Korban Sodomi Oknum Brimob Lebih dari Satu?

Kompas.com - 26/02/2013, 09:31 WIB
|
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian telah menyatakan, Bripka EK dan S, pelaku sodomi terhadap bocah berusia lima tahun berinisial F di Jakarta Timur, memiliki disorientasi seksual. Jika demikian, maka bukan tidak mungkin korban tindakan kekerasan seksual kedua pelaku lebih dari satu.

"Bisa saja. Jika polisi sudah bilang begitu, berarti (korban lebih dari satu) sangat memungkinkan," kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, kepada Kompas.com, Selasa (26/2/2013) pagi.

Berdasarkan pengakuan orangtua korban saat melaporkan tindak sodomi terhadap sang putra, kata Arist, diketahui bahwa tersangka memiliki latar belakang dekat dengan anak-anak kecil yang ada di sekitar rumahnya. Tak jarang Bripka EK dan S mengajak anak-anak bermain di rumah.

Salah satu daya tarik yang dilakukan tersangka, yakni dengan mengadakan makanan ringan dan mainan agar anak-anak di sekeliling tempat tinggalnya tersebut mau main di rumah tersangka. Terlebih lagi, jika anak-anak tersebut tengah main tidak dalam pengawasan orangtuanya.

"Ada juga beberapa saksi lain yang mendukung itu bahwa tersangka sering main di rumahnya sama anak-anak kecil, kasih makanan dan mainan supaya mereka senang," kata Arist.

Komnas PA desak polisi

Fakta-fakta demikian, kata Arist, harusnya direspons positif oleh polisi, khususnya aparat dari Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, yang menangani kasus sodomi tersebut. Polisi diharapkan memulai penyelidikan atas sejumlah fakta, dugaan, dan kecurigaan atas tersangka itu.

"Pendalaman itu penting. Nggak bisa sekadar dia tersangka, diadili. Kalau punya kelainan seksual, korbannya tidak mungkin satu orang," ujar Arist.

Terkait penyelidikan yang harus dimulai dengan laporan polisi terlebih dahulu, Arist tegas menampiknya. Menurut dia, penyelidikan polisi tidak hanya mendasarkan diri pada LP, tetapi juga bisa pada saksi petunjuk. Hal itu terjadi pada kasus kekerasan seksual yang menimpa RI hingga akhirnya meninggal dunia.

Oleh sebab itu, Arist mengatakan, pihaknya mendesak kepolisian untuk transparan dalam menyampaikan perkembangan kasus tersebut kepada publik. Terlebih lagi, satu dari dua tersangka adalah oknum penegak hukum. Komnas PA pun berjanji akan mengawal kasus sodomi tersebut.

Terkuaknya kasus sodomi terhadap F bermula dari pengakuan korban kepada orangtua bahwa ia kerap mengalami sakit di bagian bokong saat buang air besar. Orangtua yang curiga pun mendesak korban untuk mengakui kejadian yang menimpanya. Terbukti, korban menunjuk E dan S sebagai pelaku perbuatan bejat tersebut.

Orangtua bocah itu melapor ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Timur, Kamis (21/2/2013). Setelah visum, polisi dibantu provos pun menangkap dua tersangka dari rumah masing-masing tanpa perlawanan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ditanya Kinerja Ruhamaben di BUMD Tangsel, Benyamin Davnie Enggan Beri Penilaian

Ditanya Kinerja Ruhamaben di BUMD Tangsel, Benyamin Davnie Enggan Beri Penilaian

Megapolitan
Benyamin Davnie Akui Belum Tindak Semua Bangunan yang Langgar Aturan di Tangsel

Benyamin Davnie Akui Belum Tindak Semua Bangunan yang Langgar Aturan di Tangsel

Megapolitan
Sampai Saat Ini, Benyamin-Pilar Klaim Tak Pernah Ada Konflik Agama di Tangsel

Sampai Saat Ini, Benyamin-Pilar Klaim Tak Pernah Ada Konflik Agama di Tangsel

Megapolitan
Tutup Debat Kandidat Putaran kedua, Azizah-Ruhamaben Duet Lagu Kampanye

Tutup Debat Kandidat Putaran kedua, Azizah-Ruhamaben Duet Lagu Kampanye

Megapolitan
Serap Aspirasi Masyarakat, Benyamin-Pilar akan Bekerja di Kantor RT/RW

Serap Aspirasi Masyarakat, Benyamin-Pilar akan Bekerja di Kantor RT/RW

Megapolitan
Gambar Paslon 1 Dicopot Satop PP, Azizah: Yang Melanggar Harus ditindak Tegas

Gambar Paslon 1 Dicopot Satop PP, Azizah: Yang Melanggar Harus ditindak Tegas

Megapolitan
Benyamin Sebut Pemkot Tangsel Sudah Sediakan Wi-Fi di Masjid Hingga Perpustakaan

Benyamin Sebut Pemkot Tangsel Sudah Sediakan Wi-Fi di Masjid Hingga Perpustakaan

Megapolitan
Jika Menang Pilkada Tangsel, Muhammad-Sara Akan Rutin 'Ngopi' Bareng Warga

Jika Menang Pilkada Tangsel, Muhammad-Sara Akan Rutin "Ngopi" Bareng Warga

Megapolitan
Satpol PP Segel Bank di Kembangan karena Tak Laporkan Temuan 2 Karyawan Positif Covid-19

Satpol PP Segel Bank di Kembangan karena Tak Laporkan Temuan 2 Karyawan Positif Covid-19

Megapolitan
Pilar Saga Ichsan Banggakan Tangsel Jadi Role Model Pemerintah Kota yang Terbuka

Pilar Saga Ichsan Banggakan Tangsel Jadi Role Model Pemerintah Kota yang Terbuka

Megapolitan
Jika Terpilih, Azizah-Ruhamaben Bakal Buat Aplikasi untuk Serap Aspirasi Warga

Jika Terpilih, Azizah-Ruhamaben Bakal Buat Aplikasi untuk Serap Aspirasi Warga

Megapolitan
Soal Tangsel Kota Kelas Dunia, Azizah: Punya Jaminan Sosial dan Hidup Sehat

Soal Tangsel Kota Kelas Dunia, Azizah: Punya Jaminan Sosial dan Hidup Sehat

Megapolitan
Benyamin - Pilar Saga Klaim Bakal Tutup Celah Korupsi di Tangsel jika Terpilih

Benyamin - Pilar Saga Klaim Bakal Tutup Celah Korupsi di Tangsel jika Terpilih

Megapolitan
[DEBAT PILKADA TANGSEL] Davnie: Tangsel adalah Indonesia Skala Kecil

[DEBAT PILKADA TANGSEL] Davnie: Tangsel adalah Indonesia Skala Kecil

Megapolitan
Kurang dari Dua Menit, Satu Motor di Pasar Minggu Raib Digondol Maling

Kurang dari Dua Menit, Satu Motor di Pasar Minggu Raib Digondol Maling

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X