Pemerkosa RI Diduga Idap Penyakit Kelamin

Kompas.com - 10/01/2013, 00:24 WIB
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com — Salah satu hal yang masih menjadi pertanyaan besar dalam kasus dugaan kekerasan seksual yang menimpa RI (11) adalah penyebab luka lama tak tertangani pada kemaluan bocah malang tersebut. Hingga detik berpulangnya RI, belum diketahui jelas apakah akibat dari kekerasan seksual atau bukan.

Muhammad Nasser, anggota Komisi Kepolisian Nasional yang berprofesi sebagai dokter kulit, menduga bahwa luka di area kemaluan korban disebabkan tindak kekerasan seksual yang dilakukan oleh pengidap penyakit kelamin.

Kondisi tersebut dapat dijelaskannya secara klinis. Penyakit kelamin dapat memicu tiga hal. Pertama, penyakit kelamin bisa berbentuk mengeluarkan cairan. Kedua, membuat luka dan yang ketiga menyebabkan tumor atau semacam pembengkakan pada permukaan kulit korban. Ketiga ciri-ciri tersebut terdapat pada RI.

"Artinya anak ini menderita kekerasan seksual yang hampir pasti disebabkan oleh pelaku yang menderita penyakit kelamin," ujar Nasser saat ditemui wartawan di Markas Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, Rabu (9/1/2013).

Lebih jauh, Nasser menambahkan, seluruh peristiwa yang menimpa RI tersebut adalah cermin dari buruknya sosialisasi kesehatan reproduksi bagi anak-anak di Indonesia. Terlebih lagi, kasus RI terjadi di kota metropolitan Jakarta. Untuk itu, kasus RI perlu mendapat perhatian lebih dari masyarakat, terutama negara.

"Sementara itu, di kepolisian, kasus ini bukan hanya masalah kepolisian, melainkan juga masalah sosial yang harus ditangani bersama. Kasus kesehatan reproduksi itu masalah besar," lanjutnya.

Nasser juga mengapresiasi positif apa yang telah dilakukan polisi dengan bersikap proaktif dalam kasus RI. Menurutnya, penyelidikan kasus RI berangkat dari dugaan adalah langkah tepat yang dilakukan polisi.

Dengan menyingkronkan keterangan visum, otopsi, serta pemeriksaan saksi, diharapkan dapat membuahkan hasil. Polisi telah memeriksa 17 orang saksi yang terdiri dari orangtua, kakak, dan tetangga korban.

Meski demikian, hingga Rabu siang, saksi yang masih diperiksa lima orang. Polisi hendak meng-kroscek keterangan masing-masing saksi tersebut untuk selanjutnya dievaluasi dan nantinya digabungkan dengan surat hasil otopsi dan visum.

RI adalah putri bungsu dari enam bersaudara pasutri A (50) dan L (54). Mereka tinggal di lapak pemulung di Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur. RI diduga korban kekerasan seksual atas luka berat pada kemaluannya. Namun sayang, belum sempat memberikan keterangan, ia mengembuskan napas terakhir.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Petugas Kebersihan Stasiun Temukan Uang Rp 500 Juta di Plastik, Dikembalikan ke Pemiliknya

Petugas Kebersihan Stasiun Temukan Uang Rp 500 Juta di Plastik, Dikembalikan ke Pemiliknya

Megapolitan
Diizinkan Angkut Penumpang, Grab di Bekasi Pasang Partisi Plastik di Setiap Armada

Diizinkan Angkut Penumpang, Grab di Bekasi Pasang Partisi Plastik di Setiap Armada

Megapolitan
MRT Jakarta Bantah Tanah Galian Proyeknya untuk Reklamasi Ancol

MRT Jakarta Bantah Tanah Galian Proyeknya untuk Reklamasi Ancol

Megapolitan
Pemkot Tangsel Belum Izinkan Bioskop Beroperasi Kembali 29 Juli 2020

Pemkot Tangsel Belum Izinkan Bioskop Beroperasi Kembali 29 Juli 2020

Megapolitan
Polisi Dalami Upaya Penculikan Anak di Depok, Modusnya Bekap Pakai Tisu

Polisi Dalami Upaya Penculikan Anak di Depok, Modusnya Bekap Pakai Tisu

Megapolitan
Tes Urine dan Rambut Negatif Narkoba, Ridho Ilahi Tetap Diproses Hukum Terkait Kepemilikan Sabu

Tes Urine dan Rambut Negatif Narkoba, Ridho Ilahi Tetap Diproses Hukum Terkait Kepemilikan Sabu

Megapolitan
Klarifikasi Pemprov DKI: Perluasan Ancol Dilakukan di Pulau L

Klarifikasi Pemprov DKI: Perluasan Ancol Dilakukan di Pulau L

Megapolitan
UPDATE 9 Juli: Bertambah 10 Kasus, Total 298 Kasus Positif di Kabupaten Bekasi

UPDATE 9 Juli: Bertambah 10 Kasus, Total 298 Kasus Positif di Kabupaten Bekasi

Megapolitan
Curi 46 Motor, Dua Residivis Ditangkap Lagi di Depok

Curi 46 Motor, Dua Residivis Ditangkap Lagi di Depok

Megapolitan
Penerbangan Meningkat, Lion Air Pekerjakan Kembali 2.600 Karyawan

Penerbangan Meningkat, Lion Air Pekerjakan Kembali 2.600 Karyawan

Megapolitan
UPDATE 8 Juli: Tambah 10 Kasus Covid-19 di Kota Bekasi, 16 Pasien Masih Dirawat

UPDATE 8 Juli: Tambah 10 Kasus Covid-19 di Kota Bekasi, 16 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
Gempa Lebak Tempo Hari dan Pelajaran buat Jakarta

Gempa Lebak Tempo Hari dan Pelajaran buat Jakarta

Megapolitan
Ojek Online Resmi Diizinkan Angkut Penumpang di Bekasi, Ini Protokol yang Wajib Dipatuhi

Ojek Online Resmi Diizinkan Angkut Penumpang di Bekasi, Ini Protokol yang Wajib Dipatuhi

Megapolitan
Bertambah 344 Kasus Covid-19 di Jakarta, Lonjakan Tertinggi Sejak Kasus Perdana

Bertambah 344 Kasus Covid-19 di Jakarta, Lonjakan Tertinggi Sejak Kasus Perdana

Megapolitan
5 Fakta Persidangan Kasus Pembobolan Rekening Ilham BIntang

5 Fakta Persidangan Kasus Pembobolan Rekening Ilham BIntang

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X