Senin, 20 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 20 Mei 2013 | 16:12 WIB
Jusuf Kalla: Foke Jarang Mendengar Orang Lain
Penulis : Aditya Revianur | Minggu, 5 Agustus 2012 | 20:13 WIB
Dibaca:
|
Share:
Jusuf Kalla: Foke Jarang Mendengar Orang Lain KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Mantan Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla (kiri), bersama Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie menjadi pembicara dalam sarasehan dan buka bersama Angkatan Muda Partai Golkar di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Slipi, Jakarta, Senin (30/7/2012). Sarasehan tersebut salah satunya membahas konsolidasi internal Partai Golkar menghadapi Pemilu 2014.

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan wakil presiden RI, Jusuf Kalla, menilai calon gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo atau Foke, tidak memenuhi kriteria sebagai seorang gubernur Jakarta yang baik. Menurutnya, Foke jarang mau mendengar pendapat dari orang lain, termasuk bawahannya ataupun rakyat yang merupakan atasannya.

"Jakarta butuh perubahan. Jakarta butuh orang yang paham dan mau mendengarkan orang lain. Pak Foke jarang mendegar orang lain," ujar Jusuf Kalla di sela waktu berbuka puasa di rumah anaknya di kawasan Pondok Indah, Jakarta, Minggu (05/08/2012).

Kalla mengatakan, Jakarta butuh gubernur yang bersungguh-sungguh bekerja. Gubernur Jakarta, menurutnya, harus orang yang dapat memahami dan mampu mendengarkan rakyat, pembantunya, dan ahli.

Menurut Kalla, peluang dari pemimpin Jakarta justru ada dalam diri Joko Widodo atau Jokowi. Ia menilai peluang Jokowi untuk memenangi pemilihan kepala daerah DKI Jakarta putaran kedua lebih besar dibandingkan Foke. "Yang dapat suara 40-an persen (Jokowi) tentu lebih berpeluang menang dari yang 30-an persen," ujarnya.

Mengenai kampanye bermuatan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang dilakukan di rumah ibadah, Kalla menyatakan hal itu tidak layak dan bijak dilakukan. Ia berpendapat agama tidak boleh dipakai untuk kampanye, apalagi hal tersebut kampanye negatif. Secara undang-undang dan dalam ajaran agama, isu SARA tersebut dilarang karena dapat menimbulkan kerusuhan dan menyemai kebencian atas umat beragama tertentu.

Editor :
Laksono Hari W