Jumat, 25 Juli 2014

News / Megapolitan

Lelang Jabatan, Lurah-Camat Masih Bingung

Kamis, 4 April 2013 | 10:42 WIB

Berita terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagian lurah dan camat masih bingung terkait pelaksanaan seleksi terbuka jabatan. Camat dan lurah definitif mendapat prioritas ikut seleksi. Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum menyiapkan posisi pengganti seandainya lurah dan camat definitif tidak lolos seleksi.

Mereka juga merasa tidak mungkin bekerja sebagai staf karena terkait dengan kepangkatan mereka saat ini. Jabatan fungsional yang disediakan nanti pun belum tentu cocok.

"Kami belum tahu jawaban akan seperti apa jika kami tidak lolos. Kami perlu penjelasan lebih jauh mengenai hal ini sebab jika ditempatkan sebagai staf, sepertinya tidak mungkin," tutur Camat Tambora, Jakarta Barat, Ismawa Adji, Rabu (3/4/2013), kepada Kompas.

Menurut Adji, persoalan ini menjadi pembicaraan di kalangan camat dan lurah. Beberapa di antara mereka mencoba menanyakan kepada pejabat Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, mereka belum mendapat jawaban yang jelas dan detail. "Kami akan tanyakan lagi kepada mereka saat sosialisasi," katanya.

Pertanyaan serupa disampaikan Lurah Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Amperiyani. Meski demikian, perempuan yang akrab disapa dengan Yani ini siap mengikuti seleksi.

Tak ikut seleksi, gugur


Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo optimistis, ketika pendaftaran dibuka pada 8 April, pegawai negeri sipil akan bersemangat mengikuti seleksi.

"Kalau camat dan lurah lama ikut, ya, lebih bagus. Kami sudah beri prioritas bagi mereka untuk ikut. Kalau mereka tidak ikut, artinya memang tidak punya niat," kata Jokowi.

Dengan seleksi itu, Jokowi ingin memiliki jajaran yang kompeten dan memiliki kemampuan manajerial, baik administratif maupun lapangan.

Kepala BKD DKI Jakarta I Made Karmayoga mengatakan, lurah dan camat yang lama wajib mengikuti seleksi terbuka itu. Mereka langsung dinyatakan gugur jika tidak ikut seleksi.

Tentang jabatan pengganti bagi camat dan lurah yang nantinya tidak lolos seleksi, Made mengatakan, hal itu memang belum disiapkan secara khusus.

"Kami harus melihat dulu profil mereka secara keseluruhan, ada yang masih bisa dikembangkan, ada yang memang sudah mentok. Bagi yang masih bisa dikembangkan, akan ada pendidikan dan latihan tambahan," ujarnya.

BKD juga masih menyiapkan sistem seleksi secara online. Tim dari BKD dan Dinas Komunikasi dan Informatika terus menyempurnakan sistem seleksi berdasarkan sistem penerimaan pegawai negeri sipil tahun-tahun sebelumnya.

"Nanti kami akan memanfaatkan laboratorium di sekolah-sekolah. Ada 30-40 unit komputer di setiap sekolah yang bisa dimanfaatkan. Jadi, peserta seleksi tidak perlu jauh-jauh ke wilayah lain untuk mendaftar," kata Made.

Seluruh proses akan berjalan sekitar dua bulan. Pada 21 Juni, segenap camat dan lurah hasil seleksi akan dilantik.

Warga mendukung

Sementara itu, warga mengapresiasi rencana Pemprov DKI Jakarta yang akan melakukan seleksi terbuka jabatan lurah dan camat.

Ricardo Hutahaean, Ketua RW 019, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, berharap seleksi itu menghasilkan lurah atau camat yang memiliki mental sebagai pelayan masyarakat, juga diharapkan memahami utuh persoalan di wilayah, karakteristik individu warga, dan mengambil keputusan bebas dari tekanan.

Menurut Ricardo, sebagian lurah atau camat sekarang ini masih bermental majikan atau ingin dilayani bawahan. Ada pula yang bermental preman dengan memanfaatkan kewenangannya untuk meraih keuntungan pribadi.

Harapan senada diungkapkan Didik Suwandi, Wakil Ketua RW 010, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing. Menurut dia, lurah atau camat yang ada saat ini kurang mengenal warganya karena jarang turun ke lapangan.(FRO/NDY/MKN)

Berita terkait, baca :

GEBRAKAN JOKOWI-BASUKI

 


Editor : Hertanto Soebijoto
Sumber: