Kompas.com - 31/05/2013, 02:57 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani

SEMARANG, KOMPAS.com — Seorang warga sipil asal Saparua, Ambon, Ridho Hehanusa (34), tewas, diduga akibat dianiaya oknum TNI di Semarang, Jawa Tengah. Pelaku penganiayaan diduga adalah oknum anggota Yonif 400 Raiders.

Jenazah korban dibawa ke RSUP Dr Kariadi, Semarang, untuk otopsi, Kamis (30/5/2013) malam. Tiba sekitar pukul 23.00 WIB, jenazah dibawa menggunakan mobil ambulans Kesdam IV/DIP Rumah Sakit Tentara Bhakti Wira Tamtama. Sejumlah anggota TNI dan Detasemen Polisi Militer (Denpom) 5/IV Diponegoro, Semarang, tampak berada di depan kamar mayat.

Charles Sopacua, kerabat korban yang ditemui di RSUP Dr Kariadi mengatakan, peristiwa ini merupakan rentetan peristiwa yang terjadi pada Kamis dini hari. Berdasarkan informasi yang didapatkannya, ia mengatakan bahwa korban terlibat perkelahian dengan oknum TNI di sebuah klub malam.

Sesudah perkelahian itu, lanjut Charles, Ridho dibawa oleh dua oknum TNI dengan menumpang taksi. "Katanya dibawa ke Banteng Raiders, tapi sekarang malah sudah menjadi mayat dan kondisinya seperti itu. Itu betul jenazah Ridho," ujarnya.

Menurut Charles, wajah Ridho hancur dan beberapa bagian tubuhnya terlihat hitam. "Saya sudah lihat sendiri, itu badannya hitam-hitam seperti bekas pukulan," ujar dia.

Kerabat lainnya, Lusi Siahaya, tampak terus menangis mengetahui kematian Ridho. Ia meminta kejadian ini diusut tuntas. "Siapa pun dia harus dihukum. Orang-orang kecil saja ditindas. Mereka pikir aparat bisa seenaknya," ujar dia.

Ridho adalah warga keturunan Ambon yang sudah 10 tahun merantau ke Semarang. Dia dikenal sebagai anak baik dan sopan. Informasi yang dihimpun Kompas.com, Ridho dan sejumlah temannya terlibat keributan dengan beberapa oknum TNI di Liquid Cafe, di kawasan Simpanglima, Semarang, Jawa Tengah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Keributan kemudian berlanjut ke E Plaza, masih di kawasan yang sama. Seperti disampaikan Charles, Ridho kemudian dibawa pergi oleh sejumlah oknum TNI. Sementara itu, beberapa orang yang juga terlibat keributan itu sudah melapor ke Denpom IV/5 Diponegoro, Semarang.

Komandan Denpom IV/5 Diponegoro Letkol CPM (K) Tri Wahyuningsih juga terlihat datang di RSUP Dr Kariadi. Ia mengatakan baru menerima laporan dugaan penganiayaan yang setelah dicek ternyata benar, dan korban meninggal dunia. "Di mana (dan) kapan (kejadiannya) baru diselidiki dan dicek di lapangan. Sepanjang cukup bukti awal, akan ditindaklanjuti," katanya.

"(Pelaku), kalau dari laporannya itu, menyebut oknum Yonif 400 Raiders. Saya akan koordinasi dengan komandan satuannya. Saya belum baca seutuhnya laporannya," ujar Tri. Ia mengatakan, jenazah korban dibawa oleh satuan tersebut ke RST Bhakti Wira Tamtama, kemudian dibawa ke RUSP Dr Kariadi untuk diotopsi.

"Dibawa secara sadar oleh satuan itu. Indikasinya oknum itu, untuk siapanya, belum tahu," lanjut Tri. Dia berjanji tak akan menutup-nutupi kasus ini.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.