang bekerja di Asemka, Jakarta Barat, ini sudah tiga tahun terakhir menjadi pelanggan KRL ekonomi. Bersama ratusan orang, dia memilih duduk di atap lantaran kabin penumpang sudah teramat sesak. ”Semata karena kami butuh transportasi.”

Kereta rel listrik (KRL) ekonomi memang menjadi primadona bagi ratusan komuter. Selain cepat dan terjadwal, harga tiketnya juga murah meriah. Kepadatan KRL ekonomi sampai ”dua lantai ” menjadi pemandangan setiap pagi, terutama KRL jalur Bogor.

Jalur terpanjang di lintasan KRL Jabodetabek ini memang teramat diminati. Di jalur Bekasi, sebagian komuter menumpang kereta jarak jauh atau kereta lokal yang masuk Jakarta pagi hari. Hal ini tidak ada di jalur Bogor sehingga KRL menjadi satu-satunya andalan. Bagi sebagian orang dengan pendapatan pas-pasan, inilah solusi transportasi umum paling rasional.

Boy menuturkan, uang transportasi yang diberikan bosnya Rp 120.000 per bulan atau sekitar Rp 4.000 per hari. Adapun total pendapatan sebulan tidak sampai Rp 1 juta. Dengan uang ini, hanya KRL ekonomi yang bisa dijangkau. Tarif Rp 2.000 sekali jalan dengan KRL ekonomi jauh lebih murah daripada KRL Commuterline yang bertarif Rp 7.000 atau bus yang tarifnya sampai Rp 12.000.

Dengan pilihan transportasi umum yang terbatas, para pekerja seperti Boy lebih siap menanggung segala risiko duduk di atap asalkan bisa sampai di tempat kerja tepat waktu dan tidak dipotong Rp 5.000 karena terlambat.

Tidak mempan

Sama seperti naik di lokomotif, kabin masinis, dan gerbong barang, menumpang di atap kereta melanggar Pasal 183 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Hukumannya paling lama tiga bulan penjara atau denda maksimal Rp 15 juta. Namun, sulit juga menghukum ratusan penumpang di atap setiap hari.

Banyak upaya dilakukan PT Kereta Api Indonesia untuk menghalau penumpang di atap. Sejumlah alat dipasang, mulai dari pintu koboi sampai semprotan air. Ada juga razia menurunkan paksa penumpang di atap dan sidang atas pelanggaran ini. Pertemuan dan marawis juga digelar untuk membujuk para penumpang agar tidak lagi duduk di atap.

Untuk kereta lokal Purwakarta-Jakarta, seperangkat bandul beton dipasang sebelum kereta masuk di Stasiun Bekasi.

Penumpang jatuh dari atap dan meninggal juga sudah banyak. Namun, ini tidak membuat jera penumpang di atap. Pun ketika penumpang yang jatuh itu berada di sebelah mereka.

”Ya, itu takdir, ya. Di dalam kereta juga bisa sesak napas dan meninggal juga,” ujar Boy lagi.

Boy mengaku pernah melihat seorang penumpang yang memegang pantograf kereta. Penumpang ini kesetrum dan tangannya gosong. Kali lain, ada penumpang yang jatuh di sambungan kereta saat akan turun.

Manajer Senior Keamanan PT KAI Daop I Akhmad Sujadi mencatat 37 kasus penumpang jatuh dari atap sepanjang tahun 2011. Sebanyak 7 orang meninggal, 4 kesetrum, dan sisanya luka-luka. Tahun 2012 ada 6 kejadian dengan 5 korban meninggal dan 2 orang terluka.

Namun, angka statistik ini tidak membuat gentar penumpang di atap. Barangkali hanya hujan deras yang bisa membuat penumpang di atap ikut berjejal di kabin penumpang. Sebab, ada potensi sambaran petir dan setruman listrik yang membuat mereka khawatir.

Memilih melaju

Arif (21) memilih melakoni keseharian pergi-pulang Bogor-Jakarta. Atap kereta juga menjadi pilihannya. Pekerja di sebuah toko di kawasan Kota ini pernah menyewa kamar di Angke. Dia harus merogoh kocek Rp 250.000 per bulan untuk sebuah kamar sempit berukuran sekitar 2 meter x 3 meter.

Pengeluarannya itu masih ditambah ongkos sekali ke kamar kecil Rp 1.000 serta mandi atau kakus Rp 2.000. ”Kalau ditotal, pengeluaran saya lebih dari Rp 500.000 sebulan,” ucapnya.

Dibandingkan dengan ongkos KRL ekonomi sekitar Rp 100.000 sebulan, biaya hidup di Jakarta teramat mahal untuk pekerja yang bergaji tidak sampai Rp 1 juta per bulan. Di Bogor, Arif tidak perlu mengeluarkan uang sewa untuk perumahan karena dia tinggal bersama orangtuanya. Opsi lain adalah membeli rumah atau rumah susun di Jakarta. Namun, opsi itu masih sebatas mimpi bagi pekerja seperti Arif.

Sebenarnya penumpang di atap ini tidak menolak naik di kabin penumpang jika saja armada yang ada memadai.

Nasib yang lebih baik dialami Faisal (28). Pekerja di kawasan Proklamasi, Jakarta Pusat, ini kini bisa naik KRL Commuterline bertarif Rp 7.000 dari Citayam ke Manggarai. Dulu, dia juga masih duduk di atap kereta.

Penurunan tarif

Penumpang di atap ini bukan hanya perhatian PT KAI. Sejumlah aktivis perkeretaapian juga ikut memikirkan solusi yang menguntungkan semua pihak. Salah satu pemikiran sejumlah penggiat KRL, seperti Anthony Ladjar dan Agus Imansyah, adalah mengusulkan penurunan tarif Commuterline pada pagi hari sebelum pukul 06.00.

Harapannya, penumpang yang membeludak bisa bergeser ke pagi hari dan tetap terangkut tanpa harus duduk di atap. ”Tetapi, ini masih kami kaji lagi. Kami berharap PT KAI juga membuka perhitungan mereka sehingga kami bisa membantu mencari titik temu tarif yang paling ideal,” kata Anthony.

Kepala Humas PT KAI Daop I Mateta Rijalulhaq mengatakan, penumpang di atap tidak bisa hanya diselesaikan oleh PT KAI. Apalagi, sebagian kewajibaan KRL ekonomi berada di tangan pemerintah, yakni menyediakan public service obligation (PSO).

”Kalau kereta jadi solusi transportasi, harus dipenuhi juga kewajiban pemerintah seperti yang tertuang di peraturan. PT KAI selaku operator juga meningkatkan kualitas layanan. Masyarakat selaku pengguna pun harus ikut menjaga ketertiban,” ujarnya. (Agnes Rita Sulistyawaty)

 


Editor : Hertanto Soebijoto
Sumber: