YLKI : Laporkan Balik untuk Menakut-nakuti Korban

Kompas.com - 10/10/2011, 16:19 WIB
|
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com - Korban pencurian pulsa, Feri Kuntoro (36), meminta dukungan ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terkait pelaporan balik yang dilakukan perusahaan penyedia konten, Colibri Networks, terhadap dirinya. YLKI pun memberikan dukungannya dan menyatakan pelaporan balik terhadap korban pencurian pulsa adalah upaya untuk menakut-nakuti para korban untuk melapor ke polisi.

"Hari Sabtu kemarin saya ketemu dan berbicara dua jam dengan Pak Tulus Abadi saya meminta dukungannya. Beliau menyanggupi, kalau YLKI akan mendukung penuh saya," ujar Feri, Senin (10/10/2011), saat dihubungi wartawan.

Dia menuturkan dalam pertemuan empat mata dengan pengurus harian YLKI itu, dirinya diminta untuk tenang dalam menanggapi laporan dengan tuduhan pencemaran nama baik, fitnah, dan perbuatan tidak menyenangkan.

"Beliau minta saya untuk tenang dan santai saja serta terus berjuang," kata Feri.

Dia menuturkan pelaporan yang dilakukan Colibri Networks bisa jadi merupakan shock therapy untuk menakuti-nakuti masyarakat yang merasa dirugikan. "Supaya mereka tidak berani melapor. Tapi saya tidak gentar, yang masuk ke pengaduan YLKI juga sudah banyak dan saya juga punya bukti-bukti," ujarnya.

Sebelumnya, Feri Kuntoro (36), menjadi satu-satunya pelapor dalam kasus dugaan pencurian pulsa oleh penyedia layanan konten yang melapor ke Polda Metro Jaya. Feri merasa dirugikan dari bulan Maret-Okrober 2011 setelah registrasi undian berhadiah Blackberry yang ditayangkan salah satu televisi swasta. Semenjak itu, Feri menerima pesan singkat dari nomor 9133 yang membengkakkan tagihan ponsel pasca bayarnya Rp 2.000 setiap harinya selama delapan bulan.

Tidak hanya itu, Feri pun mendapat nada sambung yang tidak pernah dia pesan sebelumnya. Akibat nada sambung ini, biaya tagihan ponselnya pun membengkak Rp 15.000 setiap bulan. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp 450.000.

Atas keluhan tersebut, Feri kemudian melapor ke Polda Metro Jaya tanggal 5 Oktober 2011 lalu. Keluhan Feri dicatat polisi dalam laporan nomor LP/3409/X/2011/PMJ/ Ditreskrimsus. Apabila terbukti melakukan tindak pidana, maka pelaku bisa diancam hukuman dengan Undang- undang Informasi dan Transaksi Elektronik Nomor 11 Tahun 2008 dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999.

Tetapi akibat laporan itu, Feri justru digugat balik oleh Colibri Network, penyedia layanan konten dengan nomor 9133. Feri dituduh melakukan pencemaran nama baik, fitnah, dan perbuatan tidak menyenangkan ke Polrestro Jakarta Selatan pada Kamis (6/10/2011).

Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Begini Cara MRT Jakarta Relokasi Pohon di Monas dan Thamrin yang Terkena Proyek

    Begini Cara MRT Jakarta Relokasi Pohon di Monas dan Thamrin yang Terkena Proyek

    Megapolitan
    Gumpalan Minyak di Perairan Pulau Pari Diduga Berasal dari Kapal yang Melintas

    Gumpalan Minyak di Perairan Pulau Pari Diduga Berasal dari Kapal yang Melintas

    Megapolitan
    Dirut Sebut Pengerjaan MRT Fase 2A Bagian dari Pemulihan Ekonomi

    Dirut Sebut Pengerjaan MRT Fase 2A Bagian dari Pemulihan Ekonomi

    Megapolitan
    Perairan Pulau Pari Dibersihkan dari Limbah Gumpalan Minyak, Terkumpul 380 Karung

    Perairan Pulau Pari Dibersihkan dari Limbah Gumpalan Minyak, Terkumpul 380 Karung

    Megapolitan
    Dituduh Culik Anak hingga Fotonya Disebar, Pria di Bogor Lapor Polisi

    Dituduh Culik Anak hingga Fotonya Disebar, Pria di Bogor Lapor Polisi

    Megapolitan
    40 Truk Keliling Tangerang Semprot Disinfektan, Wakil Walkot Sebut untuk Ingatkan Pandemi Belum Usai

    40 Truk Keliling Tangerang Semprot Disinfektan, Wakil Walkot Sebut untuk Ingatkan Pandemi Belum Usai

    Megapolitan
    UPDATE 10 Agustus: 17 RW di 15 Kelurahan Kota Bekasi Masuk Zona Merah

    UPDATE 10 Agustus: 17 RW di 15 Kelurahan Kota Bekasi Masuk Zona Merah

    Megapolitan
    UPDATE 11 Agustus: Bertambah 10, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini Ada 647

    UPDATE 11 Agustus: Bertambah 10, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini Ada 647

    Megapolitan
    Dituding Lecehkan Anak-anak secara Seksual, Pria di Citayam Nyaris Diamuk Warga

    Dituding Lecehkan Anak-anak secara Seksual, Pria di Citayam Nyaris Diamuk Warga

    Megapolitan
    Perairan Pulau Pari Tercemar Gumpalan Minyak Berwarna Hitam

    Perairan Pulau Pari Tercemar Gumpalan Minyak Berwarna Hitam

    Megapolitan
    Zona Merah Covid-19 di Kota Tangerang Kembali Bertambah

    Zona Merah Covid-19 di Kota Tangerang Kembali Bertambah

    Megapolitan
    Hujan Deras dan Saluran Air Tersumbat, Kawasan Lenteng Agung Sempat Terendam

    Hujan Deras dan Saluran Air Tersumbat, Kawasan Lenteng Agung Sempat Terendam

    Megapolitan
    Setelah Anji, Polisi Panggil Hadi Pranoto Terkait Video Temuan Obat Covid-19

    Setelah Anji, Polisi Panggil Hadi Pranoto Terkait Video Temuan Obat Covid-19

    Megapolitan
    Tak Ada Dana, Insentif Tukang Gali Kubur dan Sopir Ambulans Khusus Covid-19 di Jakarta Tertunda

    Tak Ada Dana, Insentif Tukang Gali Kubur dan Sopir Ambulans Khusus Covid-19 di Jakarta Tertunda

    Megapolitan
    Sejumlah Warga Mengamuk Saat Razia Masker, Banting Dompet hingga Minta Dipenjara

    Sejumlah Warga Mengamuk Saat Razia Masker, Banting Dompet hingga Minta Dipenjara

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X