Istri Mantan Gubernur DKI Itu Hidup Sederhana

Kompas.com - 09/09/2012, 10:51 WIB
EditorLaksono Hari W

Sudah beberapa tahun ini, Evelyn Ngantung Mamesah (73), janda mendiang Gubernur DKI Jakarta (1964-1965) Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau Henk Ngantung, tinggal sendiri di rumahnya di Gang Jambu, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur. Benar-benar sendiri, tanpa pembantu.

”Jangankan buat membayar pembantu, buat bayar listrik saja terbatas,” kata Evelyn tersenyum. Ia tidak berniat nyinyir atau menyindir. Ia memang perempuan periang, energik, berpikir bebas dan terbuka, serta selalu ingin tampil cantik dengan segala keterbatasannya.

Bila malam, kebun belakang rumahnya yang bertepi bantaran kali di bagian bawah itu gelap tanpa lampu. Sebagian langit-langit rumah, termasuk studio mendiang suaminya, sudah banyak berlubang, ambrol, dan bocor bila hujan datang. Dari luar tampak seng-seng tulangan atap sirap rumah centang-perenang rusak berkarat. Sekilas rumah, kebun, dan halaman rumah Henk kusam kurang terawat, tetapi tak menghilangkan suasana teduh dan tergolong bersih.

”Papa pernah membuat halaman belakang bergunung-gunung ditanami rumput manila dan sedikit tanaman hias dan tanaman gantung,” kata Kamang (44), anak ketiga dari empat anak Henk-Evelyn, Sabtu (8/9) sore.

Kini, halaman belakang dipenuhi pepohonan. ”Tidak ada pagar pembatas, tidak ada penerangan lampu karena uang pensiun bulanan suami hanya Rp 850.000,” kata Evelyn diikuti derai tawanya.

Evelyn ingin menawarkan bangunan dan tanah seluas 2.400 meter persegi, yang dibeli tahun 1971 seharga Rp 5,5 juta, itu kepada Pemerintah Provinsi DKI. ”Saya kira cocok jika rumah, termasuk studio Pak Henk dan halaman belakang lumayan luas dan teduh ini, dijadikan satu sanggar tempat para seniman dan budayawan di lingkungan Jakarta Timur,” tutur Evelyn.

Pendapatnya diamini sejumlah seniman dan jurnalis senior saat bertemu di rumah Henk, kemarin. Mereka antara lain Harry D’Fretes, Alwi Shihab, Aristides Katoppo, produser film Gatot, dan Tubagus Andre dari Galeri Nasional Indonesia. Buat mereka, rumah dan halaman milik Henk layak menjadi sanggar seni dan museum.

”Banyak sejarah dan kenangan indah bertebaran di rumah ini,” kata Alwi. ”Di tengah terbatasnya lahan bagi ruang budaya yang pas di Jakarta, tawaran Ibu Evelyn sangat layak dipertimbangkan,” kata Andre. Harry menyela, ”Wah, gue bisa rajin latihan lenong kalau ada sanggar seni di sini.”

Henk yang terkenal dengan lukisannya, ”Pemanah”, ”Gajah Mada”, serta ”Ibu dan Anak”, adalah salah satu pelukis berbakat di Indonesia. Saat ditanya, ”Jika pemerintah provinsi menolak tawaran Ibu?” Evelyn menjawab, ”Apa boleh buat.... Saya harus pindah karena untuk perempuan seusia saya sekarang, rumah ini sudah terlalu luas,” tuturnya. (WINDORO ADI)

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dihampiri Samsat dan BPRD, Tukang Bangunan Kaget Disebut Nunggak Pajak Mobil Mewah

Dihampiri Samsat dan BPRD, Tukang Bangunan Kaget Disebut Nunggak Pajak Mobil Mewah

Megapolitan
Rel Antara Stasiun Pasar Minggu dan UI Sempat Patah, KRL Sudah Bisa Melintas

Rel Antara Stasiun Pasar Minggu dan UI Sempat Patah, KRL Sudah Bisa Melintas

Megapolitan
KCI Siapkan KRL sebagai Feeder untuk Pangkas Waktu Tempuh Rangkasbitung-Tanah Abang dan Cikarang-Jakarta Kota

KCI Siapkan KRL sebagai Feeder untuk Pangkas Waktu Tempuh Rangkasbitung-Tanah Abang dan Cikarang-Jakarta Kota

Megapolitan
Jakarta Internasional Stadium Gunakan Rumput Hybrid Impor Untuk Tiga Lapangan

Jakarta Internasional Stadium Gunakan Rumput Hybrid Impor Untuk Tiga Lapangan

Megapolitan
Jakarta International Stadium Hanya Sediakan Parkir untuk 1.500 Kendaraan, Apa Alasannya?

Jakarta International Stadium Hanya Sediakan Parkir untuk 1.500 Kendaraan, Apa Alasannya?

Megapolitan
Polisi Tangkap Kelompok Pencopet Ponsel Saat Konser Musik

Polisi Tangkap Kelompok Pencopet Ponsel Saat Konser Musik

Megapolitan
LPSK Beri Perlindungan Remaja yang Diperkosa Ayah Tiri di Tangsel

LPSK Beri Perlindungan Remaja yang Diperkosa Ayah Tiri di Tangsel

Megapolitan
Pemprov DKI Sebut Sepeda yang Melintas di Badan Jalan Tidak Kena Sanksi

Pemprov DKI Sebut Sepeda yang Melintas di Badan Jalan Tidak Kena Sanksi

Megapolitan
Setelah Uji Publik, LRT Jakarta Targetkan 7.000 Penumpang per Hari

Setelah Uji Publik, LRT Jakarta Targetkan 7.000 Penumpang per Hari

Megapolitan
Jakarta International Stadium Akan Dilengkapi Fasilitas Bungee Jumping

Jakarta International Stadium Akan Dilengkapi Fasilitas Bungee Jumping

Megapolitan
Tersangka Penyiraman Air Keras Racik Larutan Soda Api Sambil Ngopi di Samping Polsek

Tersangka Penyiraman Air Keras Racik Larutan Soda Api Sambil Ngopi di Samping Polsek

Megapolitan
Mantan Kapolsek Kebayoran Baru Akan Dipecat karena Konsumsi Narkoba

Mantan Kapolsek Kebayoran Baru Akan Dipecat karena Konsumsi Narkoba

Megapolitan
Tahun Depan, KRL Ditargetkan Hanya Terjadi 50 Kali Gangguan

Tahun Depan, KRL Ditargetkan Hanya Terjadi 50 Kali Gangguan

Megapolitan
Bocah Berkebutuhan Khusus Tewas Terbakar karena Dipasung, F-PSI: Dinsos Semestinya Tak Lepas Tangan

Bocah Berkebutuhan Khusus Tewas Terbakar karena Dipasung, F-PSI: Dinsos Semestinya Tak Lepas Tangan

Megapolitan
LRT Jakarta Ditargetkan Sudah Sampai Jakarta International Stadium pada 2022

LRT Jakarta Ditargetkan Sudah Sampai Jakarta International Stadium pada 2022

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X