Bogor Waspada Muntaber

Kompas.com - 03/05/2010, 20:15 WIB
Editormade

BOGOR, KOMPAS.com - Memasuki musim kemarau Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor bersiaga kemungkinan terjadi wabah diare atau muntaber. Hal itu mengingat tahun lalu ada kasus kejadian luar biasa (KLB) muntaber di enam kecamatan dan saat ini baru satu desa yang Open Defication Free (ODF) atau (warganya) tidak buang air besar di sembarang tempat.

"Kami sudah memerintahkan puskesmas-puskesmas untuk waspada dan tanggap. Petugas-petugas puskesmas kami pun sudah melakukan penyuluhan-penyuluhan di acara minggon (rapat mingguna) di kecamatan atau desa," kata Eulis Wulantari, Kepala Bidang Penangulangan Pemberantasan Penyakit Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Senin (3/5/2010). Ia baru saja mengawasi penanganan penanggulangan kasus ledakan diare di Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, yang diakibatkan keracunan makanan.

Menurut Wulantari, KLB muntaber di enam kecamatan yang terjadi tahun lalu, diharapkan tidak terjadi kembali. Sebab, petugas kesehatan sudah dan akan terus-menerus memberi penyuluhan, pentingnya menjaga sumber air, dengan cara tidak buang air besar di sungai/aliran air atau di kebun.

"Harus kami akui, tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat kami, masih kurang bagus. Masih banyak yang buang air besar ke sungai atau sembarangan di kebun. Dari 428 desa sekabupaten, baru satu desa yang akan dideklarasikan sebagai Desa Open Devication Free," katanya.

Desa Open Devication Free (ODF) itu, kata Wulantari, berarti di desa itu sudah tidak ada lagi warganya yang buang air besar sembarangan. Setiap warga atau keluarga sudah mempunyai atau memakai kakus untuk keperluan tersebut. Walaupun, kakusnya ada yang masih sangat sederhana. Yang penting, ada lobang khusus untuk menampung tinjanya, sehingga tinja tidak dibuang ke sungai atau kebun.

"Calon desa ODF adalah Desa Sukajati di Kecamatan Cariu. Rencananya deklarasinya akan berlangsung 11 Maret mendatang," kata Wulantari.

Sedangkan mengenai ledakan diare di Desa Pasir Buncir, Eulis Wulantari memastikan, penyebabnya adalah masakan yang para korban santap. Masakan tersebut bersumber dari nasi kotak yang mereka dapat dari sebuah hajatan tetangga/kerabat mereka. Ada 110 warga yang menderita mual, muntah-muntah, hingga diare setelah sekian jam menyantap makanan tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Mulai muncul korban dengan gejalan diare pada Minggu malam. Saat ini yang masih mendapat perawatan di posko kesehatan di Desa Pasir Buncir tinggal tujuh orang dan 25 orang lagi di Puskesmas Cigombong," katanya.

Kepala Bagian Penangulangan Pemberantasan Penyakit Kesehatan Lingkungan tersebut menyesali terjadi kembali keracunan makanan dari sebuah hajatan/pesta. Sebetulnya, kalau mau menyelengarakan pesta atau hajatan, yang bersangkutan dapat menghubungi puskesmas terdekat untuk konsultasi cara pengolahan bahan baku dan memasaknya. "Biayanya hanya tiga ribu rupiah untuk restibusi ke puskesmas," kata Wulantari.



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X