Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Korban Jamu Oplosan Jadi 11

Kompas.com - 24/08/2010, 08:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Korban jamu oplosan meningkat menjadi 11orang tewas dan lima orang lainnya hingga Senin (23/8/2010) dalam kondisi kritis. Para korban diketahui meminum jamu oplosan itu secara terpisah dan bukan dalam suatu pesta miras.

"Berdasarkan penyelidikan sementara, para korban diketahui berbelanja jamu di kios milik Sarimin pada Sabtu. Mulai malam itu hingga Minggu mereka jatuh sakit dan meninggal satu per satu,” kata Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Gatot Eddy Pramono, Senin.

Gatot menegaskan tidak ada pesta minuman keras pada Sabtu malam itu. Setiap korban membeli minuman jamu sendiri-sendiri atau berkelompok dua-tiga orang. ”Ada yang minum di kios, ada juga yang dibawa pulang,” katanya.

Data dari Polres Metro Jakarta Selatan menunjukkan, empat orang dari 15 korban jamu oplosan adalah warga Kebagusan, Jakarta Selatan, yaitu Toro Hantoro, Agus Mansyur, Deni Darma, dan Maryadi. Tiga korban lain teridentifikasi sebagai warga Jagakarsa, yaitu Iwan, Taryono, dan Mashuri. Selebihnya berasal dari Depok dan kawasan lain di Jakarta Selatan.

Kesebelas korban tewas adalah Iwan, Taryono, Agus Mansyur, Toro Hantoro, H Muhammad, Maryadi, Mashuri, Ahmad Rizal, Deni Darma, Andi, dan Heru Setiawan.

Para korban tewas dan yang kritis hingga Senin berada di sejumlah rumah sakit, antara lain RS Marinir Cilandak, RS Fatmawati, RS Zahirah Lenteng Agung, dan RS Bakti Yudha, Depok. Taryono (45), warga Jalan Rambutan Nomor 99 A, Jagakarsa, dan Agus Mansyur (42), warga Gang Peon Nomor 40 RT 2 RW 4, Jalan Kebagusan Besar, Pasar Minggu, misalnya, meskipun meninggal pada Minggu, jasadnya baru diserahkan kepada keluarganya Senin sore setelah divisum dan diotopsi di RS Fatmawati.

Spesialis forensik di RS Fatmawati, dr Andriani, mengatakan, sampel darah, kencing, sebagian organ, cairan lambung, dan kantong empedu korban jamu oplosan diambil untuk tes toksinologi.

Heru Setiawan (24), warga Kebagusan Raya Nomor 105, RT 01 RW 04, Kebagusan, yang meninggal setelah dirawat di RS Peri Kasih, Pondok Labu, rencananya juga akan diotopsi dulu di RS Fatmawati atau RS Cipto Mangunkusumo.

Sementara di RS Cilandak masih ada tiga korban kritis menjalani perawatan. Mereka adalah Mustofa, Damar Setio Rumekti, dan Rahmat Afandi. Di RS Bakti Yudha, Depok, seorang korban lain, Muhammad Yusuf (33), warga Cipayung, Depok, juga masih dirawat intensif karena belum sadarkan diri.

Tunggu hasil forensik

Ida (40), istri Taryono, mengatakan, suaminya biasa membeli jamu di kios milik S dan tidak pernah terjadi apa-apa. Namun, setelah meminum jamu pada Sabtu malam, Taryono mengeluh pusing, mual, dan panas di perut pada Minggu pagi.

Pihak keluarga membawa Taryono ke RS Fatmawati. Lima jam dirawat, sopir mikrolet M 17 Pasar Minggu-Jagakarsa ini pun meninggal.

Ternyata, kasus serupa bermunculan di rumah sakit lain. Kepolisian Sektor Metro Jagakarsa segera menelusuri laporan warga. Penyelidikan mengarah pada bisnis jamu milik S.

Polisi pun menggerebek kios S dan menahan laki-laki tersebut. Dalam penggerebekan polisi menemukan barang bukti 1 termos minuman oplosan siap jual; 11 botol minuman berisi anggur, wiski, dan bir; 1 botol pasta asam jawa; 1 jeriken cairan yang disebut tersangka sebagai ginseng; 1 termos air jeruk; 1 jeriken kosong; 2 botol untuk alat pengoplos; serta 6 botol minuman kosong.

”Tersangka bisa dijerat Pasal 359 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan juncto UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan juncto UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen,” kata Gatot.

Untuk mencegah terulangnya tragedi maut ini, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar mengatakan, polisi akan segera merazia semua kios jamu dan minuman keras di Jakarta dan sekitarnya. (NEL/NDY/WIN/TRI)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
    Video rekomendasi
    Video lainnya


    Terkini Lainnya

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    komentar di artikel lainnya
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Close Ads
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com