Basuki Bantah Tuding Warga Waduk Pluit Komunis

Kompas.com - 26/04/2013, 17:42 WIB
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyangkal telah menyebut warga di bantaran Waduk Pluit sebagai komunis karena tidak mau direlokasi dari tanah negara. Ia pun menolak meminta maaf atas pernyataannya sebelumnya.

Dalam wawancara dengan wartawan di Balaikota Jakarta, Rabu (24/4/2013), Basuki menyatakan bahwa warga yang menempati lahan secara ilegal di sekitar Waduk Pluit, Jakarta Utara, telah menyerobot tanah negara. Ia menolak permintaan ganti rugi kepada warga atas pembongkaran bangunan dan relokasi warga dari lokasi tersebut.

"Nah, sekarang logikanya, kalau ilegal, dibongkar terus minta ganti rugi, ya mampus kita, nanti semua orang bakal bangun (rumah). Enggak ada hukumnya, itu komunis," kata Basuki, Rabu.

Pernyataan itu kemudian diartikan sebagai kemarahan dan tudingan komunis terhadap warga. Namun, Basuki menyatakan bahwa perkataannya tersebut tidak berarti menuding warga bantaran Waduk Pluit sebagai penganut paham komunisme.

Ia menjelaskan alasan mengapa ia sampai mengeluarkan pernyataan tersebut. Pernyataan itu ia keluarkan karena ada sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mendatanginya dan membawa proposal. LSM itu berbicara dengan mengatasnamakan warga bantaran Waduk Pluit untuk meminta pembagian lahan.

"Saya enggak marahin warga bantaran Waduk Pluit. Saya juga tidak bilang mereka komunis," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Jumat (26/4/2013).

"Jadi kan saya bilang, mana bisa lahan itu dibagi, karena itu tanah negara. Nah, LSM itu ngotot. Kalau ngotot, itu namanya ideologi komunis. Kemudian, LSM itu bilang, 'Rakyat boleh menjarah lahan'," kata mantan Bupati Belitung Timur itu.

Basuki menyatakan siap menerima warga Waduk Pluit yang ingin menuntutnya karena ucapannya tersebut. Ia berpendapat bahwa tindakan warga yang menempati tanah bukan milik mereka lebih bersalah dibandingkan dengan ucapannya. Pria yang akrab disapa Ahok itu mengatakan, warga telah membangun bangunan di atas tanah negara dan menyewakan bangunan itu.

Selain itu, Basuki juga menuding warga tidak membayar pajak bumi bangunan, tetapi justru meminta ganti rugi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas penggusuran di lahan tersebut.

Basuki menegaskan, ia menolak permintaan warga bantaran Waduk Pluit untuk meminta maaf atas pernyataannya tersebut. Ia menyebutkan, Pemprov DKI sudah mengeluarkan bantuan cukup besar kepada warga bantaran Waduk Pluit. Dia menilai ada LSM yang berupaya mengadu domba warga dengan dirinya.

Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Anggaran Cekak, Pemkot Bekasi Sulit Bebaskan Lahan untuk Underpass Bulak Kapal

    Anggaran Cekak, Pemkot Bekasi Sulit Bebaskan Lahan untuk Underpass Bulak Kapal

    Megapolitan
    Kebakaran Landa Sebuah Gudang Plastik di Kalideres

    Kebakaran Landa Sebuah Gudang Plastik di Kalideres

    Megapolitan
    Sunter Agung Tak Seperti Kampung Akuarium, Taufik: Pilihan Terbaik Warga Dipindahkan ke Rusun

    Sunter Agung Tak Seperti Kampung Akuarium, Taufik: Pilihan Terbaik Warga Dipindahkan ke Rusun

    Megapolitan
    Walau Mendesak, Bekasi Belum Prioritaskan Pembangunan Damkar Sektor Pondok Gede

    Walau Mendesak, Bekasi Belum Prioritaskan Pembangunan Damkar Sektor Pondok Gede

    Megapolitan
    Tebing di Jalan DI Panjaitan Rawan Longsor karena Tak Ada Saluran Air

    Tebing di Jalan DI Panjaitan Rawan Longsor karena Tak Ada Saluran Air

    Megapolitan
    Kabur Berhari-hari, Preman yang Pukuli Pria di Ceger Ditangkap Polisi

    Kabur Berhari-hari, Preman yang Pukuli Pria di Ceger Ditangkap Polisi

    Megapolitan
    Fakta Seputar Kematian Pilot Wings Air yang Diduga Bunuh Diri di Kamar Indekos

    Fakta Seputar Kematian Pilot Wings Air yang Diduga Bunuh Diri di Kamar Indekos

    Megapolitan
    Nunung Minta Dihukum Ringan karena Harus Urus 13 Anak Angkat

    Nunung Minta Dihukum Ringan karena Harus Urus 13 Anak Angkat

    Megapolitan
    3 Lokasi di Jakarta Barat Jadi Proyek Awal Atasi Penurunan Tanah

    3 Lokasi di Jakarta Barat Jadi Proyek Awal Atasi Penurunan Tanah

    Megapolitan
    Transjakarta Puji Pengemudi yang Tak Mengalah terhadap Pemotor yang Lawan Arah

    Transjakarta Puji Pengemudi yang Tak Mengalah terhadap Pemotor yang Lawan Arah

    Megapolitan
    Babak Baru Polemik Ormas Kelola Parkir Minimarket di Bekasi

    Babak Baru Polemik Ormas Kelola Parkir Minimarket di Bekasi

    Megapolitan
    Polisi Masih Selidiki Dugaan Korupsi pada Penerbitan Surat Tugas Ormas Kelola Parkir di Bekasi

    Polisi Masih Selidiki Dugaan Korupsi pada Penerbitan Surat Tugas Ormas Kelola Parkir di Bekasi

    Megapolitan
    Rekan Ditabrak Petugas Sekuriti Saat Berdagang, Pedagang Bakso Gelar Aksi Teatrikal

    Rekan Ditabrak Petugas Sekuriti Saat Berdagang, Pedagang Bakso Gelar Aksi Teatrikal

    Megapolitan
    Polisi Tangkap Spesialis Pencuri Motor yang Beraksi di Wilayah Tangsel

    Polisi Tangkap Spesialis Pencuri Motor yang Beraksi di Wilayah Tangsel

    Megapolitan
    Kapolsek Kalideres Sebut Tidak Ada Indikasi Pilot Wings Air Dibunuh

    Kapolsek Kalideres Sebut Tidak Ada Indikasi Pilot Wings Air Dibunuh

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X