Sabtu, 20 September 2014

News / Megapolitan

Unjuk Rasa

Penjual Pulsa Protes Sistem "Hard Cluster"

Kamis, 2 Februari 2012 | 11:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekitar 80 orang pedagang pulsa mendatangi kantor Telkomsel di depan Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (2/2/2012) pagi. Mereka berunjuk rasa karena protes akan penerapan sistem hard cluster yang dinilai telah merugikan, bahkan mematikan bisnis pedagang pulsa eceran.

Wakil Ketua Paguyuban Pedagang Pulsa Indonesia, Poltak Silaen, mengatakan, keuntungan pedagang pulsa eceran menurun drastis pasca sistem hard cluster diterapkan Telkomsel pada tahun 2011. Sistem cluster yakni pembatasan penjualan pulsa elektrik yang hanya mencakup dalam satu wilayah sehingga pedagang pulsa tidak bisa menjual pulsa elektrik ke wilayah lain.

"Sistem cluster ini membatasi bisnis kami. Yang awalnya bisa mentransfer pulsa ke luar Jakarta, semenjak Telkomsel menerapkan sistem cluster, hal ini tidak bisa dilakukan lagi. Kami pedagang kecil sangat dirugikan sistem ini," ungkap Poltak, Kamis (2/2/2012), saat dijumpai di lokasi unjuk rasa.

Poltak menuturkan, sebenarnya tidak hanya Telkomsel yang menerapkan sistem cluster, tetapi juga XL. Hanya saja, Telkomsel memiliki jumlah pelanggan lebih besar dari operator seluler lainnya sehingga berdampak cukup signifikan bagi para pedagang kecil ini.

Para pedagang pulsa eceran ini bahkan semakin dirugikan setelah Telkomsel mengatakan akan menerapkan sistem hard cluster dengan ruang lingkup penjualan pulsa yang lebih sempit lagi. "Hard cluster ini hanya bisa menjual pulsa dengan lokasi ponselnya di satu kecamatan saja. Di luar itu sudah tidak bisa lagi," kata Silaen.

Sistem hard cluster ini mulai diterapkan Telkomsel pada awal tahun 2012 ini. Silaen mencatat, sejak penerapan sistem cluster dilakukan pada tahun 2011, keuntungan para pedagang kecil ini per bulan hanya mencapai 30 persen. Padahal, sebelum adanya pembatasan penjualan, para pedagang pulsa bisa mencapai keuntungan lebih dari 100 persen. Jika dulu transaksi bisa mencapai 500 transaksi per hari, kini jumlah transaksi berkurang hingga 50-80 transaksi per hari.

"Jumlah karyawan saya yang awalnya ada lima orang sekarang sudah tidak mampu lagi memenuhi biaya operasional sehari-hari sehingga tinggal tiga orang," kata Silaen.

Selain itu, banyak pula pedagang pulsa yang akhirnya gulung tikar karena tak lagi mampu menutupi biaya operasional bisnisnya. Belum lagi ditambah persaingan dengan modern channel, seperti minimarket, bank, dan supermarket yang bisa menjual tanpa batas wilayah.

Silaen berharap agar para operator seluler memperhatikan bisnis pulsa di tingkat bawah. Pasalnya, yang paling dekat dan menjadi ujung tombak bisnis operator seluler itu sendiri adalah para penjual pulsa eceran.

"Kami ini pedagang kecil. Hidup kami bertumpu pada berjualan pulsa. Kami berharap Telkomsel dan operator lain memperhatikan bahwa kami ini yang paling depan menjual barang mereka," kata Silaen.


Penulis: Sabrina Asril
Editor : Hertanto Soebijoto