Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Terapis Palsukan Akta Perkawinan untuk Kuasai Tanah Pasiennya Senilai Rp 40 M

Kompas.com - 28/01/2020, 18:39 WIB
Rindi Nuris Velarosdela,
Sandro Gatra

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Juniar (57), seorang terapis ditangkap dengan sangkaan pemalsuan dokumen akta perkawinan.

Menurut polisi, akta perkawinan palsu tersebut dipakai untuk menguasai aset BS (80), berupa sebidang tanah di kawasan Jakarta Selatan. Nilai tanah tersebut mencapai Rp 40 miliar.

Menurut Kasubdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol M Gafur Siregar, Juniar dan BS hanya memiliki hubungan sebagai terapis dan pasien.

Saat itu, korban memiliki riwayat penyakit stroke.

Baca juga: Ingin Kuasai Harta Pasiennya Senilai Rp 40 Miliar, Terapis Palsukan Akta Perkawinan

Mereka saling kenal sejak 2015. Kemudian, korban sempat menitipkan sertifikat tanah kepada tersangka sekitar tahun 2018.

Namun, tak diketahui alasan SB menitipkan sertifikat tanah tersebut karena SB meninggal dunia pada akhir 2018.

"Dia (tersangka Juniar) membutuhkan dan memperoleh keuntungan dari penggunaan surat atau keterangan nikah tersebut, yaitu menguasai fisik tanah yang ada di daerah Bintaro. Itu dianggap sebagai harta warisan, jadi dia memperoleh harta tersebut," kata Gafur di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (28/1/2020).

Tersangka Juniar kemudian menghubungi rekannya, Agus Butar Butar (55) dan menceritakan keinginannya memalsukan akta perkawinan dengan SB.

Baca juga: Pegawai BUMN Ditangkap, Jual Peluru dan Terima Jasa Ubah AirSoft Gun Jadi Senjata Api

Selanjutnya, Agus mengenalkan Juniar kepada tersangka lainnya bernama M Husen Hosea (68), yang mengaku sebagai pendeta di gereja di Bogor, Jawa Barat.

"Si J (Juniar) ini kan bercerita mempunyai keinginan seperti ini bagaimana (kepada Agus). Agus menanggapi, 'oh ada pendeta yang bisa menikahkan'. Akhirnya datanglah dia (Juniar ke pendeta itu," ungkap Yusri.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, Husen lalu membuat akta perkawinan palsu seolah-olah Juniar dan SB telah menikah secara sah pada 2017.

Bahkan, foto antara Juniar dan SB disunting seolah-olah menjadi pasangan suami istri. Foto tersebut disunting di salah satu usaha percetakan foto di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta.

"Peran tersangka MHH (Husen) ini, dia yang mengatur atau menikahkan dan mengaku sebagai pendeta. Padahal sampai saat ini tidak bisa menunjukan SK pengangkatan pendeta," ungkap Yusri.

Baca juga: Seorang Pegawai Transjakarta Meninggal di Halte Rumah Sakit Premier Jatinegara

Salah satu anak korban merasa dirugikan atas pemalsuan akta perkawinan tersebut. Anak korban kemudian melaporkan kasus itu kepada polisi.

Ketiga tersangka ditangkap pada Desember 2019. Saat diperiksa, Husen tidak dapat menunjukkan bukti bahwa dirinya merupakan seorang pendeta.

Bahkan, dia tidak pernah terdaftar sebagai pendeta di salah gereja di Bogor, Jawa Barat.

Oleh karena itu, polisi menemukan bukti bahwa akta perkawinan yang diterbitkan pun palsu.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 263, 264, 266, dan 242 KUHP. Ancaman hukumannya di atas 5 tahun penjara.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

NIK KTP Bakal Dijadikan Nomor SIM Mulai 2025, Korlantas Polri: Agar Jadi Satu Data dan Memudahkan

NIK KTP Bakal Dijadikan Nomor SIM Mulai 2025, Korlantas Polri: Agar Jadi Satu Data dan Memudahkan

Megapolitan
8 Tempat Makan dengan Playground di Jakarta

8 Tempat Makan dengan Playground di Jakarta

Megapolitan
Pegi Bantah Jadi Otak Pembunuhan, Kuasa Hukum Keluarga Vina: Itu Hak Dia untuk Berbicara

Pegi Bantah Jadi Otak Pembunuhan, Kuasa Hukum Keluarga Vina: Itu Hak Dia untuk Berbicara

Megapolitan
Polisi Tangkap Pria Paruh Baya Pemerkosa Anak Disabilitas di Kemayoran

Polisi Tangkap Pria Paruh Baya Pemerkosa Anak Disabilitas di Kemayoran

Megapolitan
Pengamat: Jika Ahok Diperintahkan PDI-P Maju Pilkada Sumut, Suka Tak Suka Harus Nurut

Pengamat: Jika Ahok Diperintahkan PDI-P Maju Pilkada Sumut, Suka Tak Suka Harus Nurut

Megapolitan
Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas Dalam Toren Air di Pondok Aren

Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas Dalam Toren Air di Pondok Aren

Megapolitan
Polisi Dalami Keterlibatan Caleg PKS yang Bisnis Sabu di Aceh dengan Fredy Pratama

Polisi Dalami Keterlibatan Caleg PKS yang Bisnis Sabu di Aceh dengan Fredy Pratama

Megapolitan
Temui Komnas HAM, Kuasa Hukum Sebut Keluarga Vina Trauma Berat

Temui Komnas HAM, Kuasa Hukum Sebut Keluarga Vina Trauma Berat

Megapolitan
NIK KTP Bakal Jadi Nomor SIM Mulai 2025

NIK KTP Bakal Jadi Nomor SIM Mulai 2025

Megapolitan
Polisi Buru Penyuplai Sabu untuk Caleg PKS di Aceh

Polisi Buru Penyuplai Sabu untuk Caleg PKS di Aceh

Megapolitan
Tiang Keropos di Cilodong Depok Sudah Bertahun-tahun, Warga Belum Melapor

Tiang Keropos di Cilodong Depok Sudah Bertahun-tahun, Warga Belum Melapor

Megapolitan
Polri Berencana Luncurkan SIM C2 Tahun Depan

Polri Berencana Luncurkan SIM C2 Tahun Depan

Megapolitan
Caleg PKS Terjerat Kasus Narkoba di Aceh, Kabur dan Tinggalkan Istri yang Hamil

Caleg PKS Terjerat Kasus Narkoba di Aceh, Kabur dan Tinggalkan Istri yang Hamil

Megapolitan
'Call Center' Posko PPDB Tak Bisa Dihubungi, Disdik DKI: Mohon Maaf, Jelek Menurut Saya

"Call Center" Posko PPDB Tak Bisa Dihubungi, Disdik DKI: Mohon Maaf, Jelek Menurut Saya

Megapolitan
Polisi: Ada Oknum Pengacara yang Pakai Pelat Palsu DPR

Polisi: Ada Oknum Pengacara yang Pakai Pelat Palsu DPR

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com