Kompas.com - 28/05/2013, 17:37 WIB
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit mengatakan, pembangunan transportasi cepat massal atau MRT dengan jalur layang ataupun bawah tanah bukanlah masalah besar. Yang harus ditekankan adalah sosialisasi kepada warga yang merasa dirugikan oleh proyek tersebut.

"Yang penting adanya komunikasi dengan warga," ujar Danang dalam diskusi mengenai transportasi Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (28/5/2013).

Danang mengatakan, melalui komunikasi itu, pemerintah dapat memberikan penjelasan dan apa keuntungan untuk warga yang menolak pembangunan jalur layang MRT. Pemerintah harus dapat meyakinkan yang merasa dirugikan jika tetap dibuatkannya jalur layang pada pelintasan Lebak Bulus sampai Sisingamangaraja. Soal kebersihan, misalnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus dapat menjamin kebersihan kolong jalur layang itu.

"Buatlah keyakinan masyarakat yang merasa dirugikan, seperti pedagang-pedagang dibebaskan biaya pajak PBB selama pembangunan, kebersihan jalanan di bawah jalur layang," kata Danang.

Danang menilai usul warga tentang penggunaan jalur bawah tanah untuk MRT bukan berarti bebas dari permasalahan. Ia mengatakan, pembangunan jalur underground ini berakibat penutupan jalan selama proyek berlangsung sehingga dapat merugikan pengguna jalan dan para pedagang. Faktor kebersihan juga harus menjadi perhatian pada jalur bawah tanah.

"Biaya peminjaman dari Jepang sebenarnya masih bisa dibuat underground, yang biayanya lebih mahal, tapi desainnya sudah dibuat jalur layang. Kalau dibuat jalur bawah, nanti harus redesign lagi, otomatis memerlukan waktu lebih lama lagi, sedangkan akhir tahun sudah mulai pengerjaannya," ujar Danang.

Sementara itu, Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami mengatakan akan tetap membangun jalur layang di jalur Lebak Bulus hingga Sisingamangaraja. Hal itu dikarenakan desain pembangunan itu sudah jadi sehingga, jika diubah lagi, maka akan memerlukan waktu lebih lama lagi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami sangat terbuka jika ada integrasi dengan angkutan umum lainnya. Hanya saja saat ini kami masih fokus pengerjaan tahap pertama," jelas Dono.

Penolakan terhadap MRT dengan jalur layang disampaikan oleh warga dan pedagang di Jakarta Selatan. Warga menilai jalur bawah tanah akan lebih menguntungkan dibanding jalur layang yang akan merugikan warga dan pedagang.

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.