Jumat, 31 Oktober 2014

News / Megapolitan

Pengguna Commuter Keberatan Kenaikan Tarif

Senin, 24 September 2012 | 22:10 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana kenaikan tarif commuter sebesar Rp 2.000 per 1 Oktober 2012 mendatang menuai protes dan keberatan para pengguna setianya. Satu yang merasa keberatan adalah Sagita Nindyasari. Sebagai mahasiswi semester akhir Institut Pertanian Bogor, Sagita, harus bolak-balik Jakarta-Bogor.

"Saya biasanya naik Pakuan Express. Tapi sekarang naik kereta Ekonomi atau Ekonomi AC (CL). Jadi, saya keberatan banget dengan kenaikan tarif itu. Cuman ya seharusnya, tarif naik, pelayanannya juga harus semakin meningkat. Keamanan juga harus jadi jaminan," kata Mahasiswi jurusan Teknologi Pangan itu, di Stasiun Juanda, Senin (24/9/2012) malam.

Menurutnya, dalam seminggu, ia bisa menggunakan jasa KRL itu sebanyak empat kali pulang pergi.

"Rumah saya di Jakarta. Jadi, kalau weekend atau lagi nggak ada tugas, biasanya pulang ke rumah," kata Sagita.

Menurut Sagita, tarif commuter belum layak naik. Sebab kenyamanannya pun belum dapat dirasakan pengguna jasa seperti dirinya.

"Di dalam kereta itu sering banget nggak ada AC (air conditioner) nya, cuman ada kipas angin. Padahal dulu nggak begitu pas masih jaman naik kereta Pakuan," kata Sagita.

Selain alasan di atas, ia mengakui sering sekali pelayanan yang diberikan oleh commuter tidak sesuai. Misalnya tidak manusiawi, suka mengalami gangguan, sering telat, kereta mendadak tidak jalan, yang mengakibatkan waktu tunggu antar kereta menjadi lebih lama.

"Jadi sekalinya ada kereta pasti penuh banget. Sebenarnya silakan saja naik harganya asal pelayanan yang diberikan juga worthed. Dikasih AC kek, jadi yang di dalam, udah sesak nggak uring-uringan karena kepanasan, dan fasilitas-fasilitas lainnya," kata Sagita.

Selanjutnya, gelombang protes juga datang dari Komunitas penumpang commuter atau yang dikenal dengan KRL Mania. Mereka menggalang dukungan pembatalan kenaikan tersebut dalam situs wadah aksi sosial change.org.

"Petisi ini merupakan ungkapan kekecewaan penumpang commuter line yang terus dituntut tanpa perbaikan pelayanan signifikan dari PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) maupun PT KAI Commuter Jabodetabek (PT KCJ)," kata Anggota KRL Mania Ariyo Nugroho.

Ia mengharapkan, petisi tersebut dapat membatalkan rencana kenaikan tarif KRL itu.

"Atau paling tidak membuat PT KAI merumuskan kompensasi dari kenaikan harga tiket tersebut," katanya.

Pantauan Kompas.com, sampai Senin (24/9/2012), pada pukul 21.00 WIB sudah ada 838 pendukung menandatangani petisi yang sudah diluncurkan sejak Minggu (23/9/2012) kemarin. Dalam petisi tersebut Ariyo mengatakan sejumlah alasan penolakan tarif itu. Misalnya unsur 'kebohongan publik' berupa klaim PT KCJ bahwa tarif KRL tidak pernah naik selama tiga tahun terakhir.

"Namun faktanya, pada tahun 2011, saat commuter line mulai dioperasikan, sudah ada kenaikan tarif dari Rp 5.500 (Ekonomi AC) menjadi Rp 7.000 (Commuter line relasi Bogor-Jakarta Kota/Tanah Abang) atau Rp 6.000 (Commuter line relasi Depok-Jakarta Kota/Tanah Abang). Kenaikan tersebut diprediksi akan membuat KRL ekonomi semakin penuh sesak," kata Ariyo.  

Kompensasi tersebut, dikatakan Ariyo, menjadi tolak ukur komitmen PT KAI maupun PT KCJ dalam menjamin terpenuhinya standar pelayanan minimum (SPM) yang masih sering diabaikan. Pelayanan itu antara lain informasi gangguan perjalanan KA yang simpang siur, pelayanan loket yang ramah, lampu penerangan, toilet, ataupun tidak adanya fasilitas kesehatan.

"Itu ada pada Permen No 9 Tahun 2011 tentang SPM (Standar Pelayanan Minimum) yang telah disahkan 1.5 tahun yang lalu. Ibarat kalau di perusahaan itu, karyawan kinerja masih begitu-begitu saja bulan depan sudah minta naik gaji," kata Ariyo.

Jika tarif pada 1 Oktober mendatang PT KAI jadi menaikkan tarif commuter Rp 2.000 di setiap tujuan commuter di Jabodetabek, maka harga tiket akan berkisar antara Rp 7.500 hingga Rp 9.000.

Berikut rinciannya:
- Bogor-Jakarta Kota/Jatinegara Rp 9.000
- Bogor-Depok Rp 8.000
- Depok-Jakarta Kota/Jatinegara Rp 8.000
- Bekasi-Jakarta Kota Rp 8.500
- Tangerang-Duri Rp 7.500
- Parung Panjang/Serpong-Tanah Abang Rp 8.000

 


Penulis: Kurnia Sari Aziza
Editor : Ana Shofiana Syatiri