Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Maskot Kota Jakarta, Elang Bondol dan Salak Condet

Kompas.com - 14/02/2022, 00:00 WIB
Tari Oktaviani,
Nibras Nada Nailufar

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pernah melihat patung elang mencengkeram buah salak? Patung yang salah satunya terletak di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat ini rupanya merupakan simbol dari maskot Kota Jakarta.

Masyarakat umumnya mengira Monas sebagai maskot kota Jakarta. Padahal sebenarnya bukan.

Elang bondol dan Salak Condet adalah dua maskot Ibu Kota. Hal ini tertuang dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 1796 tahun 1989.

Baca juga: Ditumbuhi Rerumputan, Tugu Maskot Jakarta Elang Bondol dan Salak Condet Dibersihkan

Saat itu, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menetapkan elang bondol dari jenis fauna dan salak condet dari jenis flora sebagai identitas kota Jakarta karena keberadaanya yang kala itu hampir punah.

Elang Bondol

Elang bondol yang diselamatkan dari upaya penyelundupan.KOMPAS.COM/DOK. Ditkrimsus Polda Lampung Elang bondol yang diselamatkan dari upaya penyelundupan.

Dalam surat keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 1796 tahun 1989 itu dikatakan bahwa elang bondol merupakan salah satu jenis burung yang hidup di DKI Jakarta.

Elang bondol termasuk jenis satwa langka yang penyebarannya terbatas di Kepulauan Seribu.

Elang bondol yang memiliki nama latin Haliastur indus ini masuk ke dalam spesies burung pemangsa.

Sama dengan burung elang pada umumnya, makanannya merupakan hewan-hewan kecil yang ada di sungai ataupun udara seperti ikan, ular, serangga, katak.

Seperti dikuti dari buku Brahminy Kite (2001), elang bondol yang berasal dari famili Acciptridae ini umumnya memiliki ukuran 40 - 50 cm.

Ia memiliki sayap yang lebar dengan ekor yang cenderung lebih pendek daripada elang biasa. Bagian kepala, leher dan dada berwarna putih, sedangkan bagian tubuh lainnya cenderung berwarna cokelat kemerah-merahan gelap.

Baca juga: Kasus Omicron di Jakarta Tembus 4.639, Transmisi Lokal 61,7 persen

Elang bondol biasanya hidup di habitat yang cenderung berlumpur seperti hutan mangrove, muara sungai, dan pesisir pantai. Tak hanya itu, burung ini juga dapat ditemukan di lahan basah seperti sawah dan rawa.

Meski menjadi maskot Kota Jakarta, elang bondol juga dapat ditemukan di daerah Sumatera, Kalimantan dan Bali.

Masih dalam surat keputusan, elang bondol dijadikan maskot Kota Jakarta karena memiliki penampilan yang menarik dan mempunyai kemampuan terbang yang sangat prima. Serta memiliki ketajaman mata dalam mencari mangsa.

Perilaku ini dapat dijadikan simbol untuk warga Jakarta yang selalu dinamis, tangkas. dan cepat bertindak.

Status Elang Bondol sendiri kini dilindungi oleh Peraturan Republik Indonesia UU No. 5 tahun 1990 dan diatur dalam PP No. 7 tahun 1999 dan Peraturan Menteri KLHK No. 106 tahun 2018.

Sementara International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status Elang Bondol sebagai Least Concern (risiko rendah) yang artinya spesies ini menjadi perhatian tetapi tidak masuk dalam kategori terancam, hampir terancam atau ketergantungan konservasi.

Salak Condet

Foto dirilis Rabu (23/6/2020), memperlihatkan petugas merawat tanaman salak condet di Kebun Cagar Buah Condet (KCBC), Balekambang, Jakarta Timur. Upaya pelestarian salak condet sebagai maskot DKI Jakarta kini terus berpacu dengan pesatnya alih fungsi lahan hijau. Segala daya dan upaya terus dilakukan agar salak condet tidak punah dari bumi Jakarta.ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA Foto dirilis Rabu (23/6/2020), memperlihatkan petugas merawat tanaman salak condet di Kebun Cagar Buah Condet (KCBC), Balekambang, Jakarta Timur. Upaya pelestarian salak condet sebagai maskot DKI Jakarta kini terus berpacu dengan pesatnya alih fungsi lahan hijau. Segala daya dan upaya terus dilakukan agar salak condet tidak punah dari bumi Jakarta.

Tanaman buah yang menjadi lambang resmi DKI Jakarta adalah salak condet.

Buah salak condet memiliki nama latin Salacca edulis cognita. Bentuknya sama dengan buah salak pada umumnya, namun keistimewaanya buahnya lebih besar dan daging buahnya lebih tebal.

Dalam surat keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 1796 tahun 1989, Salak Condet merupakan tanaman asli yang tumbuh di Jakarta dan termasuk jenis tanaman langka.

Salak Condet juga dijadikan maskot Kota Jakarta karena memiliki nilai kekhasan pemanfaatan oleh masyarakat kota Jakarta. Selain itu salak condet juga memiliki penamppilan menarik dan dapat dibudayakan atau dilindungi secara alami.

Baca juga: Kisah Pengelola Cagar Buah Condet Pertahankan Maskot Jakarta

Menurut Wahana Komunitas Lingkungan Hidup (WKLH) buah ini dinamakan salak condet sebab dahulu kala di kawasan Condet, Jakarta Timur, mudah dijumpai pohon salak.

Namun sayangnya kini wilayah perkebunannya hanya tinggal 20 persen. Salak condet dibudidayakan di daerah Balekambang yang dijadikan kawasan konservasi.

 
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Polisi Dalami Peran Belasan Saksi Dalam Kasus Tewasnya Taruna STIP yang Dianiaya Senior

Polisi Dalami Peran Belasan Saksi Dalam Kasus Tewasnya Taruna STIP yang Dianiaya Senior

Megapolitan
Kepada Kapolres Jaktim, Warga Klender Keluhkan Aksi Lempar Petasan dan Tawuran

Kepada Kapolres Jaktim, Warga Klender Keluhkan Aksi Lempar Petasan dan Tawuran

Megapolitan
Belasan Taruna Jadi Saksi dalam Prarekonstruksi Kasus Tewasnya Junior STIP

Belasan Taruna Jadi Saksi dalam Prarekonstruksi Kasus Tewasnya Junior STIP

Megapolitan
Polisi Tangkap Lebih dari 1 Orang Terkait Pengeroyokan Mahasiswa di Tangsel

Polisi Tangkap Lebih dari 1 Orang Terkait Pengeroyokan Mahasiswa di Tangsel

Megapolitan
RTH Tubagus Angke Dirapikan, Pedagang Minuman Harap Bisa Tetap Mangkal

RTH Tubagus Angke Dirapikan, Pedagang Minuman Harap Bisa Tetap Mangkal

Megapolitan
Prarekonstruksi Kasus Penganiayaan Taruna STIP Digelar hingga 4 Jam

Prarekonstruksi Kasus Penganiayaan Taruna STIP Digelar hingga 4 Jam

Megapolitan
Masih Bonyok, Maling Motor di Tebet Belum Bisa Diperiksa Polisi

Masih Bonyok, Maling Motor di Tebet Belum Bisa Diperiksa Polisi

Megapolitan
Cegah Prostitusi, RTH Tubagus Angke Kini Dipasangi Lampu Sorot

Cegah Prostitusi, RTH Tubagus Angke Kini Dipasangi Lampu Sorot

Megapolitan
Balita yang Jasadnya Ditemukan di Selokan Matraman Tewas karena Terperosok dan Terbawa Arus

Balita yang Jasadnya Ditemukan di Selokan Matraman Tewas karena Terperosok dan Terbawa Arus

Megapolitan
PDI-P Buka Penjaringan Cagub dan Cawagub Jakarta hingga 20 Mei 2024

PDI-P Buka Penjaringan Cagub dan Cawagub Jakarta hingga 20 Mei 2024

Megapolitan
Kuota Haji Kota Tangsel Capai 1.242 Jemaah, Pemberangkatan Dibagi 2 Gelombang

Kuota Haji Kota Tangsel Capai 1.242 Jemaah, Pemberangkatan Dibagi 2 Gelombang

Megapolitan
Paniknya Mahasiswa di Tangsel, Kontrakan Digeruduk Warga saat Sedang Beribadah

Paniknya Mahasiswa di Tangsel, Kontrakan Digeruduk Warga saat Sedang Beribadah

Megapolitan
Jasad Balita Tersangkut di Selokan Matraman, Orangtua Sempat Lapor Kehilangan

Jasad Balita Tersangkut di Selokan Matraman, Orangtua Sempat Lapor Kehilangan

Megapolitan
Jasad Balita di Matraman Ditemukan Warga Saat Bersihkan Selokan, Ternyata Sudah 3 Hari Hilang

Jasad Balita di Matraman Ditemukan Warga Saat Bersihkan Selokan, Ternyata Sudah 3 Hari Hilang

Megapolitan
Polisi Ungkap Penyebab Mahasiswa di Tangsel Bertikai dengan Warga Saat Beribadah

Polisi Ungkap Penyebab Mahasiswa di Tangsel Bertikai dengan Warga Saat Beribadah

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com