Hidup Warteg Susah, Jangan Dipersulit

Kompas.com - 06/12/2010, 11:08 WIB
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pedagang warung makan tegal yang tergabung dalam Koperasi Warung Tegal merasa keberatan dengan rencana penerapan pajak untuk rumah makan yang beromzet minimal Rp 60 juta/tahun. Penetapan pajak ini akan semakin mempersulit kelancaran usaha warteg.

Ketua Koperasi Warung Tegal (Kowarteg) Sastoro mengungkapkan, sekarang ini pemilik warteg sulit mendapatkan untung memadai. Dengan omzet Rp 400.000 per hari saja, pemikik warteg hampir tak mendapatkan laba karena uang itu akan habis untuk modal dan belanja kebutuhan bahan pokok yang semakin mahal.

"Warteg sekarang sulit. Bisa dapat Rp 500.000-Rp 600.000 per hari baru bisa dapat untung. Itu cuma buat hidup saja, belum sekolah anak, kebutuhan yang lain," kata Sastoro kepada Kompas.com, Senin (6/12/2010).

Dengan kondisi seperti itu, kata Sastoro, semua pemilik warung makan pasti sangat keberatan jika harus membayar pajak pertambahan nilai (PPn) sebesar 10 persen sebagaimana tercantum dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang telah disepakati Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI.

"Kalau yang dikenai pajak itu yang omzetnya Rp 170.000, penjual indomie rebus juga kena. Sebaiknya (pajak) itu untuk yang beromzet Rp 1,5 juta per hari. Itu warteg jarang sekali yang dapat segitu," ujar Sastoro.

Hari ini Kowarteg akan bertemu dengan Gubernur Fauzi Bowo untuk menyampaikan keberatan mereka mengenai rencana pemberlakuan pajak tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.