Sabtu, 1 November 2014

News / Megapolitan

Intensitas Curah Hujan di Jakarta Sangat Tinggi

Minggu, 23 Desember 2012 | 16:46 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Hujan deras pada Sabtu (22/12/2012) kemarin di Jakarta telah menyebabkan banjir di mana-mana dan kemacetan yang luar biasa. Ada 22 genangan yang tersebar di Jakarta. Bahkan, jalan protokol Jakarta, seperti Jalan Sudirman dan Thamrin, juga tergenang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Ery Basworo mengatakan, penyebab banjir itu bukan karena kesalahan pada sistem drainase. Bahkan, semua pompa yang telah dipasang berjalan dengan baik.

Ia mengatakan, penyebab utama banjir di hampir seluruh wilayah Ibu Kota, terutama jalan protokol, adalah intensitas curah hujan yang tinggi sampai tak tertangani.

"Karena curah hujan yang sangat tinggi. Kemarin curah hujan sudah masuk tahap sangat lebat," kata Ery, saat ditemui wartawan, di Taman Suropati 7, Jakarta, Minggu (23/12/2012).

Hujan yang melanda Jakarta kemarin, kata dia, memang di luar dugaan. Hujan rata-rata di Jakarta, katanya, sekitar 300 milimeter (mm) dalam setiap bulan. Sementara hujan yang melanda Jakarta kemarin 150 mm per jam.

"Untuk di Waduk Melati saja, curah hujannya kemarin 141 mm per jam (sangat lebat). BMKG bilang satu bulan dinyatakan musim hujan kalau 300 mm per bulan. Ini saja sejam sudah 141 mm," kata Ery.

Ery mengaku sudah menerima laporan dari Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Jokowi mengatakan kepada Ery bahwa semalam, mantan Wali Kota Solo itu mendapat informasi bahwa pompa underpass Dukuh Atas mati. "Ya, saya jawab saja, yang namanya underpass itu bukan pompa banjir," katanya.

Karena itu, sore ini, ia bersama stafnya datang ke rumah dinas Jokowi untuk melaporkan peristiwa yang terjadi semalam. Ia mengatakan, seluruh pompa yang dimiliki oleh Dinas PU DKI sudah bekerja secara baik. Saluran air, kata dia, tidak mengalami sumbatan berarti dari sampah-sampah yang ada.

"Sementara hujan sangat lebat dan kondisi Kali Cideng sedang penuh. Kali Cideng itu tempat pembuangan air dari kawasan Thamrin," ujar Ery.

Terdapat sebanyak 41 pompa banjir di DKI Jakarta, antara lain Pompa Cideng (8 unit), Pompa Melati (9 unit), Pompa Kodamar (2 unit), Pompa Ancol (2 unit), Pompa Tomang Barat (4 unit), Pompa Setia Budi Timur (4 unit), Pompa Pluit (4 unit), Pintu Air Manggarai (2 unit), Pintu Air Karet (2 unit), Pintu Air Pulogadung (2 unit), dan Pintu Air Marina (2 unit).

Menurut Ery, dengan merekayasa kejadian alam, pihak Dinas PU DKI berusaha membuat rekayasa teknis dan ada batasan nilai ekonomi.

"Alam itu hanya bisa diprediksi dengan teori kemungkinan. Potensi kejadian satu persen dalam satu tahun. Maka, kami ambil nilai ekonomi paling kecil, misalnya lima persen. Kalau kawasan besar, nilainya ekonominya besar," kata Ery.


Penulis: Kurnia Sari Aziza
Editor : Tri Wahono