Kamis, 24 Juli 2014

News / Megapolitan

Menanti Jasad Sarini, Sang Pahlawan Devisa Negara

Jumat, 21 Desember 2012 | 19:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Haji Kamah berdiri menghadap Kamar Jenazah Rumah Sakit Polri Bhayangkara, Kramat Jati, Jakarta Timur. Hujan Jumat sore menemani tatapan kosongnya.

41 Jam sudah sejak Kamis (20/12/2012) dini hari lalu, pria renta itu menunggu kabar sang puteri, Sarini Bin Kaman Dasma (32). Jenazah Sarini lebih tepatnya.

Ditemui Kompas.com, Jumat (21/12/2012) sore, pria asal Desa Rancadaka, Kecamatan Sukaratu, Subang, Jawa Barat, itu menceritakan kisah anak keenam dari delapan bersaudara yang kini terbaring kaku di dinginnya kamar jenazah. Meski terbata akibat keterbatasan bahasa Indonesia, Kamah tetap berusaha bercerita.

Sarini pergi dari kampungnya April 2010 silam. Bekerja di luar negeri adalah cita-citanya kala itu. Meningkatkan taraf ekonomi keluarga yang hanya bertumpu pada kerja sebagai buruh tani. Ia pun meninggalkan keluarga, suami dan anak yang masih berusia enam tahun di kampung halaman.

"Katanya mau pergi kerja di luar negeri bawa uang lima puluh juta ke keluarga," ujar Kamah.

Dua bulan sejak Sarini pergi ke penampungan TKI bertempat di bilangan Jakarta Timur, pihak keluarga tak kunjung mendapat kabar hingga Juli 2012, keluarga akhirnya mendapat kabar baik. Sarini menelepon dari negeri seberang, Oman.

Dua bulan sejak sang anak menelpon, keluarga sempat mendapatkan uang hasil jerih payahnya di negeri seberang. Uang sejumlah Rp 4 juta dikirimkan setiap bulan untuk sanak keluarga di tanah kelahiran.

Namun, Oktober 2010 transfer berhenti mendadak. Sarini mulai sulit dihubungi.

"16 September (2012) ada orang PT telpon ke kampung. Anak saya mati. Saya disuruh datang ke Jakarta, suaminya yang ke sini," tuturnya.

Berbekal perasaan kalut, Karnata, sang suami, bertolak ke Ibu Kota untuk mencek kebenaran kabar duka tersebut. Ternyata benar, satu lagi anak bangsa tewas mengenaskan di negeri orang. Sarini dikabarkan tewas 21 Agustus 2012.

Sarini Dibunuh?

Penderitaan keluarga rupanya tak kunjung reda. Pihak perusahaan yang memberangkatkan Sarini meminta agar keluarga melengkapi dokumen yakni surat perjanjian kerja dan penempatan kerja yang sama sekali tak diketahui keluarga. Pasalnya, Sarini sama sekali tak meninggalkan pesan apapun terkait surat keberangkatannya ke negeri orang. Bahkan Sarini diduga berangkat tanpa dokumen resmi alias ilegal.

Karnata sempat putus asa dan pulang lagi ke kampung halaman menunggu kabar selanjutnya. "Tanggal 19 Desember (2012) orang PT telepon lagi, katanya mau dibantu pejabat (Kemenlu) sana buat antar anak saya," ujar Kamah.

Di terminal kargo Bandara Soekarno-Hatta, pihak keluarga ditemani pihak perusahaan yang memberangkatkan Sarini bekerja, menjemput jasad sang anak. Perasaan keluarga kian kalut begitu mendengar rumor bahwa Sarini tewas akibat tindakan penganiayaan.

"Katanya dipateni (dibunuh) di sana," ujarnya.

Namun, kabar itu belum lah dipercaya keluarga. Terlebih ia masih belum percaya jika jasad itu adalah sang anak. Pasalnya sejak menerima peti, keluarga tidak diperkenankan untuk melihat jasad Sarini.

Pihak perusahaan yang memberangkatkan Rasini hanya mencocokan nomor peti dengan surat pengambilan yang ada.

Otopsi Berbelit-Belit

Jarum di jam dinding ruang tunggu kamar jenazar RS Polri telah menunjukan pukul 18.30 WIB. Rasa kalut, sedih, penasaran campur aduk menjadi satu. Kamah berniat mencari tahu apa penyebab sang anak tewas di negeri orang. Namun, pihak rumah sakit enggan mengotopsi jasad empat bulan itu atas alasan surat izin.

"Disuruh ke Polres dulu, dilempar ke Polda lalu dilempar lagi ke Mabes, dari Mabes dilempar ke Kemenlu," ujarnya.

Kini, pihak keluarga tengah berupaya mengurus surat permintaan otopsi ke Kemenlu. Keluarga hanya berharap penyebab tewasnya sang anak diketahui dan menguburnya di kampung halaman, tak lebih.

 


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Ana Shofiana Syatiri