Kamis, 24 April 2014

News / Megapolitan

Munarman: Yang "Nolak" FPI Suka Maksiat

Jumat, 17 Februari 2012 | 11:42 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com — Juru bicara organisasi massa Front Pembela Islam (FPI), Munarman, menuding bahwa berbagai pihak yang menolak FPI selama ini lantaran tidak senang dengan langkah FPI memberantas kemaksiatan dan korupsi.

"Yang tidak suka FPI pasti orang yang suka maksiat. Contohnya, orang yang demo (FPI) di HI (Bundaran Hotel Indonesia). Itu banci, homo, lesbi. Nggak ada orang yang waras. Atau koruptor," kata Munarman saat diskusi "Manfaat dan Mudharat Ormas" di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (17/2/2012).

Ikut dalam diskusi, sosiolog Universitas Indonesia, Tamrin Amal Tomagola; Wakil Ketua Komite III DPD Muh Syibli Sahabuddin; anggota DPD Kalimantan Selatan, Sofwat Hadi; serta Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik Kementerian Dalam Negeri Tanribali Lamo.

Munarman mengklaim kedatangan FPI ke Kalimantan Tengah (Kalteng) lantaran terdapat aduan dari masyarakat adat di Kabupaten Seruyan, Kalteng, terkait penyerobotan tanah oleh pemerintah daerah. Menurut Munarman, masyarakat setempat diintimidasi.

"FPI datang ke situ sekaligus acara Maulid Nabi dan pelantikan pengurus FPI. Kecium rencana ini. Ada yang membocorkan karena jaringannya kuat. Pemerintah di sana mafia. Di situlah diadakan rencana penolakan seolah-olah FPI melakukan kekerasan," ucap dia.

Sementara itu, Tamrin mengatakan, setiap konflik jangan diselesaikan dengan kekerasan, tetapi dengan cara-cara demokratis, yakni dialog hingga mencapai kesepakatan.

"Almarhum Munir katakan, seluruh sejarah kemanusiaan adalah sejarah peradaban tentang bagaimana mengelola kekerasan. Pada saat kita gagal mengelola kekerasan, kita gunakan kekerasan, pada saat itu peradaban lenyap dari muka bumi. Jadi, yang tidak disukai di kehidupan bukan konflik itu sendiri, melainkan konflik yang diselesaikan dengan kekerasan," ucap Tamrin.


Penulis: Sandro Gatra
Editor : A. Wisnubrata