Mirip Transfer Pemain Sepak Bola - Kompas.com

Mirip Transfer Pemain Sepak Bola

Kompas.com - 20/04/2012, 11:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bakal calon dari luar daerah membuat pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta ada kemiripan dengan kebijakan transfer pemain klub sepak bola.

Warga akan mendukung siapa saja, termasuk calon dari luar daerah, asalkan bisa membawa DKI lebih baik. Konteks kedaerahan bahwa calon yang terbaik harus asli DKI menjadi tidak relevan.

Demikian diutarakan Wijayanto, Direktur Pelaksana Institut Kebijakan Publik Paramadina, saat membahas hasil survei Pride Indonesia tentang permasalahan DKI dan kredibilitas tokoh, di Jakarta, Rabu (18/4/2012).

Pemimpin baru dianalogikan pemain sepak bola yang ditransfer dari klub lain guna meningkatkan kinerja klub sehingga berprestasi.

Calon yang akan didukung adalah yang obyektif dan simpel saat mengambil keputusan, kredibel atau jujur, dan bisa dipercaya.

Pandangan itu senada dengan hasil survei Pride Indonesia, Februari-Maret 2012. Pertimbangan utama warga adalah memilih calon pemimpin yang dianggap jujur (63,8 persen) dan berpihak kepada mereka (22,4 persen). Pertimbangan asal, suku, dan etnis calon ternyata nol persen.

Pembahas lain, politikus Partai Golkar, Indra J Piliang, mengatakan, calon yang akan dipilih adalah yang mampu mengatasi masalah utama.

Bagi warga menengah, lanjut Indra, masalah utama adalah stabilitas ekonomi, banjir, dan macet. Bagi warga miskin, masalah utama adalah pengendalian harga kebutuhan pokok, pendidikan, dan kesehatan.

Selain itu, DKI juga memerlukan pemimpin yang menjamin adanya keamanan dan kenyamanan. ”Artinya, tidak membiarkan kekerasan,” kata Indra.

Pembahas lain, politikus PAN, Bima Arya Sugiarto, mengatakan, banjir serta macet ibarat musuh besar bagi siapa pun yang memimpin DKI. Namun, apabila mengusung isu itu, calon kemungkinan tidak terlalu mendapat dukungan dari kalangan menengah.

”Bagi masyarakat menengah, isu utama mungkin jaminan ketersediaan lapangan kerja,” katanya.

Hasil survei Pride Indonesia, masalah yang perlu segera diatasi pemimpin DKI adalah pengangguran (18 persen), banjir (17 persen), macet (12 persen), serta pendidikan (12 persen).

Contoh

Wijayanto berpandangan, keberadaan calon dari luar daerah bisa membuat pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta sebagai contoh baik dalam demokrasi di Indonesia.

”Intinya masyarakat memilih pemimpin yang mampu membawa ke arah yang lebih baik,” katanya.

Di sisi lain, calon dari luar daerah yang merupakan pemimpin lokal bisa juga dianggap orang kehilangan kepedulian terhadap daerah asal. Untuk mengatasinya, partai politik harus bisa memberikan jaminan kepada warga yang ditinggalkan.

”Jaminan bahwa program yang baik akan dilanjutkan penerusnya (wakilnya),” kata Wijayanto.

Dalam konteks di Jakarta, kata Wijayanto, gubernur harus mampu menjadikan kawasan ini terunggul di antara kota-kota di Indonesia. Selain itu, Jakarta juga memerlukan gubernur yang mampu menjadikan ibu kota tak kalah dengan kota utama negara Asia Tenggara, yakni Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok.

Gubernur DKI Jakarta juga bisa dinilai sebagai modal untuk menjadi pemimpin nasional. Presiden dari kalangan gubernur dinilai punya modal mengelola birokrasi. Kalangan gubernur juga alternatif bagi partai dan rakyat mencari pemimpin nasional. ”Tidak harus selalu politikus nasional,” kata Wijayanto. (BRO)

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorHertanto Soebijoto

    Terkini Lainnya

    RUU Terorisme dan Perppu Ormas Dinilai Bentuk Negara Ambil Jalan Pintas

    RUU Terorisme dan Perppu Ormas Dinilai Bentuk Negara Ambil Jalan Pintas

    Nasional
    Bersama Empat Organisasi Keagamaan, Juru Bicara FPI Gugat Perppu Ormas

    Bersama Empat Organisasi Keagamaan, Juru Bicara FPI Gugat Perppu Ormas

    Nasional
    KTI Siapkan Aplikasi Transportasi yang Bisa Bayar Angkot Lewat Ponsel

    KTI Siapkan Aplikasi Transportasi yang Bisa Bayar Angkot Lewat Ponsel

    Megapolitan
    Pelarangan Motor Diperluas, Transjakarta Siapkan 'Feeder' Lewati Jalan Ini

    Pelarangan Motor Diperluas, Transjakarta Siapkan "Feeder" Lewati Jalan Ini

    Megapolitan
    Panik Usai Seruduk Motor, Sopir Fortuner Tabrak 2 Pemotor Lain hingga Tewas

    Panik Usai Seruduk Motor, Sopir Fortuner Tabrak 2 Pemotor Lain hingga Tewas

    Regional
    Pengacara Destiara Bawa Bukti Baru soal Laporannya terhadap Wali Kota Kendari Terpilih

    Pengacara Destiara Bawa Bukti Baru soal Laporannya terhadap Wali Kota Kendari Terpilih

    Megapolitan
    Jusuf Kalla: Tak Mungkin Ada Dua Cagub Golkar di Pilkada Jabar

    Jusuf Kalla: Tak Mungkin Ada Dua Cagub Golkar di Pilkada Jabar

    Nasional
    Baru Bebas, Aman Abdurrahman Kembali Jadi Tersangka Terkait Bom Thamrin

    Baru Bebas, Aman Abdurrahman Kembali Jadi Tersangka Terkait Bom Thamrin

    Nasional
    Tertibkan Bangunan, Satpol PP Temukan Kondom Berserakkan di Objek Wisata

    Tertibkan Bangunan, Satpol PP Temukan Kondom Berserakkan di Objek Wisata

    Regional
    Dari Mana Sumber Dana First Travel Berangkatkan Umrah Seluruh Jemaah?

    Dari Mana Sumber Dana First Travel Berangkatkan Umrah Seluruh Jemaah?

    Megapolitan
    Ganjar Pranowo: Selama Ini Saya Nyaman dengan Pak Heru...

    Ganjar Pranowo: Selama Ini Saya Nyaman dengan Pak Heru...

    Regional
    Mereka yang Rela Tinggalkan Pekerjaan demi Laga Timnas Indonesia Vs Vietnam

    Mereka yang Rela Tinggalkan Pekerjaan demi Laga Timnas Indonesia Vs Vietnam

    Regional
    Ratusan Penerbangan Dibatalkan Saat Topan Hato Dekati Hongkong

    Ratusan Penerbangan Dibatalkan Saat Topan Hato Dekati Hongkong

    Internasional
    Soal Pilpres, Zulkifli Hasan Tak Bermimpi Jadi Capres atau Cawapres

    Soal Pilpres, Zulkifli Hasan Tak Bermimpi Jadi Capres atau Cawapres

    Nasional
    Setelah di SPMN 13, PDAM Kota Tangerang Akan Pasang Keran Air Siap Minum di Sekolah Lain

    Setelah di SPMN 13, PDAM Kota Tangerang Akan Pasang Keran Air Siap Minum di Sekolah Lain

    Megapolitan